Menyelami Dunia Spiritualitas Mbah Mutamakkin

Sebuah Tradisi

Malam itu langit kurang bersahabat, bulan masih enggan menampakkan dirinya secara utuh, sementara bintang – bintang entah kemana perginya, tidak ada satupun yang tampak. Aku berjalan menelusuri jalan melewati gang – gang kecil untuk menuju sebuah kiblat spiritual yang sangat di gandrungi oleh Masyarakat Kajen, dan sekaligus kebanggan karena desa Kajen menjadi persinggahan terakhir bagi KH. Ah. Mutamakin. Selanjutnya akan di sebut singkat, Mbah Mutamakin.

Setelelah sampai pada tujuanku, aku melihat banyak mahluk Allah yang bersimpuh di depan makam, banyak aktivitas spiritual yang di lakukan oleh mereka, ada yang ngaji al – Qur’an, baca yasin dan tahlil, ada juga yang hanya sekedar wiridan, dan sebagian lain menghafal kitab babon Alfiyah Ibn Malik. Meskipun sudah sangat larut malam. Mereka masih terlihat semangat bahkan semakin asyik dengan kegiatannya tersebut.

Kulangkahkan kakiku untuk mencari tempat yang kosong, aku sebarkan pandanganku ke seluruh penjuru, dan aku menemukan tempat yang cocok. Tempat itu di tengah – tengah berdekatan dengan kotak amal dan pintu utama maqom. Seperti biasa tujuan utamaku di tempat suci ini adalah untuk menyegarkan hati dan pikiran. Menyegarkan kembali jiwa – jiwa spiritualitas yang semakin meredup, dan mencari kedamain untuk mendalami sebuah hidup yang lebih hakiki. Di sinilah tempat yang paling berpengaruh buatku. Tempat yang paling nyaman dalam hidupku. Ada semacam ketenangan batin yang tidak bisa di uangkapkan dengan kata dan bahasa, barangkali inilah kenikmatan spiritual yang sering menjadi buruan banyak orang. Demikian halnya dengan orang – orang yang bersimpuh di tempat suci ini, mereka pasti merasakan hal yang sama sperti yang aku alami. Karena itu, tidak heran mereka akan berjam jam , bahkan ada yang berhari – hari bahkan berbulan – bulan untuk melakukan meditasi di maqbarah ini.

Kesuniyan pada malam itu menambah kehusyukanku dan beberapa manusia yang ada di seklilingku, ku ucapkan hadlroh kepada kanjeng Nabi sang pemilik syafa’at sebagai pembuka, lalu aku lanjutkan kepada panglima wali di semesta ini, Syaikh Abdul Qodir Al – Jaylani, kemudian baru aku sebut sang Mujaddid kajen ini, Mbah Mutamakin beserta para duriyyah, gurunya, beserta para muridnya. Lalu, aku memulai membaca surat – demi surat dalam Al – Qur’an. Tradisi ini menjadi semacam hobi spiritual yang menyejukkan. Setelah beberapa jam kulalui, aku langsung mencari tempat lain untuk hanya sekdar beristirahat, merokok, sambil merenung tentang arti hidup dan kehidupan ini. terkadang aku mencoba untuk membuka tabir besar, magnet besar yang selama ini menjadi kekuatan maqbarah ini, yaitu Spiritualitas dan suluk Mbh Mutamakin.

Di sela – sela aku beristirahat di emeperan maqam, ada satu renungan yang pasti menjadi bahan istirahatku, tentang bagaimana bisa maqabarah in tidak pernah sepi dari para zairin – zairat, hampir setiap aku mengunjungi tempat ini, pasti ada zairin zairat yang eksis di tempat ini, sekan – akan mereka tidak mengenal waktu, mulai pagi buta sampai malam yang gelap gulita, tidak kurang 15– 30 peziarah. Belum lagi ketika pada malam jum’at, tempat ini akan di banjiri oleh ratusan bahkan ribuan manusia dari berbagai penjuru,  mereka berwarna warni, dari mulai Kyai besar, sampai orang abangan, dari mulai masyarakat pribumi sampai dengan pengelana spiritual. Semua tumpah dalam satu magnet spiritual yang di kenal dengan Mbah Mutamakin ini.

 

Kekuatan Spiritual Mbah Mutamakin

Mbah Mutamakin adalah berkah bagi desa Kajen, itulah yang aku rasakan selama ini, beliau tidak hanya merombak desa kajen secara sosiologis, tetapi juga memebangun generasi dan masyarakat agamis, hampir seluruh pemangku pendidikan di desa ini mempunyai Gen, atau jalur nasab kepada Mbah Mutamakin. Terutama yang paling dekat adalah Bani Nawawi dan Bani Abdissalam. Dalam sebuah cerita yang masih aku ingat dari para leluhur. Mbah mutamakin adalah sosok yang mencintai tirakat dalam hidupnya. Beliau mungkin di lahirkan menjadi mahluk spiritual yang sempurna. Bahkan suluk – suluknya pun yang paling masyhur adalah dimensi spiritualitasnya dari pada syaria’ahnya. Hal ini terlihat dalam beberpa karya – tulisnya, (sekarang yang mempunyai karya – tulis aslinya adalah Mbah Muadz Tohir, dan Mbh Husein Jabbar), dalam salah satu penggalan yang pernah aku baca adalah, beliau mengibaratkan shalat sebagai baju yang harus di ganti setiap hari.  Karena baju itu merupakan penutup bagi badan yang kotor, dan mampu menunjukkan kualitas seseorang, semakin bagus dan bersih bajunya, maka semakin baik dan indah kepribadiannya, ini menunjukkan nuansa spiritualitas yang kental, di mana Mbh Mutamakin menjelaskan syariat pun tidak lepas dengan analogi – analogi yang beraroma tasawuf.

Dalam penuturan yang lain, suluk yang paling menonjol dari beliau adalah Wihdatul Wujud, meminjam istilah dari Syaikh Siti Jenar manunggaling kawulaning gusti, hal ini menjadi bukti kuat bahwa beliau sangat kental dengan dunia spiritualitas, tetapi sampai sekarang pun suluk ini masih menjadi perdebatan banyak leluhur, apakah mungkin ini jalan spiritualitas yang beliau tempuh ? wallahu A’lam. Tidak ada yang tahu kebenarannya.

Inilah ziarah intelektualku sekaligus spiritualku yang sudah mentradisi, aku lebih suka ketika berziarah tidak hanya sekedar membaca ayat demi ayat saja, hal itu tidak akan cukup bagiku, ziarah itu akan lebih khusyuk ketika kita juga mencoba berziarah  ke masa lalu, masa di mana tokoh yang kita ziarahi hidup di zaman itu. Atau dengan mengaji lagi tentang teks – teks yang pernah di karang oleh tokoh tersebut. Hal ini akan lebih bermakna, dan kita tidak akan terjebak pada tumpukan – batu yang hanya ada di depan kita, melainkan di dalam batu tersebut menyimpan sejarah, kekuatan, suluk, doktrin, dan kekuatan spiritual yang luar biasa untuk kita hikmati bersama.

Kesadaranku tersentak setelah mendengar adzan subuh yang mendayu – ndayu dari masjid kajen, saatnya memenuhi panggilan Shalat, dengan berjalan pelan aku mencari sandal jepitku, lalu sebelum keluar pintu, seperti biasa aku berpamitan dengan sang maha guru spiritual.

Assalamu’alaikum ya waliyyuna.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *