Membaca Kembali Kisah Nabi Musa dan Fir’aun

Oleh: Taufiq Ahmad Al Masih*

Ketika bayi Musa alaihissalam disodori roti dan bara di depannya, bayi yang cerdas itu tentu saja ingin mengambil roti. Tapi malaikat Jibril alaihissalam menampik tangannya, dan mengarahkan pada bara.

Sialnya, tangan mungil Musa yang memegang bara itu langsung memasukkan mulutnya. Mungkin ia mengira yang terpegang adalah roti, yang dengan intervensi jibril belum terasa kepanasan di tangan. Baru ketika sampai dimulut, terang saja bayi Musa menjerit. Mulutnya terluka bakar, yang sampai kelak dewasa, lidah Musa tidak fasih. Namun kita tahu, nyawa bayi Musa (kembali) selamat.

Sejak itu Firaun baru percaya bujukan istrinya, bahwa bayi yang membuatnya curiga bakal merongrong kekuasaannya sebab menjambak jenggotnya, ternyata hanya gejala paranoid belaka. Bayi itu hanya bayi, yang bodoh dan lemah. Toh juga tinggal di istana, yang terpantu gerak-geriknya. Toh, membunuhnya tidak menambah sedikit pun kekuasaannya.

Paranoid Firaun itu berlandaskan ramalan ahli nujumnya tentang adanya bayi yang terlahir dari Bani Israel, yang bakal meruntuhkan kerajaannya. Yang sebab itu, ia perintahkan bawahannya untuk memburu dan membunuh tiap bayi laki-laki Israel yang terlahir. Dan Musa yang masih bayi dihanyutkan ke sungai Nil, yang ndilalah ditemukan istri Firaun dan diadopsi jadi anaknya.

Jadi, apakah Musa yang hendak memilih roti tapi diarahkan memakan bara hingga mulutnya terluka bakar itu suatu musibah atau anugerah?

Ketika Musa dewasa dan sudah menjadi rasul, ada kisah yang mirip dengan masa kecilnya itu. Hanya beda posisi. Dulu sebagai orang pertama, kini orang ketiga. Begini.

Ketika Musa kalimullah mulai merasa dirinya kondang, Allah mendidik nabi yang jadi “teman bicara”-nya itu dengan menyuruhnya bertemu sosok lain, yang misterius, yang waskita. Musa harus berguru padanya. Sosok yang kita kenal dengan nama Khidir alaihissalam itu.

Khidir yang ditemui Musa, langsung mengajukan syarat. Untuk tetap mengikutinya, Musa dilarang mempertanyakan apapun yang dia lakukan. Batasnya sampai tiga kali. Itu pun Khidir memanti-wanti di awal. “Kamu tidak bakal kuat,” katanya. Tapi Musa yang keukeuh akhirnya menerima syarat itu.

Dan benar, dalam awal perjalanan ketika mereka menyeberangi sungai menggunakan perahu, Khidir tiba-tiba melubanginya. Sontak saja Musa memprotes. Tentu bukan semata itu akan berbahaya sebab perahu bakal tenggelam. Tapi itu perahu milik orang lain. Dan “merusak” barang yang bukan haknya adalah kezaliman. Dan kezaliman di depan mata harus diprotes.

Namun Khidir malah mengingatkan perjanjian sebelumnya. Bahwa apapun, Musa dilarang mempertanyakan. Toh perahu tidak tenggelam sampai seberang.

Baru di akhir ketika mereka harus berpisah sebab batas tiga kali sudah tuntas dilanggar Musa, berbagai kejadian ganjil itu terjelaskan. Bahwa perahu itu milik orang miskin. Sementara sebentar lagi akan ada para penjarah. Melubanginya, akan menyelamatkan perahu itu, sebab oleh penjarah akan dianggap perahu rusak.

Sebagaiman cerita Musa kecil mulutnya harus terluka, apakah yang menimpa pemilik perahu yang miskin itu musibah atau anugerah?

Hidup memang nampak penuh paradoks. Hal yang kita sangka baik atau buruk, ternyata kita pandang sebaliknya setelah kita tahu apa hakikatnya. Namun hakikat sering diselimuti tabir, dan manusia terlalu banyak hijabnya.

Peristiwa “menyakitkan” yang menimpa kita, sering langsung kita pahami sebagai musibah. Baru belakangan ketika tabir itu terbuka, kita memanggap yang musibah itu sesungguhnya anugerah.

Begitu pula halnya jika peristiwa tidak mengenakkan itu menimpa orang lain sementara pelakunya kita tahu. Kita yang punya rasa kepedulian sewajarnya langsung memprotes, sebagaimana Musa yang protes terhadap Khidir atas “kezaliman” yang dia lakukan pada pemilik perahu. Maka tindakan itu tentu saja bisa dibenarkan. Bahkan kita diperintah mengubah kemungkaran semampu kita.

Namun, dalam kasus perahu itu, baru akhirnya Musa menyadari bahwa ternyata hanya pandangannya saja yang kurang luas. Pemilik perahu akan bersyukur sebab perahunya selamat dari jarahan, meski harus menambal lubang perahunya. Tak masalah.

Ada banyak ayat Tuhan yang menyuruh kita meluaskan pandangan agar tak perlu waktu lama untuk membuka tabir peristiwa yang menimpa kita. Meski kita diwajibkan berusaha, rela atas takdir adalah kuncinya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” begitu firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 216. Rasa suka dan kebaikan memang sering tak seiring. Begitu sebaliknya, rasa benci dengan keburukan juga sering tak seiring.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Sungguh, seiring dengan kesulitan, ada kemudahan”. Bahwa kemudahan sesungguhnya itu bukan semata jauh setelah kesulitan, tapi membersamai, beriringan. Cuma memang ada tabir yang membuat kita sering tak mampu mengenalinya.

Namun tabir-tabir itu manusiawi. Kita hanya diberi ilmu setitik dari ilmu Allah yang tak terbatas. Sebab itulah, di tengah keterbatasan pikiran kita sebagai manusia, kita disuruh beriman. Dan salah satu bentuk keimanan adalah pada ketentuan takdir. Maka dalam hal ini, Allah menyuruh kita berbaik sangka pada hambanya. Sebab, “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku,” firmannya dalam Hadits Qudsi.

*Taufiq Ahmad Al-Masih (Santri lelana. Pengkaji sejarah independen).

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *