Maulid Diba’ : Senjata Pemersatu Emak Berdaster

Kalau ada yang menanyakan me time emak-emak berdaster yang tergabung dalam jamaah Sholawat dan tahlil tingkat desa dan kecamatan itu apa? Maka jawabnya adalah kumpul-kumpul membaca Maulid Diba’.

Jika selama ini digembor-gemborkan propaganda bahwa perempuan banyak yang berdosa karena mengumbar aurat, maka di desa dan di kecamatan propaganda seperti itu bakal dicuci bersih dengan kegiatan dziba’an yang rutin dilakukan setiap seminggu sekali.

Bisa dibayangkan, ketika banya ulama’ mengatakan dalam dawuh mereka bahwa dengan membaca shalawat maka akan semakin mendekatkan pembacanya kepada Rasulullah, daftar nomor satu untuk kategori orang yang akan mendapatkan syafaat dari Beliau, maka sholawatan ini menjadi me time yang penuh barokah dan berkah bagi Emak-emak yang katanya demen ghibah, demen rasan-rasan tetapi percayalah banyak diantara mereka yang tidak lupa menyediakan makanan enak di atas meja.

Berkah? Tentu saja. Mereka sudah melakukan kegiatan yang diganjar pahala. Banyak dan besar. Mana ada ganjaran yang lebih hebat dan dahsyat dari mendapatkan syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Betul, kan?

Berkumpul dan membaca maulid Diba’ juga menjadi senjata pemersatu bagi para emak-emak kader fatayat dan muslimat untuk bersatu dalam menegakkan syiar.

Bayangkan saja, sejak fasal laqad jaaakum sampai diakhiri do’a, isi semua maulid Diba’ itu mengagungkan nama Rasulullah, menyelami perjalanan kenabian Rasulullah dari lahir hingga mendapatkan wahyu. Bahkan, saat syair-syair nadlam sholawat didendangkan, isinya semua penuh pujian kepada Rasulullah.

Ya Nabi salam ‘Alaika

Ya Rasul salam ‘alaika

Ya Habib Salam ‘alaika

Sholawatullah ‘Alaika

Anta Syamsun Anta Badrun

Anta Nuurun fauqa nuuri

Anta iksiiruwwaghali

Anta mishbaahussudhuri

Bagaimana syair pujian ini tidak menggetarkan hati. Semua sejenak terpukau dengan alunan nada saat sang pembaca membacanya dan mendendangkan syairnya dengan nada yang indah.

Semua seolah terkesima dengan syair itu, meski tidak dipungkiri semua emak-emak itu pastilah ada yang tidak mengerti arti syairnya.

Intinya mereka semua cinta dan menghormati Kanjeng Nabi, jadi meskipun tidak tahu artinya dhouq atau citarasa syair dalam bahasa Arab ini tetap menembus hati dan terasa menenangkan.

Selain itu dengan solawatan seminggu sekali ini, Emak-emak pejuang kebahagiaan keluarga ini jadi bisa berdzikir setelah mungkin selama berhari-hari tidak sempat duduk khusyuk setelah salat untuk berdzikir yang serius.

Sebentar lagi bulan Maulid datang, para emak-emak berdaster anggota jamiyah ini sudah pasti sudah memiliki bayangan sedekah apa yang akan dikeluarkan untuk memperingati kelahiran Rasulullah sang pembawa kedamaian.

Semoga syafaat Rasulullah akan tercurahkan kepada umatnya yang cinta, yang bersemangat dalam menyebut namanya dalam setiap kesempatan serta mencintai beliau segenap jiwa.

Shallallahu ‘Alaa Sayyidina Muhammad

Salam takzim wahai Rasulullah.

 

 

Tabik.

 

Mambaul Athiyah

Pecinta sastra, penulis aksara, emak-emak berdaster anggota jam’iyah dziba’an tingkat desa.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *