Memaknai Momentun Peringatan Hari Santri

Memaknai Momentun Peringatan Hari Santri

Oleh: Farhan Ahmad Hanafi

Hari Jum’at 22 Oktober 2021, merupakan peringatan ke-7 Hari Santri Nasional di Indonesia. Latar belakang dari adanya peringatan ini tak lain dan tidak bukan untuk mengenang jasa-jasa para ulama dan santri atau bisa juga disebut kaum sarungan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Banyak dari kita yang tidak mengetahui bahwasanya peran para ulama dan para santri sangatlah vital dalam menegakkan kemerdekaan di negeri kita tercinta ini. Sangat amat disayangkan karena kisah perjuangan para ulama dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak banyak diajarkan dalam pelajaran-pelajaran sejarah di bangku sekolah.

Penetapan hari santri ini dapat dimaknai sebagai bentuk pengakuan dari pemerintah terhadap kalangan ulama dan santri karena telah berperan dalam menegakkan kemerdekaan dan menjaga keutuhan NKRI. Selain itu juga sebagai pengingat bagi para santri pribadi bahwa kita akan menjadi penerus perjuangan para ulama yang nantinya akan berkiprah di tengah masyarakat untuk mengatasi berbagai permasalahan yang bermunculan.

Berkaitan dengan pemaknaan yang pertama, tak lain dan tidak bukan didasari dengan adanya resolusi jihad yang di pelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945—inilah yang kemudian menjadi dasar dalam penetapan hari santri nasional. Resolusi jihad inilah yang kemudian menggugah semangat perlawanan kaum bersarung untuk ikut andil angkat senjata dalam melawan para penjajah.

Perlu diketahui bahwa para tokoh-tokoh petinggi negara pejuang kemerdekaan zaman dahulu ketika hendak mengambil keputusan yang berkaitan dengan bangsa Indonesia selalu di sowankan terlebih dahulu kepada ulama. Antara petinggi negara pejuang kemerdekaan dengan para ulama pun memiliki hubungan yang dekat. Yang mana dalam pengambilan kebijakan selalu melibatkan masukan, nasihat, dan persetujuan dari para ulama.

Kemudian, menengok pada kondisi saat ini, kita semua masih dihadapkan dengan kondisi yang sulit. Dimana kesulitan itu dipicu oleh kecemasan terhadap virus covid-19 yang sedang mewabah. Semua orang panik dan ketakutan karena dikabarkan apabila terjangkit virus ini bisa berakibat kematian. Semakin banyak nyawa manusia tewas dikabarkan, semakin menimbulkan kecemasan.

Dampak dari permasalah tersebut berimbas terhadap segala sektor kehidupan masyarakat. Berbagai masalah baru mulai bermunculan sebagai akibat dari adanya pandemi ini. Tentunya masyarakat memiliki respon tersendiri dalam menyikapi berbagai permasalahan yang ada. Ada yang acuh tidak percaya atas keadaaan, dan adapula yang sangat berhati-hati untuk senantiasa menjalankan segala protokol kesehatan yang telah di tetapkan.

Selain itu juga masih banyak permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar kita. Baik itu yang berkedok agama, sosial, politik, dan lain-lainya. Dengan adanya semua permasalahan yang muncul, inilah saatnya bagi para santri untuk turut serta dalam menyelesaikan permasalahan umat sebagai bentuk pengabdian kepada NKRI.

Inilah saatnya kita menunjukkan bahwasanya santri bukanlah seseorang yang hanya sekedar belajar ilmu agama. Namun lebih kompleks dari itu, santri dididik dalam berbagai macam disiplin ilmu. Dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa santri itu multi-talent (opo-opo iso).

Seorang santri memiliki pemahaman yang matang tentang nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Di dalam bangsa ini terdapat banyak sekali macam perbedaan. Disini sangat diperlukan sikap toleransi antar warganegara. Nilai toleransi perlu dikedepankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita sehari-hari.

Sebagai santri, kita harus menjunjung tinggi nilai toleransi. Sekalipun terdapat banyak sekali perbedaan, kita harus menerimanya sebagai sebuah anugerah. Sekalipun berbeda, kita semua adalah saudara—saudara seagama, sauadara setanah air, dan saudara sebagai sesama manusia. Pemahaman seperti inilah yang harus disampaikan santri kepada masyarakat sebagai upaya mengatasi dan mencegah adanya tindak radikalisme dan segala jenis konflik perpecahan.

Seorang santri sangat menjunjung tinggi nilai kedisiplinan. Karena di pesantren kedisiplinan ditanamkan di dalam diri santri dengan sangat tegas. Santri diajarkan untuk disiplin di dalam segala aspek kehidupan. Dalam penerapannya, kedisiplinan saat ini dapat diaplikasikan sebagai bentuk upaya pencegahan penyebaran virus covid-19 yaitu dengan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dan menaati segala aturan yang ada.

Kedisiplinan itu bisa kita aplikasikan dengan cara yang paling sederhana (Menerapkan 5M)—mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Dengan segenap kesadaran dan memulainya dari diri kita sendiri secara tidak langsung kita membantu menyelamatkan banyak jiwa manusia walaupun hanya dengan tindakan yang terbilang sangat amat spele.

Di banyak pesantren juga sudah banyak dilaksanakan program vaksinasi. Sebagai upaya atau ikhtiar dhohir kita sebagai santri yang nderek kyai, ikut sertakan diri kita dalam mencegah penyebaran virus covid-19 ini dengan vaksinasi. Bisa dibilang keikutsertaan ini juga merupakan bentuk khidmah kita kepada masyayikh. InsyaAllah.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat. Santri dituntut untuk lebih cakap digital dan mampu memanfaatkan keadaan yang serba menggunakan kemajuan teknologi. Keadaan ini sangat memberikan peluang bagi para santri untuk lebih memperluas jangkauan dalam menyebarkan ilmunya. Dan tentunya keberadaan teknologi ini akan semakin memudahkan kita.

Sebagaimana yang sering disampaikan oleh guru kita, bahwa “ilmu yang berkah adalah ilmu yang bisa memberikan manfaat kepada pemiliknya dan juga orang lain”. Dengan demikian sebagai santri kita harus menyalurkan manfaat dari ilmu yang kita miliki, salah satunya dengan cara dakwah via media sosial. Sebagai santri kita harus mampu memanfaatkan trobosan-trobosan baru sebagai bentuk kemajuan umat muslim dalam menggunakan teknologi.

Banyak sekali fasilitas digital yang bisa dimanfaatkan. Santri harus turut serta dalam meramaikan media sosial dengan konten-konten positif. Dengan semakin menjamurnya pengguna media sosial, sasaran yang dituju juga akan semakin luas. Tentunya akan semakin besar peluang para santri untuk turut serta berjuang mendakwahkan ajaran islam yang rahmatan lil `aalamin dan toleran ke semua kalangan pengguna media sosial.

Walaupun peringatan hari santri nasional kali ini masih dibalut dengan suasana pandemi, namun nilai-nilai dan semangat perjuangan yang dicontohkan oleh para ulama harus tetap ditanamkan didalam diri kita. Semangat juang para ulama dalam berjihad harus kita adopsi sebagai bekal bagi para santri dalam berupaya meneruskan misi para ulama yaitu menyebarkan agama islam yang rahmatan lil `aalamin.

Dalam keadaan seperti apapun santri harus mampu meneruskan perjuangan ulama dengan cara masing-masing sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Maka sangatlah penting bagi kita para santri untuk memaknai momentum peringatan hari santri ini dengan senantiasa menanamkan rasa tanggung jawab di dalam diri kita.  Karena nanti atau mungkin sekarang kita merupakan orang yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Kita merupakan penerus perjuangan para ulama dan masyayikh dalam menuntun umat serta senantiasa menjadi bagian dalam menjaga perdamaian dan keutuhan NKRI. Janganlah patah semangat untuk terus belajar karena kita harus mumpuni dalam berbagai macam bidang. Dengan demikian, kita bisa bersama-sama saling melengkapi dan menguatkan dalam rangka mengabdi kepada negeri ini. Amiin, InsyaAllah.

Biodata Penulis :

Farhan Ahmad Hanafi atau seringkali disapa Farhan. Lahir 19 tahun yang lalu di kota Yogyakarta. Merupakan seorang mahasiswa di Universitas Islam Indonesia prodi Akuntansi dan merupakan santri di salah satu pesantren yang terkenal di Yogyakarta yaitu Pondok Pesantren Sunan Paandan Aran. Untuk mengenal lebih dekat bisa cek akun instagram @farhan.ah_

 

Post Terkait :

One thought on “Memaknai Momentun Peringatan Hari Santri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *