Menjadi Santri Pintar atau Santri Barokah?

Sumber gambar https://www.jawapos.com

Mencari ilmu adalah sebuah keharusan bagi setiap muslim. Baik dari kalangan remaja, dewasa, maupun orang tua. Sesuai dengan hadis Nabi SAW: “Tuntutlah ilmu semenjak dari buaian (masih kecil) hingga liang lahat (meninggal).”

Banyak orang yang niatnya kurang tepat dalam mencari ilmu. Karena kesalahan niat ini banyak orang yang hanya mendapatkankecerdasan dan kepintaran, namun tidak dengan keberkahan ilmu.

Contoh bentuk kesalahan niat dalam mencari ilmu adalah ingin merasa pintar, hebat, dan dihargai orang lain. Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al Ghazali dalam muqaddimahnya di kitab Bidayatul Hidayah menuliskan: “Jika kamu mencari ilmu dengan tujuan bersaing agar lebih unggul dari yang lain, dihormati orang, dan mencari dunia, maka sejatinya kamu sedang bergegas untuk merobohkan agamamu, merusak dirimu, dan menjuat akhiratmu dengan duniamu.”

Orang seperti ini sangatlah merugi, karena sejatinya ia tidak mendapatkan apa-apa, kecuali hanya jerih payah yang terbuang sia-sia.

Dalam proses mencari ilmu semestinya santri tidak berorientasi pada kepintaran dan kematangan dalam materi pelajaran saja. Lebih dari itu, ridha guru dan Allah lah yang harus dicari. Dengan demikian santri akan mendapatkan keberkahan ilmu, yang kemudian akan menjadi bekal yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Seringkali para santri kurang purna dalam mempelajari biografi para kyai. Biasanya  mereka hanya terfokus pada riwayat ngaji (pendidikan) dan karya-karya sang kyai. Semisal hafalan Quran, hadis, nadzom alfiyah hingga juman, penguasaan terhadap berbagai fan (cabang) dalam kitab kuning, serta kitab-kitab karangan kyai tersebut.

Padahal ada hal yang lebih dan sangat berharga untuk dipelajari. Yaitu bagaimana perilaku sang kyai terhadap gurunya, bagaimana khidmah (pengabdian) beliau tehadap gurunya, serta kerendahan hati sang kyai dalam proses mencari ilmu.

Hal ini merupakan sirr (rahasia) yang seringkali dianggap sepele. Banyak terjadi di kalangan pesantren bahwa proses khidmah dan tawadlu’ santri kepada gurunya lah yang akan mengantarkannya pada keberkahan ilmu, yang nantinya akan berdampak positif membawa keberkahan hidup.

Ada santri yang pada saat mondok ia hanya mencangkul dan merawat sawah milik kyai. Ada pula santri yang memiliki kesempatan lebih untuk mendalami materi-materi yang ada di pesantren, hingga akhirnya ia menjadi pintar, bahkan terkadang kepintarannya melebihi ustadz-ustadz dan kyai yang mengajarnya. Secara hitungan matematis tipe santri kedua lah yang akan sukses untuk membangun pondok saat ia lulus. Karena ia jauh lebih pintar dibanding tipe santri yang pertama.

Namun itu hanyalah hitungan matematis. Nyatanya banyak kisah santri tipe pertama justru sukses membangun pondok, tidak dengan santri tipe kedua yang terhitung lebih pintar. Hal ini karena ada rahasia besar dibalik keberkahan santri tipe pertama saat khidmah kepada kyai. Inilah yang menjadi sebab ia bisa mendirikan podok dan memiliki beberapa santri. Dan santri tipe kedua sangat rawan terjangkit penyakit seperti yang diutarakan oleh Imam Al Ghazali di paragraph awal tadi. Bahkan tak jarang pula ia mendebat guru bahkan kyainya karena ia merasa pintar. Itulah yang menyebabkan keberkahan ilmunya berkurang.

Ada cerita menarik dari pulau garam (Madura). Syaikhona KHolil Bangkalan pernah memberikan izin kepada tiga santrinya untuk berdo’a sesuai hajat masing-masing dengan wasilah (perantara) beliau. Dua santri pertama meminta agar kaya raya. Dan do’a itu terkabul, kelak kedua santri ini menjadi kaya raya. Namun kekayaannya habis bebarengan dengan meninggalnya.

Kemudian satu santri meminta ilmu yang manfaat. Kelak santri ini mendirikan pondok pesantren Lirboyo yang santrinya tersebar se antero Nusantara. Beliau adalah Mbah Manab (KH. Abdul Karim) pendiri pondok pesantren Lirboyo.

 

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *