Makna Tersirat “Semua Adalah Guru” Menurut sebagian Santri di Indonesia

Oleh: Muhammad Azmi Auf

Tulisan ini bertujuan untuk mengupas sebagaimana jauh pemikiran seseorang dengan melibatakn santri sebagai obyek utamanya dalam menanggapi sebuah makna yang tersirat dari pendapat “semua adalah guru”, latar belakang dari tema yang saya muat, karena penulis sering kali bertumpuan dari banyak penyimpangan yang merubah cara dia berfikir dan menghadapi sebuah persoalan dengan dasaran guru. Dalam hal ini ada sebuah nilai moral yang berkalaborasi dengan pemahaman estetika dalam sudut pandang seseorang yang mengajarkan sikap Husnudzon pada setiap apa yang ada di depannya dan di dalam pendapat tersebut banyak menimbulkan pertanyaan dan tanggapan dalam kaca mata sesorang, yang nantinya akan kami kupas melalui metode-metode yang mudah ditangkap oleh familiar masyarakat, Metode yang kami pakai melalui pendekatan dan pengamatan yang menggunakan studi daftar pustaka. Sumber data primer yaitu melalui wawancara-wawacacara dengan berbagai narasumber. kesimpulan penelitian ini adalah sebagai tolak ukur yang tentunya sebagai jembatan khusus untuk menuju Ma’rifat Allah SWT, dengan panduan dan dasaran Al Qur’an dan Al Hadis, meskipun dari tema yang kami muat masih dalam binkai angan ataupun transparan.

Dalam dunia pendidikan pasti tidak terlepas dari peran seorang guru. Guru dipandang sebagai agen sosial yang sangat penting dalam proses pendidikan. Bapak pendidikan, Ki Hajar Dewantara dengan semboyannya yang sangat melegenda “Ing Ngarso Sing Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”. Semboyan tersebut sesuai dengan peran seorang guru, yaitu di depan memberikan contoh. Guru sebagai teladan sangat dibutuhkan untuk memberikan contoh kebiasaan-kebiasaan yang baik dan akan membentuk karakter siswanya. Di tengah memberikan semangat dengan membuat siswa termotivasi dengan meningkatkan pengetahuannya dan di belakang memberikan dorongan atau motivasi. Seorang guru pada masa ini dituntut untuk menjadi motivator bagi siswanya sebab tanpa adanya motivasi seringkali para siswa malas belajar bahkan tidak memahami tujuan belajar itu sendiri. Peran guru sangatlah luas

Pemikiran sesorang itu mulai dari yang dasar adalah tentang pengertian atau konsep, proposi atau pernyataan dan penalaran. Pada dasarnya tidak ada proposi tanpa pengertian/konsep, dan tidak ada penalaran atau proposi. Ketiganya adalah bentuk pemikiran manusia yang saling terkait dan harus dipahami bersama-sama, kesimpulannya adalah dari ketiganya saling menguatkan

Dari artikel yang saya muat. Kita tidaklah memandang sesuatu dari definisi secara umum. Sedikit kita lirik dari sisi spiritual tasawufnya. Terkait tema yang saya muat berbahan dasar guru. Dengan melibatkan panca indra semua. Untuk sama-sama berkalanorasi dan berkompetisi mengupas sedikit demi sedikit nilai lebih yang ada di dalamnya. Contoh saja guru menurut UU No. 14 Tahun 2005 Tentang guru dan dosen, pengertian guru adalah tenaga pendidik profesional yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah

 

Tolak Ukur Berpendapat

Pendapat merupakan sebuah pandangan atau buah pikiran seseorang terhadap suatu kebenaran dan kebenarannya relatif karena dipengaruhi unsur pribadi dan menurut pandangan masing-masing individu, baik berupa penilaian maupun saran. Pendapat juga sering  disebut  opini, gagasan atau argumentasi.

Dalam pembahasan ini. Sedikit mengupas antara sinkronisasi antara pendapat satu dengan pendapat yang lain. Sering kali kita temui di suatu forum atau lainya. Perbedaan pendapat. Dari perbedaan itu kita di latih untuk menjadi bijak atas dasaran kedewasaan kita. Dalam sudut pandang santri. Imam Safi’i mengemukakan bahwa : Pendapatku benar, tetapi memiliki kemungkinan untuk salah, sedangkan pendapat orang lain salah, tetapi memiliki kemungkinan untuk benar. Pendapat bijak tersebut menunjukkan, bahwa kebenaran itu relative dan tidak mutlak.

Suatu hal yang harus dipahami, bahwa perbedaan pendapat / kesimpulan harus tetap memberikan ruang untuk dilakukan pengkajian secara obyektif. Salah benar bukanlah yang menentukan, tetapi proseslah yang seharusnya menjadi kajian akademis. Kesimpulan bukan merupakan jawaban terakhir yang bersifat absolut, melainkan merupakan hipotesis yang selalu membuka ruang untuk pengkajian demi memperoleh kebenaran hakiki.

Perbedaan pendapat / kesimpulan harus tetap dihargai dan dihormati sepanjang telah dilakukan usaha dengan sangat bersungguh-sungguh menggunakan semua kesanggupan dalam menetapkan suatu hukum (ijtihat). Terjadinya perbedaan pendapat menunjukkan adanya dinamika berfikir , menunjukkan ekesistensi dan mendorong pengembangan ilmu pengetahuan serta perbedaan pendapat adalah rahmat yang harus disyukuri.

 

Menurut Achamd Hanif Imaduddin

(Mahasiswa UGM- Santri alumni Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso Peterongan Jombang)

Menurutku, dalam hal ini, yang dimaksud guru adalah seseorang yang lebih memahami suatu permasalahan daripada orang lain. Bukan berarti guru dalam arti tenaga pendidik di sekolah/kampus. Dengan demikian, pendapat tersebut memiliki makna bahwa semua orang dapat menjadi guru dengan mengajarkan ilmu yang mereka miliki kepada orang lain.

Landasan dalam pengambilan pendapat itu adalah pemaknaan terhadap arti guru dan kesadaran bahwa tidak ada orang yang ahli dalam segala bidang sehingga kita membutuhkan orang lain untuk memahami beberapa permasalahan.

Apabila ditanya posibilitas dari implementasi pendapat tersebut, maka jawabannya adalah “mungkin”. Misalnya, seorang tokoh agama mengajarkan keagamaan kepada pebisnis dan seorang pebisnis mengajarkan perkara finansial kepada tokoh agama. Hal ini mungkin dilakukan karena, lagi-lagi, tidak ada orang yang ahli dalam segala bidang sehingga manusia saling membutuhkan untuk memahami sebuah ilmu.

Sayangnya, pendapat itu “sulit” diimplementasikan ketika manusia merasa gengsi dan paling tahu sendiri. Misalnya, orang tua yang tidak mau mendengarkan pendapat anaknya tentang pengajian yang menyesatkan atas dalih karena anaknya masih sedikit pemahaman. Dalam kasus ini, perbedaan usia terkadang menjadi hambatan dalam mewujudkan pendapat “semua adalah guru”. Padahal, usia tidak menjamin menunjukkan tingkat pemahaman ataupun kedewasaan seseorang. Dalam kasus orang tua dan anak, mungkin saja si anak adalah alumnus pesantren dan memiliki pemahaman agama yang lebih komprehensif daripada orang tuanya sehingga anak tersebut mampu memperingatkan orang tuanya.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh santri dalam mengamalkan pendapat tersebut dan dapat diterima masyarakat. Misalnya, di lingkungan saya belum semua orang tua benar-benar tahu bacaan-bacaan dalam salat. Terkadang, mereka sekadar salat dan melakukan gerakan salat karena itu adalah kebiasaan. Dalam beberapa momen, orang tua yang mengetahui status saya sebagai santri kerap menanyakan beberapa bacaan salat. Pengalaman seperti inilah yang menjadi bukti bahwa pendapat “semua adalah guru” masih mungkin dan diterima oleh masyarakat.

 

Menurut Fahruddin Arroziy

(Santri Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban)

Tidak semua ilmu itu harus di hasilkan melalui bangku kelas, sebaliknya jika kita bisa belajar melalui apapun tentu kita akan menjadi manusia yg sebenarnya, jika kita Hanya berpikir kalau belajar cuma dalam bangku sekolah, setiap manusia akan condong memiliki sikap meremehkan terhadap selainnya, karena dia menganggap bahwa sekelilingnya tidak akan membawa manfaat padanya, sikap inilah yg membuat manusia semakin egois terhadap yg lain

Tentu bisa, kita bisa belajar melalui sifat” baik yang di miliki sakitar kita, dan menirunya, karena belajar bukan cuma materi, tapi yang lebih penting bagaimana kita bisa beradaptasi dgn sesama, menjadi seseorang yang di hormati bahkan di cintai dalam bermasyarakat

Adab sopan santun adalah bagian terpenting di kehidupan bermasyarakat, karena kita sebagai seorang santri harus mengamalkan ilmunya dan yang terpenting akhlaq Seperti sewaktu kita di pondok misalnya, selalu berupaya mencium tangan ustadz/para kyai, salah satu alasannya, mereka ingin keberkahan dari Allah ta’ala, melalui jalur melakukan akhlaq yg baik, sopan santun pada orang yg lebih tua atau lebih berilmu

 

Menurut Menurut Misbahul Munir

(Santri Pondok Pesantren Tarbiyyatut Tholabah Kranji Paciran Lamongan)

“Semua adalah guru” ada dua sudut pandang yang berbeda, satu memang iya semua adalah guru jika itu ada perbuatan yang bermakna baik maka sah jika semua adalah guru, hal sekecil apapun itu. Dua tidak sah jika ada yang mengatakan bahwa semua adalah guru kalau kita beracuan dengan sebagian ulama’ yang mereka bilang, belajarlah dengan orang berilmu (tidak semua orang berilmu).

titik beratnya menurut ku itu tidak pada semua orang adalah guru. Tolak ukurnya ya dari kaca mata keilmuan dia dan perilaku yang nampak,. Namun tidak semata² secara visual mudah dinilai sih, jadi perlu pengamatan lebih. bagi santri lingkungan bermasyarakat pasti sudah dapat dalam pengalaman di pesantren, yang pastinya ketika dalam masyarakat umum atau masyarakat nyata 50% pasti bisa di aplikasikan.

Ada pepatah bilang, katanya guru kencing berdili murid kencing berlari, jika itu benar maka tidak semua murid mau ikut meniru kalau dia sudah tahu bahwa itu salah, terkadang anak kecil pun masih ragu antara berani menegur dan tidak. Ada juga contoh lain buang sampah sembarang, saat ini orang yang di tegur pilih² siapa yang negur, anak kecil atau anak dewasa atau orang tua atau gurunya. Bisa saja sadar bisa saja tidak,. Lagi2 lihat siapa dia yang negur ber-ilmu kah atau biasa saja, atau orang biasa. semua bisa jadi guru dlm keluarga guru anak kita,tapi kalau guru dilembaga kita hrs punya bakat dan ijasa, tolok ukur adalah ilmu dan pengalaman, landasan juga ilmu, sangat bisa diaplikasikan dimasyarakat, contoh santri dlm masyarakat yg utama adab dan mengamalkan ilmu yang didapat begitu nak

 

Menurut Mohamad Hasan Alkafrowi

(Santri Pondok Pesantren HM al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri)

Kalau menurut saya pribadi, “semua adalah guru” maksudnya, siapapun yang mengajarkan kita tentang sesuatu yang mengandung manfaat dan keberkahan, layak untuk disebut guru. Siapapun itu. Tidak boleh saling pilih. pernah ada maqolah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa, “Aku adalah budak bagi orang yang mengajarkanku satu huruf.” Tolak ukurnya adalah “mengajarkan”. Maka tidak penting siapa dia, jabatannya apa, umurnya berapa, atau bahkan agamanya apa.

Dalam konteks bermasyarakat, kita mengenal istilah toleransi ya karena teman kita. Kita tahu bagaimana cara menjaga adab dan sopan santun kepada sesama juga dari teman kita. Maka, sudah sewajarnya, bagi kita untuk menjaga akhlak kita kepada tetangga, kepada masyarakat, kepada siapapun itu. Karena bagaimana pun juga, hidup dengan mereka akan mengajarkan kepada kita banyak hal

Biasanya, hidup masyarakat cenderung suka gotong-royong, toleransi. Nah, biasanya, nanti saat sudha boyong dari pondok pesantren, seorang santri akan dihadapkan oleh kehidupan barunya yang bertolak belakang dengan kehidupannya di pondok yang hanya diisi dengan ngaji, ngaji, dan ngaji. Maka, bagi para sudah selayaknya belajar kepada masyarakat sekitar atau tetangga terdekat tentang bagaimana cara menjalani silaturrahim yang baik, cara menjaga etika kepada yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda. Dengan begitu, masyarakat akan lebih mudah dalam menerimanya.

 

Menurut Lin zuy yin rahmah

(Santri Pondok Pesantren Tebuireng 4 Al Ishlah Kuala Gading, Batang Cenaku, Indragiri hulu, Riau)

Menurut pendapat saya guru itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa dengan rasa tulus di hatinya sehingga mereka mengajar,mendidik,membimbing seseorang, untuk memahami dan mengetahui arti dari segala sesuatu yang dia hadapi dalam kehidupan, sehingga mengarah pada suatu tujuan yang di inginkan oleh orang seseorang tersebut. peran dari seorang guru yang mana itu termasuk tujuan dan tugas dalam mendidik seorang murid. Dan pendapat ini juga dapat diaplikasikan, karena dalam mendidik pastinya seorang guru membimbing muridnya sehingga dapat hidup di tengah tangah masyarakat sekitar.

menyesuaikan pakaian sesuai tempat dan kondisi yang terjadi seperti:ketika menuju masjid menggunakan baju koko,sarung,songkok saan menuju tempat ibadah sedangkan ketika berkebun menggunakan pakaian berkebun,bukan lantas menggunakan sorban,gamis/jubah dll, karna kita harus menyesuaikan sesuai keadaan.

 

Menurut Ahmad

(Santri Pondok Pesantren Roudhotul Amin Kandangan Kalimantan Selatan)

Tanpa disadari kita selalu belajar dan mngajar degan cara bersosialisasi. tidak harus selalu di bangku sekolah. Pengalaman. sering kali saya melihat di tengah masyarakat seseoarang bisa menjadi seorang guru degan menyebarkan kebaikan. Sebgaimana sayyidina Ali berkata “aku adalah murid dari orang yg mngajar satu huruf”

Dapat kita aplikasikan, dan ini adalah salah satu motivasi dn dorongan bagi diri kita untuk mnebar kebaikan. Berusaha sllu mnjadi org yg berbuat baik kepada siapa saja khususnya menjadi guru bagi diri sendiri sebelum bagi banyak orang. Santri contohnya, mereka dilatih dan dibina agar suatu saat mereka bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Intinya kita bisa menghilangkan mindset orang, kalau guru atau pengajar hanya bisa didapat setelah gelar, pendidikan panjang, gajih skian , dan seragam saat mengajar. Tpi guru adalah kita yang selalu belajar untuk menebar kebaikan

Mengajar tanpa harus ada imbalan, bukan hanya dengan modul dan spidol, tapi juga dengan pengalaman hidup dan kepekaan terhadap kebaikan

 

Menurut Ainur Rizqi

(Mahasiswa UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta – Santri Alumni Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso Peterongan Jombang)

Guru adalah seseorang, (atau bahkan) sesuatu yang memberikan suatu pengetahuan. Pengetahuan adalah sesuatu yang sebelumnya ga tahu, lalu setelah mengetahui, maka saya tahu. Tanpa terkecuali. Dari sana saya beranggapan bahwa semua adalah guru.

Dalam hal ini say mendefinisikan atas berlandasan kebodohan, ketidaktahuan serta kenikmatan setelah mengetahui. Dan pendapat ini juga dapat di aplikasikan di masyarakat. Sebab masyarakat yang multikultural mengajarkan kita agar tak mudah merasa paling benar dan tidak menganggap yang lain lebih rendah. Dari pendapat di poin 1 & 2, saya lebih bisa menerima seseorang secara telanjang, dalam artian tanpa memandang seberapa pintar atau sebaliknya, seberapa kaya atau miskin, apa agama, dan apa suku bahasanya; pada intinya saya

Yang terakhir bercengkrama tidak menggurui dan tidak terlihat bodoh. Itu sebagai pengamalan atas pendapat itu.

 

Menurut Muhammad Rizki Sulaiman

(Santri Pondok Pesantren Terpadu Ar Raaid Panyileukan Kota Bandung)

Bahwa setiap orang itu pasti punya kelebihan yang bisa kita contoh dengan semua kebaikan baik yang bisa memberikan kita manfaat atau mudhorot dengan catatan dari perkara itu, kita mampu bisa mengambil hikmah yang lebih dari perkara itu. Dengan nantinya kita mampu menjadi anfauuhum linnas.

Dari pandangan kita, untuk senantiasa memandang diri kita itu hina dan memuliakan orang yang ada didepan kita, meskipun berupa kebaikan atau keburukan tetatpi dari situ kita bisa mengambil nilai lebihnya. Maqola dawuh sayyidina ali. “saya adalah apa dari seseorang yang mengajarkanku walaupun satu huruf” meskipun dia cumam mengajarkanku satu huruf saja, tapi karna diajarkan kepada kita, mampu menjadi guru. Dibalik itu. Meskipun tidak secara langsung. Tapi dari ketidak langsungan itu ada pesan tersirat yang masuk dibenak kita. Apa salah boleh buat

Pendapat ini juga sangat bisa dan coko untuk dijadikan prinsip. Terlebih dalam dal ini mengajarkna untuk selalu berprasangka baik pada semua yang ada disekitarnya. Pangersa ibu juga sering mengingatkan dalam pengajiannya, dalam kitab Al hikam karangan Syekh Ibn Atha’illah as-Sakandari, beliau memberi nasehat begini “dalam situasi apapun kita harus menghinakan diri kita, dan memuliakan orang yang ada di depan kita” rasa tawadhu’ yang terus kita tanam dimanapun dan kapanmu. “semua adalah guru”

 

Menurut Shonhaji

(Santri Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso Peterongan Jombang)

Saya sangat setuju dengan pendapat bahwa semua bisa kita jadikan guru dalam kehidupan ini,,,semua tergantung pada hati kita masing masing seberapa mampu  hati kita utk bersikap tawadhu’ terhadap apa yg dpt kita jadikan guru. Landasan yang menjadi tolak ukuranya adalah setiap hal yang dapat kita ambil manfaat ataupun hikmahnya maka dapat saya kategorikan “semua adl guru”

Ada bebrapa contoh menurut saya

  1. contoh saja ketika kita tanpa sengaja bertemu dengan orang yg baik, bicaranya lemah lembut, penuh dengan wibawa. maka saya tertarik utk menirukan sifat orang tersebut.
  2. contoh : ktk saya bertemu dan mengenal seseorang yg tidak baik dan jahat sekalipun, ia tetap bisa bermanfaat bagi saya,, yaitu bermanfaat sbg contoh yg tidak dpt ditiru.
  3. contoh : ketika Qobil membunuh saudaranya yg bernama Habil, seketika Qobil bingung dan gelisah harus diapakan jenazah Habil,, lalu atas izin Allah Qobil menyaksikan 2 ekor burung gagak sdg bertengkar dan salah satu dari keduanya mati, lalu burung gagak yg hidup menggaruk garukkan kakinya ketanah utk membuat lubang guna mengubur bangkai burung yg mati, Dari ditulah kemudian Qobil menirukan apa yg dilakukan Burung Gagak…Qobil menggali tanah utk menguburksn jenazah Habil

Pendapat ini juga sangat bisa dapat diaplikasikan dlm kehidupan sehari-hari. Alasannya, karena allah itu menitipkan akal dan hati kpd kita agar kita dapat melihat, mengamati, mencerna, dan merenungi setiap hal yg kita alami…sehingga semua hal dpt dijadikan sebagai guru.

 

Guru dari pendapat “Semua Adalah Guru”

Guru identik dengan ungkapan pahlawan tanpa tanda jasa, namun kenyataannya gurulah yang paling banyak memberi jasa dalam kehidupan manusia. Karena jasa guru, banyak manusia menjadi orang mulia dan terhormat. Itulah kenapa Islam menempatkan guru pada posisi sangat mulia. Di dalam Islam, guru memiliki banyak keutamaan seperti menurut sebuah hadis yang menyebutkan, “Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Tirmidzi)

Mengapa guru diposisikan sebagai profesi yang begitu mulia? Karena guru adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah Swt dan dengan ilmunya itu dia menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan, memperoleh serta menuju kebaikan baik di dunia ataupun di akhirat.

Selain itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga mendidik muridnya untuk menjadi manusia beradab. Sebagai orang yang mengemban tugas mulia tentunya guru harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, tidak serta merta mengajar seadanya, apalagi menjadi guru hanya untuk tujuan karier. Profesi guru bukanlah profesi main-main, artinya sekali seseorang memilih profesi guru maka ia harus bertanggung jawab untuk mendidik muridnya dengan baik. Karena itu guru harus profesional atau mengupayakan diri menjadi profesional.

Dalam hal ini dapat dikemukakan, bukan definisi guru secra umum dari UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Mengatakan bahwasanya pengertian guru adalah tenaga pendidik profesional yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah

Tapi dari penulis sendiri yang dimaksud bukan guru yang dikatakan formal. Melainkan guru yang mampu bercengkarama dan mampu sebagai mobilitasi atas edukasi yang ada dimanapun. Yang sering kali berinteraksi langsung ataupun tidak langsung oleh umat manusia. Tidak lebih kurang dipahamai dalam pemahaman ini. Tentunya dalam hal ini dari penulis ingin mengajak untuk tetap mengamalkan rasa Husnudzon/berprasangka baik kepada siapapun itu. Meskipun ia merugikan atau jelek bagi kita tapi tidak bisa dipungkiri yang nantinya dikemudian hari ia dapat menjadi penolong kita.

Sebagai santri. Sering kali teringat pada pengajian kita Nashahih Ibad, karangan syehk nawawi Al-Bantani. Melainkan rangkuman dari kitab kumpulan nasihat karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad al-Syafi’i. Syekh Syihabuddin juga masyhur dikenal sebagai Ibnu Hajar al-Asqalani al-Mishri. Ada maqola mengatakan begini, “Ketika kamu memandang sesuatu, dan dari sesuatu itu kamu bisa meniungat Allah, maka itu adalah lebih baik dari pada sholat xxx rokaat”. Dalam argument yang dikemukakan oleh imam Nawawi tersebut KH. Cholil Dahlan selaku Pimpinan Pondok Pesantren darul ‘Ulum Jombang dan juga Ketua MUI Kabupaten Jombang, memberikan penafsiran atas argument itu.

Bahwasanya Allah SWT. Dalam menciptakan apapun itu tidak ada yang mubadzir. Pasti ada maksud atas diciptakannya. Dakam artian berguna. Dan dalam bergunanya itu pasti tidak sembronoh atau dzolim dalam pembuatannya. Sekalipun itu setan atau barang yang menjijikan. Pendapat penulis ini juga dikuatkan oleh argumen MH. Ainun Nadjib atau lebih mesranya dipanggil Cak nun. Dalam majlisnya padang mbulan/Maiyah di desa menturo kecamatan sumobito kabupaten jombang. Sekalipun setan yang diciptakan. Kita berkompetisi disana. Dalam hal ini beliau menqiyaskan “ketika kita bermain bola, terus kita lawan dengan teman kita sendiri, setelah itu kita lawan dengan club yang tidak kita kenal, cari perbedaaanya?” lebih seru mana? sebuah qiyasan itu menandai bahwasanya setan itu juga mampu sebagai guru kita. Bukan periahal keimanan. Tapi kita berkompetisi disana. Ada lawan semakin seru juga pertandingan. Itu qiyasan dari beliau.

 

KESIMPULAN

Dari uraian di atas penulis berkesimpulan bahwa di dalam pendapat makna tersirat dari pendapat “Semua Adalah Guru”. Ada nilai tersendiri yang tidak semua orang mengetahui makna tersirat daripada pendapat itu. Maksud makna tersirat dalam sebuah teks adalah makna yang tidak disampaikan secara terbuka dari sebuah teks. Dari sini penulis mulai membuka dengan beberapa metode terlebih melalui pendekatan wawancara dengan berbagai santri di pondok pesantren. bahwasanya kata mereka, pendapat ini sangat cocok untuk dijadikan prinsip hidup sebagai acuan untuk berpositif thingking dalam segala hal. dan sangat bisa untuk dipalikasikan dalam bermasyarakat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh santri (Muhammad Rizki Sulaiman), Santri Pondok Pesantren Terpadu Ar Raaid Bandung, dalam argumentnya. Bahwasanya “dalam situasi apapun kita harus menghinakan diri kita, dan memuliakan orang yang ada di depan kita”(Pangersa Ibu). Dalam pengajian Kitab Al Hikam.

Meskipun dalam pendapat ini. Banyak simpang siur dalam berpendapat. Tapi penulis dapat menggaris bahawi daripada hasil refremsi dan juga wawancara. Selain kesimpulan diatas. Lebih dalamnya adalah dari kata Husnudzon, sebagai sikap mental terpuji yang mendorong pemiliknya untuk bersikap, bertutur kata dan berbuat yang baik dan bermanfaat dari kata itu kita mampu belajar banyak hal. untuk agar selalu jernih dan bijak dalam mengabil sebuah keputusan atapun belajar memhami sebuah situasi dan karakter apa yang ada di depan kita.

Tidak banyak ataupun lebih. Penulis sama-sama mengajak para pembaca untuk senantiasa bermuhasabah dan intropeksi diri dalam semua hal yang berinteraksi padanya. Lebih professional dalam menangkap apapun, jangan mementingkan rasa egois dan emosional atas dasaran nafsu. Karna dari perkara itu prasangka kita yang baik akan kuntur dengan sendirinya. Sehingga membuat rasa kurang puas dan selalu menyalahkan keadaan, waktu ataupun orang lain.

Terkait Penulisan ini, penulis sangat berhati-hati dalam menyikapi segala hal. profesional dalam pandangan Islam khususnya dibidang pendidikan, seseorang harus benar-benar mempunyai kualitas keilmuan kependidikan dan kenginan yang memadai guna menunjang tugas jabatan profesinya,  sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW:

إِذَا وُسِدًا ْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرُ السَّاعَةُرُوَاهُ الْبُخَارِيْ

Artinya: ”Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya”. (HR. Bukhori).

Dari hadis itu mungkin cukup jelas, sebuah penafsiran dan penguatan atas pendapat itu. Dalam mengambil sebuah pendapat “semua adalah guru”. Dari artikel ini. Penulis berkeinginan untuk mengembangkan sebagi karya tulis yang nantinya sebagai juga pedoman bagi masyarakat kelak. Harapan dan juga tujuan atas pembuatan artikel ini tidak lain tidak bukan sebagai pengaplikasian atas ilmu. Terlebih pada ilmu agama yang berkalaborasi dengan peradaban zaman dengan memakai peran santri sebagai obyek utama dalam pengambilan pendapat “semua adalah guru”

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Basuki, Hadi. 2012. Semangat Membaca. Yogyakarta: PT Gravindo Pratama.

Usman Husnan, Guru guru pesantren. Pasuruan. Pustaka Sidogiri, 2013:33-51

https://www.scribd.com/

https://www.maxmanroe.com/

https://salamadian.com/

https://www.kompasiana.com/

https://akhmadsudrajat.wordpress.com/

https://kemenag.go.id/

 

Sumber Lainya :

Kitab Nashahih Ibad (Karangan Iman Nawawi Al Bantani)

Kitab Al Hikam ( Karangan Syekh Ibn Atha’illah as-Sakandari)

 

Tentang Penulis

Nama   : Muhammad Azmi Auf

Status  : Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir

Lahir di Gresik, 01 Desember 2001. Dua bersaudara dan sangat membenci toilet duduk. Masa-masa hidupnya terlebih di pondok pesantren, 8 kali ketolak mendaftar di perguruan tinggi negri (PTN) dan Al Hamdulillah Sekarang sebagai Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir, Bi Haulillah Wa Quwwatillah.

 

 

 

 

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *