Mata Uang Pesantren dan Pendidikan Karakter

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A

Sudah tiga tahun ini, rupiah tidak berlaku di lingkungan pesantren, semua transaksi hanya menggunakan mata uang pesantren, yang dibagikan tiap hari minggu ke semua santri, uang ini diambil dari nilai tabungan bulanan santri,  dengan sistem ini memudahkan kami mengatur jumlah/proporsionalitas peredaran uang, tidak berurusan dengan perbankkan tiap pembagian, dan bisa membatasi jajan tiap santri secara merata, karena berapapun nilai tabungan santri pengambilan maksimal hanya 100 ribu perminggu, kecuali ada keperluan urgen boleh saja  mengajuan tambahan.

Tentu dengan sistem ini melatih semua santri untuk lebih memanage keuangan sesuai kebutuhan, bukan keinginan dan mendidik mereka tidak boros dan berlebih dalam Jajan harian, kelebihan sistem ini juga, bagi orang-orang yang berduit sekalipun tidak bisa gagah-gagahan dan sombong dengan jajanan berlebih, di sini semua menjadi sama rata.

Yang sedikit berbeda tahun ini di mata uang, sebelumnya menggunakan Icon gambar para ustadz, tahun ini di ubah dengan menggunakan gambar latar pesantren dan ada pesan yang tertera di tiap mata uang sebagai pendidikan untuk mereka, dengan kata-kata sebagai berikut:

“Milikilah kekayaan, tapi jangan pernah hatimu terpaut mencintainya”

“Hiduplah untuk selalu memberi bukan menerima, agar Allah angkat derajatmu selalu menjadi “sang pemberi”

“Jika sudah mengerti indahnya berbagi, niscaya kita akan selalu berbagi untuk sesama”

“Berbagi akan semakin membuat kita kaya, karena allah akan lipatkan rizki kita, itulah Janji-Nya”

Semoga pesan ini terserap dan mendarah daging pada jiwa santri-santri kami. Amin.

 

*Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *