Menelisik Pandangan Al-ghozali Tentang Konsep Filsafat Islam

Menelisik Pandangan Al-ghozali Tentang Konsep Filsafat Islam - Dawuh Guru

Oleh: Muhammad Ali Hayyi Mughni

(Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)

Filsafat adalah sebuah keilmuan pertama yang ditemukan oleh manusia, tanpa filsafat, mungkin kehidupan modern tidak akan seperti ini. munculnya filsafat membuat dunia ilmu pengetahuan berkembang, mulai dari banyak muncul ilmu ilmu baru seperti ilmu kedokteran, ilmu jiwa atau psikologi, ilmu matematika dan masih banyak lagi. Bahkan sampai berkembangnya paradigma agama dikarenakan salah satu cabang filsafat yakni theology. Filsafat islam pun tak luput dari perhatian orang orang berilmu pada zaman sekarang, banyaknya ulama atau tokoh tokoh filsuf muslim yang mampu memperkuat atau bahkan sampai merubah pandangan orang orang muslim. Salah satu dari tokoh filsuf muslim tersebut adalah seorang Ulama yang cukup terkenal, baik di ranah akademisi maupun di ranah pondok pesantren salaf. Dia Al-Ghozali atau biasa kita kenal sebagai Imam Ghozali, kitab kitab karangan mereka, banyak dikaji dan ditelaah oleh hampir semua institusi muslim, salah satu kitab karangan Al-Ghozali yang cukup masyhur dan terkenal adalah Ihya’ Ulumuddin. Maka dari itu, dalam artikel ini, penulis akan menelisik sejarah, perkembangan sampai model pemikiran ulama ulama tersebut. Penting bagi penulis untuk menjadikan artikel ini sebagai artikel ilmiyah untuk memperkuat sumber yang akan penulis kaji. Penulis akan menggunakan sebuah metode penlitian kuantitatif yang bersumber dari beberapa jurnal, buku ataupun skripsi yang membahas tentang tema pada artikel ini.

Filsafat adalah sebuah pengetahuan yang terlahir atas kegelisahan orang orang yunani kuno, mereka mempertanyakan tentang hal hal yang ada di sekitar mereka, tentang bumi itu seperti apa, langi itu seperti apa, bintang itu seperti apa dan masih banyak lagi. Kegelisahan kegelisahan mereka akhirnya menghasilkan sitology mitologi yang mungkin masih dipercaya hingga kini. Faktor yang paling sering di jadikan sebuah contoh adalah munculnya pelangi, orang orang yunani kuno ingin mencari cari tahu tentang bagaimana pelangi bisa terbentuk. Akhirnya mereka pun mengartikan bahwa pelangi adalah sebuah naga yang turun ke bumi untuk meminum air bekas hujan.

Walaupun mitologi mitologi yunani kuno menurut orang modern dianggap tidak logis, namun kita tidak boleh memandang sebelah mata, dati sana lah terlahir sebuah ilmu pengetahuan yang bernama filsafat. Dan kini filsafat telah menemukan kemasyhuranya, yang mana dari sebuah pengetahuan filsafat, ada ilmu ilmu baru yang membantu mempermudah kehidupan manusia modern, seperti kedokteran, psikologi, matematika, ilmu komunikasi dan lain lain.

Dalam agama islam, juga tidak mengelak dari filsafat. Yang mana amat banyak ulama ulama terdahulu yang memperdalam ilmu filsafat, seperti al ghozali, ibnu arabi, ibnu shina, aljabar dan masih banyak lagi. Artikel ini akan mengupas tentang pemikiran pemikiran filsafat dari salah satu tokoh muslim yang sangat fenomenal, yakni Al-Ghozali atau yang kita kenal sebagai Imam Ghozali.

Riwayat Hidup Al-Ghozali

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-Thusi as-Syafi’i al-Ghazali. Secara singkat dipanggil al-Ghazali atau Abu Hamid al Ghazali.[1] Dan mendapat gelar imam besar Abu Hamid al-Ghazali Hujatul Islam.[2]

Namanya kadang diucapkan Ghazzali (dua z), artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah beliau adalah tukang pintal benang wol. Sedang yang lazim ialah Ghazali (satu z), diambil dari kata Ghazalah nama kampung kelahirannya.[3]

Beliau lahir di Thus, Khurasan, Iran,[4] dekat Masyhad sekarang, pada tahun 450 H/1058 M. Beliau dan saudaranya, Ahmad, ditinggal yatim pada usia dini. Pendidikannya dimulai di Thus. Lalu, al-Ghazali pergi ke Jurjan. Dan sesudah satu periode lebih lanjut di Thus, beliau ke Naisabur, tempat beliau menjadi murid al-Juwaini Imam al-Haramain hingga meninggalnya yang terakhir pada tahun 478 H/1085 M. Beberapa guru lain juga disebutkan, tapi kebanyakan tidak jelas. Yang terkenal adalah Abu Ali al-Farmadhi.[5]

Al-Ghazali adalah ahli pikir ulung Islam yang menyandang gelar “Pembela Islam” (Hujjatul Islam), “Hiasan Agama” (Zainuddin), “Samudra yang Menghanyutkan” (Bahrun Mughriq), dan lain-lain. Riwayat hidup dan pendapat-pendapat beliau telah banyak diungkap dan dikaji oleh para pengarang baik dalam bahasa Arab, bahasa Inggris maupun bahasa dunia lainnya, termasuk bahasa Indonesia. Hal itu sudah selayaknya bagi para pemikir generasi sesudahnya dapat mengkaji hasil pemikiran orang-orang terdahulu sehingga dapat ditemukan dan dikembangkan pemikiran-pemikiran baru.

Sebelum meninggal ayah al-Ghazali berwasiat kepada seorang ahli tasawuf temannya, supaya mengasuh dan mendidik al-Ghazali dan adiknya Ahmad. Setelah ayahnya meninggal, maka hiduplah al-Ghazali di bawah asuhan ahli tasawuf itu.[6]

Harta pusaka yang diterimanya sedikit sekali. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup dari usaha sendiri bertenun kain bulu (wol), disamping itu, selalu mengunjungi rumah para alim ulama, memetik ilmu pengetahuan, berbuat jasa dan memberi bantuan kepada mereka. Apabila mendengar uraian para ulama itu maka ayah al-Ghazali menangis tersedu-sedu seraya memohon kepada Allah SWT kiranya beliau dianugerahi seorang putra yang pandai dan berilmu.

Pada masa kecilnya al-Ghazali mempelajari ilmu Fiqh di negerinya sendiri pada Syeh Ahmad bin Muhammad ar-Razikani. Kemudian pergi ke negeri Jurjan dan belajar pada Imam Ali Nasar al-Ismaili. Setelah mempelajari beberapa ilmu di negeri tersebut, berangkatlah al-Ghazali ke negeri Nisapur dan belajar pada Imam al-Haramain. Disanalah mulai kelihatan tanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa itu, seperti ilmu Mantik (logika), Filsafat dan Fiqh Mazhab Syafi’i.[7]

Setelah Imam al-Haramain wafat, lalu al-Ghazali berangkat ke al-Askar mengunjungi menteri Nizamul Mulk dari pemerintahan Dinasti Saljuk. Beliau disambut dengan kehormatan sebagai seorang ulama besar. Kemudian dipertemukan dengan para alim ulama dan pemuka-pemuka ilmu pengetahuan. Semuanya mengakui akan ketinggian dan keahlian al-Ghazali.[8]

Pada tahun 484 H/1091 M, beliau diutus oleh Nizamul Mulk untuk menjadi guru besar di madrasah Nizhamiyah, yang didirikan di Baghdad. Beliau menjadi salah satu orang yang terkenal di Baghdad, dan selama empat tahun beliau memberi kuliah kepada lebih dari 300 mahasiswa. Pada saat yang sama, beliau menekuni kajian Filsafat dengan penuh semangat lewat bacaan pribadi dan menulis sejumlah buku.[9]

Atas prestasinya yang kian meningkat, pada usia 34 tahun beliau diangkat menjadi pimpinan (rektor) Universitas Nizhamiyah. Selama menjadi rektor, beliau banyak menulis buku yang meliputi beberapa bidang Fiqh, Ilmu Kalam dan buku-buku sanggahan terhadap aliran-aliran Kebatinan, Ismailiyah dan Filsafat.[10]

Al-Ghazali telah mengarang sejumlah besar kitab pada waktu mengajar di Baghdad, seperti Al-Basith, Al-Wasith, Al-Wajiz dan Al-Khalasah Fi Ilmil Fiqh. Seperti juga kitab-kitab Al-Munqil Fi Ilmil Jadl, Ma’khudz Al-Khilaf, Lubab Al-Nadhar, Tahsin Al-Maakhidz dan Mabadi’ Wal Ghāyat Fi Fannil Khilaf. Sekalipun mengarang beliau tidak lupa berpikir dan meneliti hal-hal dibalik hakikat. Beliau tidak ragu-ragu mengikuti ulama yang benar, yang tidak seorangpun berpikir mengenai kekokohan kesahannya atau untuk meneliti sumber pengambilannya. Pada waktu itu beliau juga mempelajari ilmu-ilmu yang lain.[11] Hanya 4 tahun al-Ghazali menjadi rektor di Universitas. Nizhamiyah. Setelah itu beliau mulai mengalami krisis rohani, krisis keraguan yang meliputi akidah dan semua jenis ma’rifat. Secara diam-diam beliau meninggalkan Baghdad menuju Syam, agar tidak ada yang menghalangi kepergiannya baik dari penguasa (khalifah) maupun sahabat dosen seuniversitasnya. Al-Ghazali berdalih akan pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Dengan demikian, amanlah dari tuduhan bahwa kepergiannya untuk mencari pangkat yang lebih tinggi di Syam. Pekerjaan mengajar ditinggalkan dan mulailah beliau hidup jauh dari lingkungan manusia, zuhud yang beliau tempuh.

Pada tahun 488 H, beliau mengisolasi diri di Makkah lalu ke Damaskus untuk beribadah dan menjalani kehidupan sufi.[12] Beliau menghabiskan waktunya untuk khalwat, ibadah dan i’tikaf di sebuah masjid di Damaskus. Berzikir sepanjang hari di menara. Untuk melanjutkan taqarubnya kepada Allah SWT beliau pindah ke Baitul Maqdis. Dari sinilah beliau tergerak hatinya untuk memenuhi panggilan Allah SWT untuk menjalankan ibadah haji. Dengan segera beliau pergi ke Makkah, Madinah dan setelah ziarah ke makam Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim A.S., ditinggalkanlah kedua kota tersebut dan menuju ke Hijaz.[13]

Setelah mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan berpuluh-puluh tahun dan setelah memperoleh kebenaran yang hakiki pada akhir hidupnya, beliau meninggalkan dunia di Thus pada 14 Jumadil Akhir 505 H/19 Desember 1111 M, dihadapan adiknya, Abu Ahmadi Mujidduddin. Beliau meninggalkan tiga orang anak perempuan sedang anak laki-lakinya yang bernama Hamid telah meninggal dunia semenjak kecil sebelum wafatnya (al-Ghazali), karena itulah beliau diberi gelar “Abu Hamid” (Bapak si Hamid).

Pemikiran Al-Ghazali Mengenai Filsafat dan para Filsuf

Dalam fase awal-awal perkembangan intelektualnya, al-Ghazali banyak berkarya di bidang ilmu-ilmu syariat ketika masih di Baghdad. Namun, setelah itu dalam kurun dua tahun al-Ghazali memahami filsafat dengan seksama, hampir setahun ia terus merenungkannya, mengulang-ulang kajiannya, dan membiasakan diri dengannya, di samping meneliti kebohongan dan penyelewengan yang terkandung di dalamnya. Pada saat itulah al-Ghazali menyingkap pemalsuan dan tipuan-tipuan, serta membedakan unsur yang benar dan yang cuma khayatan[14]

Pertama, pengikut ateisme (al-Dahriyyun); kelompok ini merupkan golongan filsuf yang mengingkari Tuhan yang mengatur alam ini dan menentang keberadaan-Nya. Mereka mempunyai dugaan kuat bahwa alam telah ada dengan sendirinya tanpa campur tangan Tuhan. Mereka berkeyakinan bahwa bahwa hewan berasal dari sperma dan sperma berasal dari hewan, dari zaman dahulu dan selamanya tetap seperti itu. Menurut al-Ghazali mereka itu orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.

Kedua, Pengikut faham naturalisme (al-Thabi’iyyun); mereka merupakan golongan filsuf yang setelah sekian lama meneliti keajaiban hewan dan tumbuh-tumbuhan (alam atau thabi’ah) dan menyaksikan tanta-tanda kekuasaan Tuhan, akhirnya mereka mengakui keberadaan-Nya. Namun karena terlalu banyak meneliti alam, mereka terkesan dengan dengan watak biologis hewan yang memiliki pengaruh terhadap daya-daya inderawi mereka. Akibatnya, mereka pun berpendapat bahwa daya pikir manusia tergantung pada watak biologisnya, dan ketika watak biologisnya hilang, maka hilang pulalah daya pikirnya. Pada akhirnya, mereka berpandangan bahwa tidak mungkin mengembalikan sesuatu yang telah tiada. Mereka berkeyakinan orang yang telah tiada ruhnya tidak akan kembali. Selain itu mereka juga menentang eksistensi akhirat, surga, neraka, hari kiamat dan hisab.

Ketiga, Penganut filsafat Ketuhanan (ilahiyyun); mereka adalah golongan filsuf yang percaya kepada Tuhan, mereka para filsuf Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles, serta orang-orang yang mengekor pada pemikiran mereka. Kelompok ilahiyyun ini pada garis besarnya membantah dua kelompok pertama yaitu dahriyyun dan thabi’iyyun. Al-Ghazali lebih lanjut menyatakan bahwa Aristoteles pada fase berikutnya menolak dan menyanggah dengan tegas pandangan Plato dan Socrates beserta pendahulunya yang mengikuti filsafat ketuhanan sehingga ia keluar dari ruang lingkup mereka. Hanya sayangnya, dalam filsafatnya, ia masih menyisakan beberapa hal kecil yang setidaknya masih mengandung indikasi kekufuran yang belum dapat ia lepaskan. Dari pandangan itu al-Ghazali menvonis kafir, termasuk para filsuf Islam yang terinspirasi pandangan-pandangan Aristoteles seperti Ibnu Sina dan al-Farabi.[15]

Dalam Tahafut al-Falasifah, al-Ghazali memandang para filsuf telah melakukan kerancuan, setidaknya ada 20 masalah yang menyebabkan para filsuf ini menjadi ahli ahl al-bid’at dan kafir. Dari 20 persoalan ini, al-Ghazali menegaskan bahwa para filsuf menjadi kafir karena tiga masalah:

Pertama, para filsuf yang berpendapat bahwa alam itu qadim (tidak mempunyai permulaan), ini merupakan pendapat Aristoteles dan pengikutnya. Para filsuf muslim sebelum al- Ghazali mengatakan bahwa alam ini qadim. Sebab qadimnya Tuhan atas alam sama halnya dengan qadimnya illat atas ma’lulnya (ada sebab akibat), yakni dari zat dan tingkatan, juga dari segi zaman. Para filsuf kala itu beralasan tidak mungkin wujud yang lebih dahulu, yaitu alam, keluar dari yang qadim (Tuhan), karena dengan demikian berarti kita bisa membayangkan bahwa yang qadim itu sudah ada, sedangkan alam belum ada.[16] Menurut al-Ghazali yang qadim (tidak mempunyai permulaan) hanyalah Tuhan semata. Maka, selain Tuhan haruslah baru (hadits). Karena apabila terdapat sesuatu yang qadim selain Tuhan, maka dapat memunculkan paham; apabila yang qadim banyak, berarti Tuhan banyak; pemikiran ini tentu menimbulkan kemusyrikan yang pelakunya dosa besar yang tidak dapat diampuni Tuhan; atau masuk golongan Ateisme yang menyatakan bahwa alam yang qadim tidak perlu adanya pencipta.

Kedua, pendapat filsuf yang menyatakan bahwa Tuhan tidak mungkin mengetahui hal-hal yang bersifat partikular (pendapat yang dipegangi oleh Ibnu Sina). Mula-mula pendapat ini dipegangi oleh Aristoteles kemudian dianut oleh para filsuf Muslim. Menurut al-Ghazali para filsuf Muslim itu mempunyai pemahaman bahwa Allah hanya mengetahui zat-Nya sendiri (juz’iyat) dengan alasan alam ini selalu terjadi perubahan-perubahan, jika Allah mengetahui rincian perubahan tersebut, hal itu akan membawa perubahan pada zat-Nya. Perubahan pada obyek ilmu akan membawa perubahan pada yang punya ilmu (bertambah atau berkurang). Ini mustahil terjadi pada Allah.[17] Al-Ghazali mengkritik seraya mengatakan bahwa para filsuf itu telah melakukan kesalahan fatal. Menurutnya, sebuah perubahan pada obyek ilmu tidak membawa perubahan pada ilmu. Karena ilmu berubah tidak membawa perubahan pada zat, dalam artian keadaan orang yang mempunyai ilmu tidak berubah. Kemudian Al-Ghazali memberikan sebuah ilustrasi, sebagaimana halnya kalau ada orang berdiri di sebelah kanan kita, kemudian ia berpindah ke sebelah kiri kita, maka yang berubah sebenarnya dia, bukan kita. Ia mengetahui segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang satu (Esa) semenjak azali dan tidak berubah meskipun alam yang diketahui-Nya itu mengalami perubahan.[18]

Ketiga, penolakan filsuf terhadap kebangkitan jasmani dan mortalitas jiwa individu. Para filsuf Muslim sebelum al-Ghazali berpandangan bahwa yang akan dibangkitkan dari alam kubur menuju akhirat nanti adalah rohani semata, sedangkan jasmani akan hancur lebur. Menurut mereka, akan merasakan kebahagiaan atau siksaan adalah rohani semata. Al-Ghazali dalam mengkritik pendapat para filsuf tersebut lebih banyak bersandar pada arti tekstual Al-Qur’an, yang menurutnya tidak ada alasan untuk menolak terjadinya kebahagiaan atau kesengsaraan (siksaan) fisik dan rohani secara bersamaan. Allah Maha Kuasa menciptakan segala sesuatu dan untuk itu tidaklah ada keraguan sedikitpun Allah akan mengembalikan rohani pada jasmani di akhirat nanti[19]

Filsafat Metafisika Al-Ghozali

Dalam al-Munqidz, al-Ghazali telah mengklasifikan filosof menjadi tiga kelompok di atas. Setelah itu al-Ghazali mencoba mengalihkan perhatian pada pembagian ilmu-ilmu mereka dari segi tujuan yang ingin dicapai. Dalam pandangannya, al-Ghazali menggolongkan ilmu-ilmu tersebut menjadi 6 kelompok; yaitu matematika, logika, fisika, metafisika, politik, dan etika.[20] Di antara menjadi fokus di sini adalah metafisikanya.

Berbicara metafisika, tidak bisa lepas dengan masalah ketuhanan (ilahiyyah). Madkour menyebutkan bahwa dalam masalah ketuhanan, al-Ghazali banyak mengikuti dan membentengi aliran Asy’ariyah. Al-Ghazali sebagaimana penganut al-Asy’ariyah mencoba menselaraskan akal dengan naql. Ia berpendapat bahwa akal harus dipergunakan sebagai penopang, karena ia biasa mengetahui dirinya sendiri dan bisa mempersepsi benda lain. Namun al-Ghazali menghentikan akal pada batas-batas tertentu, dan hanya naql-lah yang bisa melewati batas-batas ini. Meskipun demikian, menurut Ali, argumentasi-argumentasi yang telah dibangun al-Asy’ari mengenai konsep ketuhanan (ilahiyyah) lebih mendekati pada argumentasi yang bersifat filosofis daripada argumentasi agamis. Oleh karenanya, Al-Ghazali kemudian mencoba kepada jalan lain yang dianggapnya lebih agamis, yaitu menempuh jalan tasawuf.

Sifat Wujud Allah

Dalam perdebatan terkait sifat-sifat Allah, al-Ghazali memegang pendapat yang dianut oleh al-Asy’ari, sehingga tidak menerima pendapat yang dikemukakan oleh kaum Hasywiyah maupun Mu’tazilah, karena kedua aliran ini dianggap sebagai aliran kaum ekstrimis. Aliran Hasywiyah berpedoman teguh pada arti dari suatu teks (ayat al-Quran dan al-Sunnah) agar mereka tidak menghindarkan Allah dari berbagai sifat, sehingga mereka terkesan antropomorfis (tajsim). Sebaliknya Mu’tazilah berlebih-lebihan dalam menyucikan Allah, sehingga mereka harus menafikan sifat-sifat Allah. Yang paling baik menurut al-Ghazali adalah jalan tengah. Lebih tegas al-Ghazali menjelaskan. Allah adalah satu-satunya sebab bagi alam. Allah menciptakan alam dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, karena kehendak Allah adalah sebab bagi segala yang ada (al-maujudat), sedang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.38 Lebih lanjut al-Ghazali menetapkan adanya sifat Zat yang diistilahkan dengan sifat Salbiyah, yakni sifat yang menafikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kesempurnaan Zat Allah. Sifat Salbiyah ini ada lima; Qidam, Baqa’, mukhalafat li al-hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyah. Dengan adanya sifat-sifat ini pada Zat Allah, maka menjadi tiada kesempurnaan makhluk dan dan hanya Allah-lah yang maha sempurna.

Sedangkan tentang wujud Allah, Al-Ghazali tidak jauh berbeda dengan pendapat para filosof paripatetik lainnya, semisal al-Kindi, al-Farabi dan Ibn Sina. Bahwa Tuhan merupakan prima kausa (penyebab pertama). Menurut mereka Allah Esa tak terbilang, sama sekali tidak menyamai makhluk-makhluk-Nya, kekal dan tak akan Fana. Menurut al-Farabi, Allah adalah Pencipta Yang Maha Kuasa dan Maha Bijak, Allah adalah Dzat yang harus ada karena diri-Nya sendiri (wajib al-Wujud di Dzatihi) dan sebab pertama dalam segala entitas (kausa prima). Wujud-Nya merupakan wujud yang paling sempurna, Maha Suci dari segala kuasa seperti materi, bentuk, aksi dan efisiensi. Allah dengan subtansi-Nya merupakan akal aktual
(aql bi al-fi’l) karena Dia suci dari materi. Dengan subtansi-Nya, Allah juga ma’qul (kategori, obyek pengetahuan), karena Dia mengetahui Dzat-Nya.40 Terkait dengan penciptaan alam, menurut al-Farabi dan Ibnu Sina bahwa wujudnya alam bukanlah dan bukanlah diciptakan, Allah memang prima kausa, penyebab pertama, penggerak pertama, wajib al-Wujud. Namun, Allah bukanlah pencipta alam, melainkan sebagai penggerak pertama. Allah menciptakan sesuatu dari bahan yang sudah ada secara pancaran (emanasi). Dengan demikian, Allah menciptakan alam semenjak azali alam semenjak azali dengan materi alam berasal dari energi yang qadim, sedangkan susunan materi yang menjadi alam adalah baru berasal dari pancaran pikiran Akal Pertama[21]

Kesimpulan

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali atau yang kita kenal sebagai Imam Ghozali adalah seorang laki laki yang lahir di kota Thuss dalam wilayah Khurasan, Iran pada tahun 450 H/1058 M. Al-Ghozali adalah tokoh pemikir Islam yang menyandang gelar “Pembela Islam” (Hujjatul Islam), ”Hiasan Agama” (Zainuddn), “Samudra yang menghanyutkan” (Bahrun Muhriq) dan lain-lain.

Al-Ghazali sosok yang sangat unik dalam dunia pemikiran, banyak dari karya-karyanya menjadi obyek penelitian menarik minat kalangan pencinta ilmu dan akademisi, mulai dari kalangan dalam umat Islam sendiri, maupun dari kalangan non-muslim atau orientalis , Dalam mengkaji pemikiran al-Ghazali sedikitnya terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang kagum dan fanatik sehingga pro terhadap pemikiran al-Ghazali. Kedua, kelompok yang menganggap bahwa al-Ghazali banyak melakukan kesalahan dalam berkarya, kelompok ini kontra terhadap al-Ghazali. Ketiga, kelompok yang obyektif menilai al-Ghazali dari karya-karya dan perjalan hidupnya

Daftar Pustaka

Abidin Ibnu Rusn, 1998. “Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan” (Yogyakarta : Pustaka Pelajar).

Al-Ghazali. 1969. “Ihya’ al-Ghazali, Jilid I”, (Surabaya : Faizan)

Dedi Supriyadi. 2009. “Pengantar Filsafat Islam; Konsep, Filosof dan Ajarannya”, Bandung: Pustaka Setia,

Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta : Gema Insani Press, 1998).

Imam Ghazali Sa’id, “Silsilat Al-Muallifat al-Ghazali (2) Matnu Bidayat Al-Hidayat fi At Tawassuth Bainal Fiqh wa Tasawuf lil Imam Hujjatul Islam Abi Hamid al-Ghazali,” (Surabaya : Diyantara, T. Th.).

  1. Amin Abdullah. 1992. “The Idea of University of Ethical Norms in Ghazali and Immanuel Kan”t, (Turkiye Diyanet Vakfi : Ankara)
  2. Amin Abdullah. 2002. “Antara al-Ghazali dan Kant : Filsafat Etika Islam”, (Terj). Hamzah, (Bandung : Mizan).
  3. Sholihin, 2001 “Epistimologi Ilmu Dalam Sudut Pandang al-Ghazali” (Bandung : Pustaka Setia)

Sirajuddin Zar, 2004 “Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya”. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

Zainuddin, dkk. 1991. “Seluk Beluk Pendidikan Dari al-Ghazali”, (Jakarta : Bumi Aksara)

Abu Bakar Abdurrazak. 2003. “Inilah Kebenaran; Puncak Hujjah al-Ghazali untuk Para Pencari Kebenaran” terj. Khaeron Sirin, (Jakarta: Penerbit Iiman)

Al-Ghazali, 1972. “Tahafut al-Falasifah”, Kairo: Dar al-Ma’arif,

Ibrahim Madkour. 2004, “Fi al-Falsafah Islamiyyah”: Manhaj wa Tathbiq, terj. Yudian Wahyudi Asmin, Jakarta: Bumi Aksara, cet. III,

 

[1] M. Sholihin, Epistimologi Ilmu Dalam Sudut Pandang al-Ghazali, (Bandung : Pustaka Setia, 2001), Cet. 1., hlm. 20

[2] Zainuddin, dkk., Seluk Beluk Pendidikan Dari al-Ghazali, (Jakarta : Bumi Aksara, 1991), hlm. 7

[3] Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998), Cet. 1., hlm. 9.

[4] Imam Ghazali Sa’id, Silsilat Al-Muallifat al-Ghazali (2) Matnu Bidayat Al-Hidayat fi At-Tawassuth Bainal Fiqh wa Tasawuf lil Imam Hujjatul Islam Abi Hamid al-Ghazali, (Surabaya : Diyantara, T. Th.), hlm. ن

[5] M. Amin Abdullah, The Idea of University of Ethical Norms in Ghazali and Immanuel Kant, (Turkiye Diyanet Vakfi : Ankara, 1992), hlm. 9-10.

[6] Al-Ghazali, Ihya’ al-Ghazali, Jilid I, (Surabaya : Faizan, 1969), Cet. 4., hlm. 18.

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] M. Amin Abdullah, Antara al-Ghazali dan Kant : Filsafat Etika Islam, (Terj). Hamzah, (Bandung : Mizan, 2002), Cet. I, hlm. 29.

[10] Abidin Ibnu Rusn, Op. Cit., hlm. 11 – 12.

[11] ………, Al-Ghazali dan Plato, (Surabaya : Bina Ilmu, 1986), Cet. I., hlm. 7

[12] Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta : Gema Insani Press, 1998), Cet. I, hlm

[13]  Abidin Ibnu Rusn, Op. Cit.,

[14] Abu Bakar Abdurrazak, Inilah Kebenaran; Puncak Hujjah al-Ghazali untuk Para Pencari Kebenaran, terj. Khaeron Sirin, Jakarta: Penerbit Iiman, 2003, hlm. 43

[15] Sulaiman al-Dunya dalam kata pengantar pengantar Tahafut al-Falasifah.. hlm. 48

[16] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam; Konsep, Filsuf dan Ajarannya, Bandung: Pustaka Setia, 2009, hal.162.

[17] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filsuf dan Filsafatnya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 174.

[18] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam;……, hlm.162.

[19] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam….., hlm. 172

[20] Al-Ghazali, al-Munqidz min al-dhalal… hlm.

[21] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam…, hlm, 74.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *