Meneladani KH. Hasyim Asyari Sebagai Penggerak dan Mencontoh Tebuireng Sebagai Tempat Mobilisasi Perjuangan Bangsa Indonesia

Meneladani KH. Hasyim Asyari Sebagai Penggerak dan Mencontoh Tebuireng Sebagai Tempat Mobilisasi Perjuangan Bangsa Indonesia - dawuh guru

Bangsa Indonesia mendapat kemerdekaan yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan. Pahlawan bertaruh dengan harta dan juga nyawa mereka demi dapat meraih kemerdekaan. Meskipun kemerdekaan Indonesia sudah diproklamirkan oleh para pendiri bangsa, namun sesungguhnya kemerdekaan belum diraih sepenuhnya. Banyak terjadi perlawanan-perlawanan dari banyak pihak, khususnya Belanda yang ingin mengambil alih kekuasaan dan menjajah tanah air kembali. Hal ini membuat para pemimpin bangsa semangat untuk meraih kemerdekaan dengan sepenuhnya tanpa ada gangguan dari pihak manapun.

Beberapa daerah yang mendapat gangguan dari pihak sekutu, NICA, maupun Belanda mulai menyebar kemana-mana. Surabaya yang menjadi salah satu kota yang memiliki dampak ancaman terbesar hilangnya kemerdekaan membuat para pemimpin bangsa merasa resah menghadapinya. Para pemimpin bangsa berkunjung ke beberapa tokoh untuk meminta dukungan dan doa agar tetap mempertahankan kemerdekaan.

Pemimpin bangsa yang diwakili oleh Ir. Soekarno menanyakan tentang hukum mempertahankan kemerdekaan kepada KH. Hasyim Asyari (Pendiri Nahdlatul Ulama). Dengan tegas dijawab oleh beliau bahwa hukumnya adalah Fardhu ain untuk membela kemerdekaan tanah air. Telah dijelaskan bahwa rakyat Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan dari ancaman asing.

Hasyim Asyari adalah sosok ulama yang sangat berpengaruh dan legitimasinya yang sangat besar dan strategis di kalangan ulama maupun para santri. Dengan meminta pendapat dari beliau, Ir. Soekarno sangat yakin untuk kembali mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih. Jawaban dari Kiai Hasyim ini menjadi landasan agama dalam mempertahankan kemerdakaan dan juga menjadi alasan yuridis kemerdekaan di dunia internasional.

Fatwa KH. Hasyim Asyari mengenai mempertahankan kemerdekaan yang selanjutnya lebih dikenal sebagai landasan Resolusi Jihad berisi sebagai berikut:

  1. Hukumnya orang kafir yang merintangi kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardlu ‘ain bagi tiap-tiap orang Islam yang mukim meskipun bagi orang fakir;
  2. Hukumnya orang yang meninggal dalam peperangan melawan NICA serta komplotannya adalah mati syahid;
  3. Hukumnya orang yang memecah persatuan kita sekarang ini wajib dibunuh.

Melalui fatwa tersebut, bangkitlah semangat bangsa dan rakyat Indonesia khususnya umat islam yang dimobilisasi oleh para kiai dan santri untuk melawan para penjajah yang ingin kembali merebut kemerdekaan. Di berbagai daerah, para kiai dan santri melakukan pembelaan untuk mempertahankan Indonesia baik melalui diplomasi maupun dengan angkat senjata.

Di Surabaya yang menjadi pusat ancaman terbesar bagi bangsa Indonesia, perlawanan terhadap penjajah dipimpin oleh Bung Tomo yang terus membakar semangat rakyat untuk memberikan perlawanan. Hal ini terjadi dikarenakan banyak sekali upaya-upaya kembalinya penjajahan oleh Belanda maupun sekutu. Dimulai dengan dikibarkan bendera Belanda di hotel Oranje yang disobek dengan gagah berani oleh para pejuang. Dan puncaknya ketika tewasnya Jenderal Mallaby ketika pertempuran di Surabaya terjadi. Tewasnya Mallaby membuat Inggris, Belanda, dan sekutu-sekutunya geram dan ingin membalas dendam kepada bangsa Indonesia. Hal ini tak membuat gentar sedikitpun rakyat Indonesia yang ikut berperang mempertahankan kemerdekaan khususnya para santri yang telah dipercaya oleh para kiai untuk melawan penajajah. Dalam hal ini, meminta barokah doa kiai pada umumnya dan khususnya fatwa Resolusi Jihad KH. Hasyim Asyari sangat berpengaruh tidak hanya kepada para santri namun rakyat Indonesia yang sedang berjuang.

Setelah tewasnya Jenderal Mallaby, Inggris memberikan ultimatum kepada Indonesia yang akhirnya pecah pada pertempuran 10 November 1945. Pertempuran yang tidak diduga oleh Inggris karena keberanian yang sangat tinggi dari rakyat Indonesia kepada tentara Inggris. Rakyat yang sebelum pertempuran meminta barokah doa dari para kiai memberikan suntikan semangat tersendiri. Dan juga beberapa kiai langsung turun tangan ikut serta melawan para penjajah.

Menurut Palmos, salah seorang jurnalis asal Australia yang pernah menjadi penerjemah presiden pertama Indonesia mengatakan ada tiga hal yang menjadi titik balik perlawanan rakyat Indonesia. Pertama, menaklukkan pasukan Jepang dan melucuti senjatanya. Kedua, menggagalkan kembali Belanda yang ingin menjajah Indonesia yang telah merdeka. Ketiga, menantang pasukan Inggris-India yang ingin memulangkan tawanan Jepang dan membantu Belanda berkuasa kembali.

Dari beberapa pernyataan diatas menunjukkan bahwa peran dari KH. Hasyim Asyari yang sangat fundamental melalui fatwanya yang memberikan semangat kepada rakyat Indonesia. Para pemimpin bangsa Indonesia yang sangat hormat kepada para kiai, khusunya KH. Hasyim Ayari yang membuat peran beliau begitu penting. Di sisi lain, Ir. Soekarno juga memiliki hubungan tersendiri dengan beliau saat memutuskan kemerdekaan Indonesia dan sekaligus menjadi guru spiritual bagi presiden pertama Indonesia tersebut. Melalui taktik pemikiran KH. Hasyim Asyari dengan memanfaatkan Jepang untuk meraih kemerdekaan. Serta penggemblengan yang dilakukan beliau kepada Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang sebagian besar anggotanya adalah para santri dari berbagai pondok pesantren di pulau Jawa, khususnya Pesantren Tebuireng yang menjadi pusat pergerakan untuk melawan penjajah yang selalu menjadi ancaman bagi penjajah.

Tebuireng menjadi tempat berkumpulnya para kiai dan santri membahas tentang bagaimana meraih kemerdekaan. Penentangan oleh para penjajah kepada Tebuireng pun tak terelakkan. Mulai dari zaman penjajahan Belanda yang mendirikan pabrik Tjoekir sebagai tempat industri dan juga eksploitasi kepada para brurh yang berasal dari pribumi. Hal ini membuat daerah sekitar pabrik Tjoekir menjadi tempat berkuasanya para penjajah Belanda. KH. Hasyim Asyari pun memberanikan diri untuk mendirikan pesantren disekitar pabrik tersebut yang dinamakan Tebuireng.

Tebuireng menjadi tempat mencari ilmu oleh para santri dan media dakwah bagi Kiai Hasyim. Selain itu juga untuk bentuk perlawanan kepada para penjajah. Serangan kepada pesantren Tebuireng pun sangat bertubi-tubi baik oleh para penjajah maupun rakyat sekitar yang mana telah dihasut oleh Belanda. Hingga pernah Pesantren Tebuireng dibakar oleh penjajah dan kacung-kacungnya. Kiai Hasyim pun sampai meminta bantuan kepada para kiai di daerah Banten yang terkenal dengan ilmu kanuragan dan pencak silatnya untuk mengajari para santri sebagai persiapan apabila ada serangan dari penjajah.

Disinilah terbentuknya para santri yang kuat dan berani baik lahir maupun batin. Dari para santri tersebut lahirlah Laskar Sabilillah dan Hizbullah yang lebih terkenal daripada laskar-laskar santri yang ada pada saat itu. Laskar Hizbullah yang dibentuk di Tebuireng pada zaman menjelang Pendudukan Jepang di Indonesia yakni pada tanggal 8 Desember 1944. Laskar yang terdiri dari santri dan pemuda seluruh Indonesia yang menjadi cadangan dari PETA (Pembela Tanah Air) pada awal dibentuknya.

Kiai Hasyim yang memberikan langsung wejangan dan penggemblengan kepada Laskar Hizbullah. Laskar Hizbullah setiap malam diberikan latihan militer, doa-doa, maupun amalan setiap malam supaya siap lahir dan batin bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Serta Laskar Sabililah sebagai pasukan militer berani mati yang dibentuk oleh para kiai Mereka inilah yang berjuang mempertahankan kemerdekaan RI pada pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Banyak sosok yang berpengaruh bagi Indonesia berasal dari Tebuireng. Mulai dari pendiri Pesantren Tebuireng yakni KH. Hasyim Asyari yang berperan penting dalam kemerdekaan. Putra dari beliau, KH. Wahid Hasyim yang menjadi Menteri Agama pertama. Cucu dari Kiai Hasyim yang menjadi presiden ke-4 yakni KH. Abdurrahman Wahid dan mendapat gelar sebagai Bapak Pluralisme Bangsa. Adik dari Gus Dur yakni KH. Sholahuddin Wahid juga memiliki banyak peran bagi negara. Menjadi Wakil dari Komnas HAM dan juga menjadi anggota DPR yang diamanatkan kepada beliau.

Tidak hanya keluarga dan keturunan dari Pesantren Tebuireng saja yang berdedikasi kepada Indonesia, namun juga banyak santri yang berpengaruh bagi bangsa. Salah satu buktinya adalah KH. Maruf Amin yang pernah menjabat sebagai ketua MUI dan juga Wakil Presiden periode 2019-2024. KH. Achmad Shiddiq, santri Tebuireng yang berjuang melawan para penjajah dan pernah menjabat sebagai anggota DPR periode 1956-1959. Selain kedua tokoh tersebut, masih banyak lagi santri yang berperan bagi bangsa.

Dari pernyataan tersebut, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pesantren Tebuireng berperan penting bagi bangsa dan negara Indonesia dari dahulu hingga sekarang. Mulai dari keluarga pesantren, santri hingga tempat bersejarah bagi kemerdekaan Indonesia. Sehingga peran dan dedikasi Tebuireng tentang nasionalisme tidak dihiraukan lagi.

Dengan belajar mengenal sosok KH. Hasyim Asyari yang cerdas, berani, dan bijaksana dalam mengusir penjajah dan Tebuireng sebagai tempat yang mengorbitkan orang-orang yang berjasa terhadap negara serta tempat berkumpulnya para pejuang, hendaknya kita sebagai generasi bangsa ikut meneladani sosok beliau dan menjadikan beberapa tempat atau daerah di seluruh Indonesia sebagai daerah berjuang. Meneladani kedalaman ilmu, pemikiran yang kritis terhadap dinamika zaman, ketepatan dalam pengambilan keputusan, dan tentu semangat juang bela tanah air beliau. Juga tetap menjadikan tanah air yang merdeka sepenuhnya dengan memanfaatkan potensi daerah sekitar yang menjadikan diri kita berkuasa di tanah sendiri, bukannya menjadi budak dari orang asing.

Keuletan dan cinta tanah air harus diterapkan kepada generasi bangsa. Tetap berjuang agar bagaimana bangsa kita bebas dari belenggu penjajahan yang dilakukan secara tidak langsung ini. Para pemuda harus berdedikasi dan berperan aktif dalam memajukan dan memerdekakan bangsa dalam arti sepenuhnya. Dengan tetap mempersatukan bangsa tanpa harus memecah belah bangsa. Para pahlawan berjuang dengan bergotong royong begitu pula dengan kita, seperti yang sudah diajarkan oleh KH. Hasyim Asyari dalam hal ucapan maupun tindakan. Dan menjadikan Indonesia dengan kebhinnekaannya berjuang sebagai negara merdeka yang seutuhnya dengan tetap mengutamakan persatuan dan menjunjung tinggi toleransi seperti perjuangan bagian kecil dari negara ini yakni Tebuireng pada zaman pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *