Mengail Hikmah dari Nasihat Seorang Anak Kecil Kepada Imam Abu Hanifah

Oleh: Ahmad Sugeng Riady

Ada banyak peristiwa di masa silam yang luput tidak diambil hikmahnya. Kalau pun ada, hanya beberapa yang dianggap sebagai peristiwa besar dan bersejarah. Padahal setiap peristiwa, meski kecil dan sederhana melulu disertai hikmah yang dapat digunakan untuk menyikapi problem-problem hari ini dan masa mendatang yang semakin kompleks.

Prototipe peristiwa kecil dan sederhana itu bisa ditemui dari kisah ulama yang namanya telah masyhur di mana-mana. Ulama kelahiran abad 7 M di Kufah, salah satu kota besar di Irak ini memiliki banyak karya yang tersebar luas dengan pengikut yang tidak sedikit. Ulama itu akrab disapa dengan Imam Abu Hanifah dengan nama lengkap an-Nu’man bin Tsabit bin Zuwatha.

Peristiwa itu dimulai ketika Imam Abu Hanifah berpapasan dengan seorang anak kecil yang berjalan mengenakan sepatu kayu. “Hati-hati nak dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kamu tergelincir”, tutur Imam Abu Hanifah.

Anak kecil ini pun tersenyum sembari mengucapkan terimakasih atas nasihat yang diberikan oleh Imam Abu Hanifah. Tidak lama kemudian, anak kecil itu bertanya, “Bolehkah saya tahu nama bapak?”

“Nu’man nama saya”, jawab Imam Abu Hanifah.

“Jadi, bapak ini yang terkenal dengan gelar al-Imam al-A’dhom itu?”, kata anak kecil setengah bertanya sembari matanya memperhatikan pakaian Imam Abu Hanifah. Sebab dalam riwayat, Imam Abu Hanifah ini dikenal sebagai ulama yang suka kerapian. Jika bepergian selalu mengenakan pakaian bersih sekaligus wangi, sehingga menyenangkan siapa saja yang dekat dengannya.

“Bukan saya yang memberi gelar itu, masyarakatlah yang berprasangka baik, lalu memberi gelar itu kepada saya.”

“Wahai Imam, hati-hati dengan gelar bapak. Jangan sampai bapak tergelincir ke neraka karena gelar,” ujar anak kecil itu. Ia melanjutkan, “Sepatu kayu saya ini mungkin hanya menggelincirkan saya di dunia. tapi gelar bapak dapat menjerumuskan bapak ke dalam api yang kekal, jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”

Tak lama kemudian, Imam Abu Hanifah tersungkur menangis. Ia bersyukur karena nasihat itu tidak disangka bisa datang dari lidah seorang anak kecil.

Beberapa orang mungkin menilai peristiwa di atas lumrah ditemui di sembarang tempat atau di buku dongeng pengantar tidur untuk anak-anak. Beberapanya lagi bisa jadi menilai sikap Imam Abu Hanifah terkesan berlebihan, mengingat penguasaannya di berbagai bidang keilmuan Islam dan karya-karyanya. Akan tetapi jika diamati dengan jeli, peristiwa di atas memuat banyak hikmah-hikmah berharga, yang setidaknya membuat diri sedikit mau menginsyafi segala keluputuan.

Hikmah pertama dari peristiwa di atas ialah ihwal nasihat yang baik bisa datang dari mana saja, tidak harus dari orang yang memiliki status, gelar, dan ilmu yang lebih tinggi. Nasihat terkadang malah tersampaikan melalui mereka yang dianggap tidak memiliki kapasitas keilmuan atau status tertentu. Hanya saja nasihat seperti ini kadang-kadang hanya dianggap sebagai angin lalu. Alih-alih direnungkan sebagai koreksi dan kritik diri, justru dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu.

Selain itu sikap Imam Abu Hanifah dalam membuka diri terhadap segala kemungkinan nasihat dan kritik juga dapat dijadikan sebagai hikmah selanjutnya. Sebab hari ini tidak banyak orang yang dapat menerima dengan legowo masukan-masukan dari orang lain. Apalagi jika yang menyampaikan adalah mereka yang status, gelar, latar belakang, dan kedudukannya berada di bawahnya.

Hikmah yang terakhir ada pada isi nasihatnya. Memang kadang-kadang pujian, penghormatan, penghargaan, gelar, atau status yang disematkan kepada diri selain menjadi bentuk apresiasi, juga dapat menjadi sumber yang mencelakakan. Tidak sedikit yang jatuh karena merasa dirinya telah selesai dalam berbagai hal sehingga meremehkan siapa saja yang memberi masukan dan kritik.

Lazim ditemukan di banyak kisah perihal orang yang mulanya tidak memiliki apa-apa dan tidak bisa melakukan hal-hal yang menghasilkan. Tapi berkat keuletannya, hasil yang dituai berbuah manis di kemudian hari. Akan tetapi ia terlena dengan segala kecukupan yang dimiliki, sampai-sampai menutup telinga dari suara orang-orang di sekitarnya. Maka secara bertahap atau sekaligus, segala apa yang telah ia raih dengan susah payah akhirnya raib karena keangkuhan dan kesombongannya.

Itu mungkin baru di dunia. Belum nanti di kehidupan selanjutnya seperti yang di sampaikan seorang anak kecil di atas bahwa, apa saja bisa menjerumuskan manusia dalam neraka yang kekal jika disertai dengan rasa angkuh dan sombong. Wallahu’alam.

*Ahmad Sugeng Riady (Masyarakat biasa merangkap marbot di pinggiran kota Yogyakarta)

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *