Menulis, Tradisi Intelektual Santri

Oleh: Hermansyah Kahir

Belajar di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan (2004-2006)

Sejak kelas satu Madrasah Tsanawiyah (MTs), saya sudah baca buku-buku dengan tema yang cukup berat. Sebut saja buku karya Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Majdid, Zuhairi Misrawi dan Ulil Abshar Abdalla. Yang membuat saya takjub, ternyata mereka adalah penulis jebolan pesantren. Pasalnya, sedari kecil saya beranggapan bahwa lulusan pesantren hanya bisa jadi ulama, ustadz atau penceramah.

Ketika nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, ketakjuban saya bertambah setelah menyaksikan betapa banyak buku yang ditulis oleh penulis yang lahir dari rahim pesantren. Tulisan mereka cukup beragam; dari puisi, cerpen, novel hingga ilmiah populer. Satu hal yang patut kita syukuri, karya tulis mereka bukan saja merambah ranah nasional melainkan juga internasional. Apalagi di zaman internet seperti sekarang ini, karya-karya mereka dapat diakses oleh semua kalangan.

Kehadiran para santri yang memliki kemampuan menulis akan menjadi pencerah, pembaharu dan agen perubahan (agent of change). Dengan ide briliannya, mereka bisa berdakwah dan menyebarkan benih-benih kebaikan seluas-luasnya kepada masyarakat.

Kemampuan literasi (baca-tulis) mereka sudah terasah sejak dini melalui gerakan atau komunitas-komunitas yang memang sudah dipersiapkan oleh pihak pesantren. Para santri diberikan kebebasan untuk mengasah kreativitas dan nalar kritisnya. Wadah ini diharapkan menjadi jalan bagi lahirnya penulis-penulis baru dari pesantren.

Media Perjuangan

Era revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan besar-besaran (disrupsi) dalam segala aspek kehidupan dan menyebabkan hampir seluruh aktivitas sehari-sehari kita tidak dapat dilepaskan dengan yang namanya teknologi digital.

Efek lain lain dari perkembangan teknologi adalah terjadinya keterbukaan informasi sehingga memudahkan kita mengakses berbagai informasi melalui internet ataupun media sosial. Hal ini tentu saja menjadi peluang dan tantangan bagi para santri dalam berdakwah.

Keterampilan menulis bisa menjadi media perjuangan para santri dalam menyuarakan kebenaran dan menyebarkan keindahan Islam melalui karya tulis, terutama di era teknologi digital yang seringkali menyuguhkan berita-berita bohong dan paham yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri. Dalam hal ini, santri yang memiliki kedalaman ilmu agama memiliki peran strategis untuk menghalau paham-paham keagamaan yang radikal dan intoleran.

Para santri tidak boleh berdiam diri menyaksikan problematika sosial. Mereka perlu bertindak dan melawan siapa saja yang ingin merusak keutuhan NKRI melalui tulisan yang dapat mencerahkan umat. Era internet menjadi momentum bagi santri untuk berdakwah melalui tulisan. Santri harus tampil di garda terdepan dalam menyampaikan pesan-pesan Islam rahmatan lil alamin lewat teknologi digital.

Kehadiran santri di ranah dakwah digital bisa menangkal narasi-narasi menyesatkan. Karenanya, kegiatan menulis yang merupakan media perjuangan ulama-ulama terdahulu perlu dilanjutkan oleh para santri.

Untuk itu, kita membutuhkan peran pondok pesantren dalam mendorong para santri agar terus istiqamah menulis. Pesantren perlu menyediakan ruang bagi komunitas-komunitas kepenulisan, mengadakan lomba kepenulisan antarsantri, menggerakkan bubaya membaca dan mengadakan diskusi untuk melatih daya krirtis para santri.

Pihak pondok pesantren juga perlu menyediakan media publikasi bagi santri yang karya tulisnya sudah dimuat di media massa. Langkah ini penting sebagai apresiasi bagi sang penulis dan diharapkan menjadi motivasi bagi santri-santri lain agar tetap semangat berlatih menulis.

Kita berharap kepada pihak pesantren agar tidak berhenti membekali para santrinya dengan keterampilan menulis. Membaca dan menulis perlu dikembangkan di berbagai pesantren sebagai tradisi intelektual para ulama terdahulu. Melalui karya tulis, seorang santri dituntut untuk memberikan kontribusi konkret bagi kemajuan agama dan bangsa.

 

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.