Kita Tidak Akan Pernah Mencintai Indonesia Dengan Tulus

 

Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang mempunyai nilai historis yang kuat dan mendalam. Dalam rumah budaya ini hidup berbagai macam etnis, budaya, tradisi, ras, dan agama yang berbeda – beda. Semuanya hidup saling berdampingan dan menciptakan harmoni yang indah. Inilah salah satu kekuatan sekaligus kekayaan yang dimiliki bangsa ini.

Bagi saya, orang tidak akan pernah mencintai indonesia secara tulus – ikhlas sebelum dia keluar dari indonesia dan melihat indonesia dari jauh. Selama di indonesia saya tidak pernah benar – benar merasa menjadi orang indonesia, bahkan saya sempat merasa kecewa menjadi indonesia. Di tengah – tengah korupsi yang menggurita, suasana politik yang pengap, dan kemiskinan merajalela membuat saya semakin muak melihat wajah indonesia.

Seiring berjalannya waktu, takdir membawa saya ke alam lain, di sana saya bertemu dan bersentuhan dengan peradaban baru, budaya baru, tradisi dan dat istiadat baru, dan tipologi manusia yang baru. Saya juga banyak mengamati dinamika masyarakat dan negara yang saya singgahi pada waktu itu, mereka lebih maju secara ekonomi, politik, sosial – budaya, dan berperadaban, lalu, ingatan saya kembali ke negeri indonesia yang kaya itu

Setiap hari minggu pagi, ketika libur akhir pekan, tempat yang selalu saya buru adalah warnet (baca warung internet), dalam hati selalu ada rasa ingin tahu tentang perkembangan bumi pertiwi, website demi website saya buka, lembar informasi demi informasi saya baca, ternyata pada akhirnya kekecewaan yang saya dapatkan. Tidak ada berita baru yang menggembirakan. Kalau tidak koruptor yang di tangkap oleh KPK, perselingkuhan artis ibu kota, kriminalitas, prostitusi, dan impor besar – besaran barang dari luar negeri, dan yang paling membuat saya menggerutu adalah ketika tanah – tanah indonesia sudah di kapling oleh para investor asing.

Upacara Kemerdekaan

Pagi itu, di depan KBRI di Lebanon sudah banyak para mahasiswa, pejabat, dan para pegawai yang sudah berkumpul serta berbaris dengan rapi. Saya di antara orang – orang yang bergerombol pada pagi itu. Upacara kemerdekaan sebentar lagi sudah di mulai, bapak Dubes sudah bersiap – siap untuk memimpin jalannya upacara. Setelah petugas upacara selesai membacakan rangakian upacara, maka telah tiba saat – saat yang di tunggu, yaitu pengibaran bendera. Selama saya hidup di bumi pertiwi, saya hanya ingat beberapa kali mengikuti kegiatan upacara semacam ini. itu pun saya masih sangat kecil, dan belum mengetahui arti dan nilai – nilai nasionalisme dan patriotisme.

Ketika bendera merah putih itu, sedikit demi seidkit di kibarkan di bumi yang lain, hati ini terketuk, ada perasaan kuat yang bergemuruh dalam batin ini, sambil melantunkan lagu indonesia raya, tak terasa mata ini meleleh, tidak mampu untuk membendung rasa yang sangat mengharukan itu. Saya sadar bahwa saya saat itu tidak di bumi pertiwi. Tetapi pagi itu, adalah momen yang paling bersejarah dalam hidup saya. Saya berdiri tegap, menghikmati dan sekaligus menghormati bendera tercinta itu di benua yang nun jauh dari negaraku. Sejak saat itu, rasa mencintai indonesia semakin mengakar di sanubariku. Kesadaran saya tersentak bahwa saya adalah benar – benar orang INDONESIA.

Berangkat dari kisah di atas, rasa cinta itu semakin hari semakian menggebu, tidak terbendung lagi. Dan saya semakin rajin untuk melihat kondisi bangsa tercintaku. Hampir setiap hari saya mencari informasi tentang bangsaku, luapan cinta ini harus mampu merubah kondisi bangsaku saat ini. ekspresi cinta yang dalam ini lah yang membuatku berpikir tentang kemajuan bangsa indonesia. Setelah banyak analisis yang saya lakukan dari hasil research maka saya menyimpulkan bahwa bangsa ini masih terjajah, belum merdeka. Kalau dahulu bangsa indonesia terjajah oleh kolonialisme dan imperialisme fisik, mereka hanya menjajah tanah kita saja. Tetapi sekarang mereka tidak hanya menjajah tanah saja, melainkan hidup kita, hidup bangsa indonesia. Dan bentuk dari penjajahan baru itu adalah System.

Imperialime Baru

Ada dua hantu besar yang sekarang sudah banyak mencengkeram negara – negara yang sedang berkembang termasuk indonesia, dua hantu besar itu adalah Bank Dunia, WTO ( World Trade Organization), dan IMF ( International Monetary Fund). Bangsa kita hanya menjadi boneka bagi mereka, seakan – akan mereka adalah candu bagi bangsa kita. Kalau kita sedikit flash back pada era krsisi moneter yang terjadi pada tahun 1997 – 1998. Kita akan melihat bagaimana dua kekuatan besar itu banyak meng – intervensi negara kita dan pada gilirannya bangsa kita semakin parah di tengah – tengah krisis. belum lagi wacana globalisasi yang di terjemahkan oleh banyak kalangan sebagai jalan masuknya para investor asing di negeri ini.

Inilah akibatnya bagi indonesia : 80 persen penduduk jadi korban, sementara 20  persen orang – orang super kaya makin di untungkan. Hutang kita semakin meroket (sudah di atas 2000 triliyun rupiah). BUMN – BUMN strategis seperti Indosat dan Telkomsel di jual.

Belum lagi para petani semakin tercekik, menjerit, barang – barang pokok semakin naik, pupuk sebagai harapan terakhir buat para petani yang merupakan profesi mayoritas masyarakat indonesia melambung tinggi, sementara itu bangsa ini malah banyak mengimpor barang – barang pokok dari luar negeri terutama beras.

Hal ini menjadi keprihatinan mendalam bagi kita semua karena melihat kondisi kritis yang di alami bangsa ini sudah sangat akut. Oleh karena itu sebagai anak bangsa yang mencintai ibu pertiwi ada beberapa langkah alternative yang bisa kita laksanakan untuk menyelamatkan bangsa ini dari imperialisme dan krisi ekonomi jilid 2. Beberapa di antaranya adalah :

  1. Kita harus mencintai produk indonesia, apapun itu, agar ekonomi rakyat kita terus stabil dan tidak mudah di libas oleh investor asing.
  2. Bersikap kritis terhadap kebijakan – kebijakan pemerintah yang pro investor asing.
  3. Penguatan ekonomi rakyat kecil, terutama di pasar – pasar tradisional sebagai basis pertahanan sekaligus perlawanan agar mampu melwawan gempuran babrang – barang asing.
  4. Memperbanyak home industry/ lapngan pekerjaan bagi rakyat seluas – luasnya agar mereka bisa survive dan mandiri secara ekonomi.
  5. Dan yang terakhir adalah meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini, agar kedepan kita mampu menyiapkan generasi – generasi bangsa yang berkualitas, sehingga tidak selalu menjadi bangsa yang terbelakang.

 

Maju dan mundurnya bangsa ini terletak pada kekuatan cinta kita terhadap negeri ini, semakin kita mencintainya , maka semakin mennggelora semangat kita untuk merubah bangsa ini menjadi lebih baik di masa depan. Merdeka Bangsaku !!!.

 

 

Post Terkait :

One thought on “Kita Tidak Akan Pernah Mencintai Indonesia Dengan Tulus

  1. Artikel ini sungguh menyentak jiwa saya sebagai warga negara yang belum memberikan secuil sumbangsih pun pada negeri pertiwi ini. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *