Menimbang Fenomena Santri Tutup Telinga saat Dengar Musik dengan Kaidah Ushul Fiqh

Oleh: Muhamad Firdaus*

Beberapa waktu yang lalu jagat dunia maya Indonesia sempat dihebohkan dengan video viral yang menampilkan beberapa santri yang menutup telinganya karena mendengarkan musik. Alasan mereka menutup telingan karena itu dikhawatirkan akan mengganggu hafalan al-Qur’an mereka.

Pilihan mereka untuk menutup telinga di saat mendengarkan musik yang dianggap mereka tidak layak untuk didengar dan bisa merusak hafalan mereka, apakah itu merupakan sesuatu yang dibenarkan atau sebaliknya, justru disalahkan?

Dua Pilihan Dilematis

Santri-santri tersebut berada di posisi dilematis di mana pilihan “mendengar” dan juga pilihan “menutup telinga” mempunyai resiko masing-masing dan keduanya tidak bisa dihindari. Para santri dipaksa untuk memilih keduanya dengan kondisi pemahaman kehidupan yang masih dangkal hanya berpegang pada dawuh guru semata.

Pertama, pilihan untuk menutup telinga mempunyai resiko bakal dicibir pihak penyelenggara vaksin dan orang-orang yang tidak suka dengan sikap mereka, dan itu faktanya terbukti terjadi. Namun, harapannya hafalannya akan tetap terjaga, meskipun tidak ada yang menjamin ketika mereka menutup telinga hafalannya akan utuh, sekali lagi tidak ada yang menjamin.

Kedua, pilihan untuk tetap mendengarkan. Tentu dengan resiko bakal hafalannya akan rusak atau hilang tapi sebagai imbalannya kemungkinan besar orang-orang di sekitar tidak akan tersinggung ataupun mencibir mereka.

Berbekal penjelasan guru dan beberapa ustad yang melarang bagi seorang yang sedang menghafalkan al-Qur’an untuk mendengarkan musik karena bisa membuyarkan hafalan, mereka secara ijmak bermufakat untuk menutup telinga mereka. Tidak ada keraguan dan mereka spontanitas melakukannya begitu saja.

Dalam hal ini saya tidak akan memaparkan hukum mendengarkan musik ataupun dalil apapun. Pro-kontra tentang itu sudah banyak dibahas oleh beberapa orang. Saya hanya akan mencoba menampilkan kaidah fiqh—tentu saja bukan Qawa’id Ushuliyah sehingga tidak bisa beristinbath dengan hanya kaidah ini:

إذا جتمع الضرر فعليكم بأخفّ الضّررين

“Jika ada dua mudarat maka wajib mengambil mudarat yang paling ringan di antara keduanya”. kaidah ini biasanya dicontohkan dengan Zaid yang sedang mengendarai motor kemudian diberikan pilihan untuk menabrak Umar yang notabenenya manusia atau kambing yang hanya hewan biasa. Tentu saja Zaid akan memilih menabrakkan dirinya kepada kambing itu karena mudarat yang didapat akan lebih kecil. Tujuan saya hanya ingin memperluas pandangan kita terhadap fenomena ini melalui kaidah fiqh ini.

Kita bisa mengkategorikan dua resiko di atas sebagai dua mudarat yang berkumpul dalam satu kondisi. Mudarat yang pertama membuat tersinggung beberapa orang yang tidak suka dengan aksi tutup telinga ini, dan itu melibatkan banyak orang serta haqqul adami.

Mudarat kedua, mereka akan berpotensi kehilangan atau rusaknya hafalan mereka. Kekhawatiran rusak atau hilangnya hafalan yang selama ini sudah mereka jaga sangatlah besar. Mereka tidak memperdulikan apapun selain prinsip untuk tetap menjaga hafalan.

Dilihat dari mudarat yang pertama itu jelas berhubungan dengan haqqul adami atau aspek eksternal dari santri-santri itu. Salah satu urusan yang menyebalkan di akhirat adalah haqqul adami tersebut. Sedangkan mudarat yang kedua adalah hilang atau rusaknya hafalan yang hanya meliputi sisi internal dari santri-santri itu sendiri.

Maka mudarat yang pertama dikatakan lebih besar daripada mudarat yang kedua. Di sisi lain, kalaupun memang ketika mendengarkan musik itu bisa menghilangkan hafalan maka hal itu bukanlah masalah besar, maksudnya mereka para santri tinggal me-muroja’ah-nya lagi dan lagi. Toh, sudah menjadi tugas mereka untuk muroja’ah setiap detik sampai mati. Apa susahnya untuk muroja’ah kembali jika dibandingkan dengan urusan haqqul adami yang merepotkan itu, jika muroja’ah sendiri sudah menjadi kewajiban mereka.

Anggap saja itu sebuah ujian bagi penghafal al-Qur’an, perlu diketahui ujian bagi penghafal al-Qur’an itu tidak main-main, bahkan ada yang orang tuanya meninggal di saat ia sedang asyik menghafal dan harus tetap fokus.

Jadi sudah jelas bahwa mudarat yang dikatakan lebih besar adalah mudarat yang pertama, selain melibatkan pihak eksternal juga tak ada solusi khusus jika itu terjadi selain meminta maaf satu-satu (jika berbicara bersih demi akhirat).

Perihal Toleransi

Beberapa orang mungkin akan menanyakan, “Kenapa yang harus mengalah itu para santri? Padahal mereka sudah berusaha toleran dengan tidak meminta untuk mematikan musik, bersedia vaksin dan berkerumun”.  Memang demikian, mereka sudah berusaha toleran dengan pihak penyelenggara seharusnya mereka juga balas bertoleran kepada para santri itu, sederhananya begitu.

Tapi tidak bisa seperti itu, (1) Toleransi itu tidak ada batasannya, tidak bisa dihitung-hitung sedemikian rupa, apalagi sampai menuntut untuk balas bertoleran balik. Apakah sikap tolerannya itu tidak ikhlas?

(2) Para santri jelas sebagai pihak yang harus mengalah (terkesan merugikan memang). Kenapa demikian, karena ketika mereka sudah menerjunkan diri untuk menghafal al-Qur’an artinya ia sudah siap lahir batin, kondisi kejiwaan dan sikap. Mereka memikul beban moral besar, dituntut untuk bukan hanya sekedar hafal namun juga melakukan apa yang diingini oleh al-Qur’an itu sendiri. Jadi tentu mereka harus bersedia lebih toleransi dari pada pihak lain.

Lebih dari itu, jika dibandingkan para penyelenggara vaksin atau orang-orang yang mencibir serta tersinggung dengan perlakukan para santri itu sangatlah berbeda. Mereka orang-orang awam yang imannya bisa dikatakan (seharusnya) lebih rendah dari pada santri-santri tersebut. Sehingga pemahaman untuk sikap lebih toleran itu dangkal, maka wajar saja jika mereka lebih egois (dengan tidak mau mematikan musik misalnya). Tidak ada yang bisa menafikan kemakluman itu. Sedangkan para santri mereka lebih dari itu semua. Bukannya doa familiar nabi seringkali didengar:

اللهم اهد قومي فانهم لايعلمون

Maka seharusnya para santri malu jika mengingkan toleransi balik dari mereka, bukannya mereka seharusnya mengalah untuk lebih memilih mendengarkan, ciri toleransi yang paling simpel adalah mengalah. Memang dari awal posisi orang yang bertoleran itu selalu berada pada posisi berkorban dan ditekan. Tapi setidaknya pertimbangkan dua mudarat tadi.

Jika dikatakan, kenapa terkesan toleransi itu hanya pada non-muslim saja, sedangkan pada saudara semuslim sendiri bersikap tidak toleran?. Jawabannya adalah tidak pantas bagi seorang muslim untuk saling menuntut toleran antara satu dengan yang lainnya, ketika tuntutan toleran itu ada maka berarti ada hubungan yang tidak beres antara kedua muslim tersebut. Jika dia sudah selesai dengan dirinya sendiri maka tidak akan ada tuntutan toleransi, bahkan mereka akan saling rebutan untuk “siapa yang mengalah”.

Perlu digaris bawahi terkait dengan hafalan, bukan hanya dengan musik yang keliatan negatif bisa merusak hafalan, bahkan bisa jadi, dengan mereka menutup telinga dan membuat beberapa orang tersinggung itulah tanpa mereka sadari justru akan merusak hafalan mereka.

Peran Publik Figur

Memang video tersebut bisa viral juga berkat influencer yang ikut mengomentari fenomena tersebut. Ada salah satu tokoh publik figur yang disorot komentarnya dan dinilai sinis oleh beberapa orang, yaitu Deddy Corbuzier yang berkomentar “Mungkin mrk lagi pakai airpod…Terganggu.. Ye kaaaan”.

Nyatanya komentar tersebut berhasil menimbulkan kontroversi dikalangan muslim sendiri. Statusnya sebagai muallaf tentu saja bisa lahirkan stigma terhadapnya. Ditambah Deddy ini memiliki pengikut yang terbilang tidak sedikit, hampir di setiap podcats-nya saja selalu disimak jutaan orang.

Seyogyanya, siapapun publik figur itu bisa lebih bijak dan lebih berhati-hati dalam merespon suatu fenomena. Hal ini di karenakan apapun yang mereka ucapkan akan didengarkan banyak orang. Dalam konteks ini, kalaupun tidak setuju dengan fenomena tutup telinga tak perlu sampai berkomentar dengan nada sinis karena itu hanya akan memperkeruh suasana.

Semua sepakat jika apa yang dilakukan oleh influencer itu hanya memperkeruh dan memperburuk keadaan. Peran mereka sebagai orang yang banyak didengarkan oleh orang lain harusnya bersikap lebih bijak dan dewasa. Pada akhirnya banyak orang yang akan berpikiran kalau gagasan open minded dan smart people akan runtuh oleh komentar Deddy sendiri.

*Muhamad Firdaus (Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Peminat Kajian Tafsir)

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *