MENGGAPAI KEBERKAHAN DALAM PERNIKAHAN

Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan memberi berkah atasmu serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (H.R Abu Huroirah)

Disebutkan dalam Syarah Hisnul Muslim (2007:382) yang ditulis oleh Majdi bin Abdul Wahhab Al-Ahmad bahwa doa diatas senantiasa diucapkan oleh Rasulullah ketika memberi selamat kepada pasangan yang telah menikah. Karena dahulu orang-orang Arab biasa mendoakan orang yang baru menikah dengan ucapan, ”Semoga Anda diberi keharmonisan dan keturunan,” Lantas Rosulullah melarang ucapan itu karena mendoakan hadirnya keturunan yang tidak disertai dengan keberkahan justru akan menimbulkan kesengsaraan. Demikian juga kebahagiaan yang tidak dinaungi keberkahan juga akhirnya akan menjadi kebahagiaan semu.

Jika telisik lebih jauh, kata ”barakallah” dalam doa diatas terulang dua kali. Nasrudin dalam artikelnya (Rahasia Makna yang Tersembunyi di Balik Doa untuk Pengantin, 2017) menjelaskan bahwa kata barakallah yang pertama diikuti oleh kata lakuma yang menggunakan lam jar, memiliki makna manfaat, kebahagiaan, dan hal menyenangkan. Yang kedua, barakallah diikuti oleh kata alaikuma yang menyimpan makna suatu yang berat atau beban yang harus ditanggung. Kaitannya dalam perjalanan rumah tangga, maka masa-masa awal pernikahan adalah masa-masa yang menyenangkan, penuh dengan kebahagiaan, dan gairah. Namun dengan berjalannya waktu sifat asli dari masing-masing pribadi akan tampak dan jelas. Maka wajar jika masa-masa selanjutnya tidaklah selalu menyenangkan dan indah.

Dalam pernikahan ganjalan-ganjalan akan sering mewarnai, mulai dari persoalan ekonomi, keturunan, komitmen, dan rasa. Semua datang silih berganti menjelma dan menempa pasangan. Pepatah lama mengatakan, sebelum kita mengalahkan apapun, kita harus mampu mengalahkan diri kita sendiri. Pernikahan ibarat madrasah atau sekolah yang tidak ada wisudanya, namun banyak ujiannya.

Cara pandang kita dalam mengolah rasa sangat mempengaruhi bagaimana perjalanan ini mau dibingkai, ibarat kata menikah itu akan sangat menyenangkan jika kita berpikirnya demikian, namun bisa jadi sangat menyiksa ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi. Hal ini menjadi sangat wajar karena pernikahan adalah proses akulturasi dua isi kepala dan dua latar belakang keluarga yang berbeda.

Pola asuh orang tua dan lingkungan yang berbeda akan membentuk pribadi yang berbeda, anak-anak yang dididik dengan kasih sayang dan kebaikan akan tumbuh menjadi sosok suami atau istri yang penyayang. Anak-anak yang dididik dengan kemandirian dan keterbatasan ekonomi akan tumbuh menjadi suami dan istri pekerja keras dan memiliki sifat berhat-hati. Belum lagi, budaya, tradisi, dan kebiasaan keluarga yang berbeda menghasilkan karakter individu-individu yang berbeda.

Tak ayal, percik-percik perbedaan pasti akan muncul ketika dua isi kepala disatukan dalam sebuah komitmen seumur hidup. Gesekan pasti terjadi dalam proses menuju tersebut. Setiap insan mendamba bahagia dalam mahligai rumah tangga, namun persepsi kita mendefinisikan kata ”bahagia” terkadang memenjarakan nalar kita dalam sekat sekat yang kadang menjerumuskan kita. Dalam artian definisi bahagia bagi sebagian orang adalah melimpahnya perekonomian dan tingginya kedudukan pasangan. Namun tidak sedikit pasangan yang mendefinisikan kebahagiaan pernikahan adalah hadirnya keturunan, kesetiaan pasangan, dan penerimaan terhadap kekurangan masing-masing.

Jika disekolah formal kita diajarkan bagaimana menjadi guru, polisi, dokter, pelaut, petani, dan atribut-atribut lainnya sebelum profesi itu kita jalani. Maka, dalam pernikahan kita tidak pernah diajarkan secara praktis bagaimana menjadi seorang suami, istri, ayah, ibu, dan menantu. Seluruh proses itu tersebut secara natural kita jalani tanpa adanya jasa layanan proses trial dan error sebelumnya. Maka, yang bisa kita lakukan adalah ngangsu kaweruh atau menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari tuntunan agama kita.

Islam mengajarkan kepada kita bahwa pernikahan merupakan ibadah yang begitu suci dan mulia, sehingga digambarkan dengan kata mitsaaqan ghalizha, yaitu janji yang sangat agung. Lebih lanjut Rasulullah menjelaskan bahwa pernikahan adalah bagian dari cara menyempurnakan pelaksanaan ajaran agama sebagaimana diriwayatkan Baihaqi dari Anas bin Malik. “Apabila seseorang melaksanakan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separo agamanya. Maka, hendaklah dia menjaga separo yang lain dengan bertakwa kepada Allah.” Oleh karenanya sebagai seorang muslim kita harus memandang bahwa pernikahan tujuannya adalah keberkahan dan ketentraman.

Maka pondasi pernikahan memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang. Dalam bukunya “Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya”, A. Mudjab Mahalli menuturkan bahwa pernikahan ibarat membangun sebuah bangunan, dibutuhkan kemampuan dalam memilih mulai dari bahan bangunan, keindahan dan keanggunan, kenyamanan dan keramahan lingkungan, sampai dengan memilih perabot rumah tangga yang serasi, segalanya harus benar-benar diperhatikan. Bila tidak, bangunan yang indah lagi mewah itu hanya akan memberikan sejuta kekecewaan.

Oleh karenanya seorang muslim yang baik harus membekali diri dengan ilmu dan pemahaman yang baik sebelum melangkah kejenjang pernikahan, memperbaiki niat dengan memilih pendamping sesuai yang telah digariskan oleh syariat islam dan menjalani peran suami serta istri sesuai kaidah-kaidah agama agar tercipta keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah, dan warahmah.

BIOGRAFI SINGKAT PENULIS

Nurul Maghfiroh adalah ibu 2 balita yang baru tergerak menekuni dunia kepenulisan fiksi pada tahun 2020. Merupakan lulusan Magister Linguistik di Universitas Diponegoro Semarang dan saat ini sibuk sebagai Instruktur Bahasa Inggris di Upt Pengembangan Bahasa Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang dan Tutor Bahasa Inggris di FHISIP Universitas Terbuka (UT).  Teman-teman bisa menyapanya di akun Instagram  akun FB Nurul Maghfiroh.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *