Manusia: Animal Syimbolicium

Dalam setiap tradisi agama termasuk didalamnya kitab suci pasti menyinggung peran manusia sebagai aktor yang memiliki peran penting dalam menjalankan misinya sebagai pembawa kebenaran Tuhan. Namun, disisi lain ada juga manusia-manusia yang digambarkan sebagai tokoh yang menciptakan chaos dalam kehidupan. Setiap kitab suci dalam agama-agama samawi termasuk agama “bumi” juga menyinggung berbagai macam tipologi manusia. Ini tidak beda dengan tokoh-tokoh dalam sebuah lakon, drama, sandiwara yang terjadi dalam pentas bumi ini.

Betapa pentingnya manusia sampai ia menjadi pembahasan dan tidak selesai dibicarakan dalam setiap zaman. Berbagai macam literatur pasti tidak melewatkan manusia dalam menciptakan berbagai macam produk kebudayaan untuk melanjutkan kehidpannya di bumi ini. Setiap masa pasti ada manusia-manusia yang memiliki kreasi besar dalam menentukan kemajuan setiap peradaban.

Ernst Cassirer filsuf kebudayaan dalam An Essay on Man (1944) mendedahkan secara filosofis dan dalam tentang manusia sebagai animal symbolicum, melalui simbol ia mampu mengkonstruksi religi, mitos, bahasa, seni, sejarah, dan ilmu pengetahuan untuk melanjutkan kehidupannya. Yang unik adalah bahwa religi itu sebenarnya muncul dari sebuah mitos, awalnya manusia ingin berpartisipasi dalam alam semesta ini kemudian dia menciptakan banyak simbol agar kehidupannya terus berlanjut. Dan dengan simbol ini juga manusia memiliki imajinasi, kebudayaan dan masa depan. Dengan seni manusia mampu untuk mengkopi dan mengimitasi keindahan realitas alam ini. Alam ini sebagai sebuah lautan inspirasi yang selalu direguk oleh manusia. Sementara bahasa manusia membutuhkan simbol interaksi dengan manusia lain, karena itu dalam bahasa ada istilah etimologi, emosional, dan relasi antara identitas dengan kata. Ilmu pengetahuan jelas menjadi kekuatan utama yang dimiliki manusia di dalam menata dunia ini.

Pertanyaan klasik yang selalu muncul adalah apa perbedaan antara manusia dan binatang ? dalam konteks simbol ini, manusia adalah mahluk yang ideal. Dia mampu melakukan imajinasi, dia mampu membangun kebudayaan. Sementara binatang adalah mahluk yang faktual. Meskipun ada binatang yang memilki kecerdasan seperti anjing, lumba-lumba, kucing, dan sederet binatang yang bisa di latih mereka membutuhkan material atau barang dulu untuk mampu melakukan hal-hal yang cerdas.

Selain itu, simbol bagi antropolog kenamaan Clifford Greetz (1973) adalah media yang menampung makna, dengan media itu kemudian membentuk pandangan hidup manusia. Karena itu kebudayaan adalah jaring-jaring makna yang dibentuk manusia, kemudian manusia memberi tafsir atas jaring-jaring makna tersebut sehingga membentuk perilaku dan tata kehidupannya. Dalam proses kehidupan manusia pasti mengalami berbagai macam dinamika dan problematika yang dihadapinya. Sebab itu, manusia melihat kebudayaan sebagai simbol yang bekerja mengatasi konflik, ambivalensi, dan kompleksitas hidup manusia.

Sampai disini kita membayangkan manusia memiliki kapasitas yang tidak sederhana, dalam diri manusia mengandung kompleksitas, kelengkapan, modalitas yang paripurna. Sehingga ia selalu merasa punya hak di dalam menguasai semesta ini. Ada yang pada akhirnya memanfaatkan kapasitas dirinya untuk membangun dan menata lebih baik dunia ini. Namun banyak juga manusia yang merasa punya otoritas dan empunya semesta ini kemudian semena-mena, eksploitatif, desdruktif, dan tidak menjadikan simbol sebagai media untuk menata proses-proses sosial. Lalu dengan kreativitasnya manusia menciptakan norma, nilai-nilai, ritus, agar dunia ini stabil dan manusia pada akhirnya akan terus menjadi paartisipan yang baik.

Dalam konteks pandemi ini, mari kita kembali kepada diri kita. Melakukan perjalanan kedalam untuk mengenali secara detail, satu persatu jejaring makna yang sudah kita rajut selama ini. Apakah dari rajutan itu ada yang salah sehingga tata dunia ini mengalami kebangkrutan akibat covid 19 ini. Bagaimana wajah kebudayaan dan peradaban manusia pasca covid 19 ini. Dan apakah mampu simbol itu bekerja kembali sesuai fungsinya untuk membantu memecahkan masalah kehidupan manusia di bumi ini ?  biarkan sejarah yang menjawab.

Oleh : M. Farid Abbad

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *