Menganulir Kesepakatan dengan Kesepakatan

Tatkala dalam sebuah rapat sudah dicapai kata sepakat, kadangkala selang beberapa waktu ada situasi dan kondisi yang mengharuskan untuk menganulir kesepakatan.
Sebenarnya, mengingkari atau menyelisihi sebuah kesepakatan adalah sesuatu yang tidak dibenarkan, sebagaimana kaidah fiqih yang pernah dijelaskan KH. Ma’ruf Amin,
لا ينكر المجمع عليه و انما ينكر المختلف فيه
‘Tidak boleh mengingkari hasil kesepakatan, yang boleh diingkari adalah sesuatu yang belum disepakati atau masih diperawanan’.
Akan tetapi, Islam juga membenarkan adanya dispensasi (rukhsah) atau keringanan (takhfif).
Sebagaimana penjelasan KH. Sahal Mahfudz bahwa asbabut takhfif atau sebab-sebab yang membolehkan adanya keringanan atau dispensasi, antara lain: as-safar (bepergian), al-maradh (sakit), al-ikrah (keadaan dipaksa), an-nisyan (lupa), al-jahl (tidak tahu), al-‘usr wa ‘umumul balwa (kesulitan dan susah dihindari), an-naqsh (kurang).
Artinya, Islam itu memudahkan, memberikan keringanan, tidak kaku, dan tidak menyusahkan. Rasulullah bersabda,
يسّروا ولاتعسّروا
‘Permudahlah, jangan kau persulit’.
Sehingga, jika kondisinya menuntut adanya dispensasi dan kalau dipaksakan akan jadi memberatkan, maka syariat pun memberikan kemudahan. Kaidah fiqih menyebutkan,
المشقة تجلب التيسرير
‘Kesulitan menyebabkan adanya kemudahan’.
Termasuk sebuah kesepakatan dan keputusan, bisa berubah karena adanya situasi dan kondisi tertentu. Bahkan, hukum yang tidak tsawabit pun bisa berubah sebagaimana dijelaskan dalam sebuah kaidah fiqih,
لا ينكر تغيّر الأحكام بتغيّر الأزمان
‘Tidak bisa dipungkiri, hukum itu dapat berubah sesuai dengan berubahnya zaman’.
Hanya saja yang perlu diperhatikan, ketika dalam sebuah rapat atau musyawarah sudah sepakat untuk memutuskan suatu perkara. Maka, boleh saja mengubah hasil kesepakatan tersebut, tapi dengan syarat harus berdasarkan kesepakatan orang-orang yang terlibat dalam rapat tersebut.
Dengan kata lain, menganulir kesepakatan juga harus dengan kesepakatan. Tidak boleh seseorang menganulir kesepakatan secara sepihak. Hal ini untuk menghindari madharat berupa rusaknya persatuan dan egoisme kepemimpinan.
Sebab, Islam memang sedari awal mengajarkan persatuan, musyawarah, kerja sama, dan komunikasi yang baik. Jika segala sesuatunya diputuskan dengan musyawarah dan komunikasi yang baik, insyaallah hasilnya lebih melegakan semua pihak yang terlibat.
Banyumas, 11 Agustus 2020

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *