Merasa Seperti Sampah dan Bagian dari Sampah Masyarakat? Saatnya Berfilosofi

dawuh guru

Sebagaimana orang-orang saat tetimpa “quarter life crisis”, saya merasa bahwa hidup ini begitu gelap. Meski mata saya terbuka dan tetap makan, minum, juga ke wc, lalu tiba-tiba mengantuk di sana, tetap saja saya hanya merasa hampa saat melakukannya. Bahkan beberapa kali saya naik motor yang niatnya hendak membeli makanan, pada akhirnya malah cuma muter-muter di jalan yang sama —dan tanpa keinginan memperlambat laju motor sedikitpun.

Saya merasa hidup saya tidak lebih dari sampah masyarakat. Perasaan tidak berguna selalu menggelayuti di setiap saat dan setiap waktu. Tak ingin berlarut-larut, saya mencoba menenangkan diri dengan mulai bertanya: jika sudah menjadi sampah masyarakat seperti ini, tidak adakah yang bisa saya lakukan?

Saya mulai mengembara dalam imajinasi dan dunia kilas balik. Rasa-rasanya, dulu saya baik-baik saja, enak-enak saja. Pendidikan saya juga tidak buruk-buruk amat, karena meskipun sempat berlarut-larut menjadi mahasiswa bangkotan yang nggak gaul, toh akhirnya bisa lulus juga. Ngaji pun baik-baik saja. Saya cukup dekat dengan guru ngaji saya, dan merasa senang setiap kali disuruh menguras bak mandi di ndalem beliau sebab setelah itu pasti saya dapat “sangu”, entah itu pisang, roti, wajik, arem-arem, sampai uang jajan.

Setelah saya renungi, persoalan hampa yang saya rasakan ini ternyata cukup sederhana (terutama menurut sebagian orang), yatu saya tidak kunjung menemukan pekerjaan, sementara untuk tetap meminta kiriman dari orang tua, rasanya berat sekali. “Apa jadinya saya yang sudah lulus sarjana kok masih minta kiriman orang tua, padahal tujuan utama saya kuliah ya agar mampu menaikkan kondisi ekonomi keluarga yang nisbi memprihatinkan?”

Lalu saya kembali bertanya: sebagai sampah masyarakat, adakah makna eksistensial yang bisa saya beri untuk diri saya sendiri?

Jika bercermin dari es teh yang ada di hadapan saya (saat ini ditulis), maka ada dua hal penting di sana: gelas dan sedotan. Keduanya sama-sama digunakan. Tetapi, sedotan akan menjadi sampah, karena sudah tidak dibutuhkan. Sementara gelas tidak menjadi sampah, karena setelah dicuci bisa digunakan kembali.

Apakah sedotan tidak bisa digunakan lagi? Bisa, kalau si pemungut cukup berbudaya. Ya, sedotan itu akan dimasukkannya ke tempat sampah anorganik, khususnya sampah plastik. Dengan begitu, ia bisa lekas didaur ulang. Tetapi kalau si pemungut seenaknya sendiri, maka niscaya sedotan akan dibuang sembarangan.

Apakah jika sembarangan tidak bisa digunakan lagi? Bisa, ia bisa terurai secara alami, tapi butuh waktu bertahun-tahun, bahkan konon ada yang bilang sampai puluhan tahun.

Nasib saya sebagai sampah masyarakat sepertinya mirip sedotan itu. Saya bisa saja digunakan kembali selama berada di tempat sampah khusus plastik. Tetapi jika saya menyandarkannya pada proses alamiah, tentu akan butuh waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Maukah saya menunggu dapat pekerjaan secara alamiah begitu saja, misalnya tiba-tiba ada orang menawari pekerjaan dengan gaji bagus dan tanpa seleksi, tetapi datangnya entah kapan yang mungkin butuh waktu bertahun-tahun?

Tentu tidak. Mungkin saya keburu ingin mengakhiri petualangan di dunia ini seandainya menahan tekanan keadaan seberat itu dan selama itu.

Dari contoh sedotan sebagai sampah, dapat saya katakan bahwa mungkin sebenarnya yang dinamakan sampah itu tidak ada. Termasuk sampah masyarakat, mungkin ia sepatutnya hanya berhenti di “bullying” yang bersembunyi sebagai sebuah jokes saja. Bullying dalam rangka memotivasi, atau semacam ejekan yang tidak menimbulkan kebencian sebab dilakukan orang terdekatnya sendiri. Sebab paling utama tentu saja pada hakikatnya ia memang tidak ada.

Kata “sampah” ada hanya untuk menyimbolkan sebuah siklus yang terhenti di tengah jalan. Sedotan plastik yang terbuang itu, ia menjadi sampah saat siklusnya untuk menjadi daur ulang terhenti di tengah jalan.

Karena siklus terhenti, ia juga bisa disebut berada di posisi nanggung. Dibilang padahal bentuknya tidak beda dari sedotan baru tapi nyatanya memang habis dipakai, dibilang tidak berguna juga kurang tepat karena sebenarnya masih bisa digunakan.

Sama, layaknya sampah masyarakat. Ia ada karena selain siklus kehidupannya yang terjeda di tengah jalan, juga berada posisi nanggung.

Itu berarti termasuk saya —yang berada pada posisi nanggung. Dibilang sarjana tetapi tidak punya informasi atau akses untuk melakukan profesi di bidang terkait, dibilang pengangguran nggak berguna juga sebenarnya tidak juga, karena sesungguhnya masih ada skill (dalam bidangnya) yang bisa “digunakan” atau dimanfaatkan atau diberdayakan.

Jadi, dari pergulatan batin saya yang cukup njelimet itu, filosofi sampah dan sampah masyarakat menurut saya, definisinya adalah ia ada, atau muncul, barangkali, karena efek dari ketimpangan kelas ekonomi dan perputaran arus informasi yang belum sehat. Dalam konteks yang saya alami, itu masih terjadi negeri tercinta ini. Semoga ke depannya ekosistem perputaran akses dan informasi di tanah air “kepingan surga” ini bisa lebih baik lagi. Aamin.

Tetap semangat dan yakin: Hubbul wathon minal iman!

***

(Abdurrahman Jtk, Santri Kalong)

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *