Madura Punya Cerita

Madura adalah salah satu daerah yang sangat familar di telinga tetapi asing untuk badan fisik ini. bagaimana tidak, meskipun saya baru merantau sejak usia 17an tahun, tetapi saya sudah familiar dg kata madura mungkin sejak usia baru 14 tahun.

Perjumpaan saya dengan madura semakin masif ketika akhirnya mulai merantau ke Malang. saya mulai terbiasa mendengar org berkata be’en, kakeh, celeng, setong, duwek, telok, belung, ngakan, derema. bahkan saya cukup fasih dengan beragam umpatan dalam bahasa madura.

Saya juga mulai mengerti ada terminologi madura negeri dan madura swasta. Demikian juga dengan identifikasi orang madura yang pasti tidak jauh dari kegiatan jual-beli. Dan yang pasti, di antara simpang siur itu, madura memang sering kali dijadikan bahan guyonan dan/atau citra sebuah kondisi yang tidak menguntungkan.

 Tarik saja satu persoalan yang paling sering digunakan untuk memarjinalkan madura secara geografis, yakni “panas”

Madura selalu diidentifikasi sebagai daerah yang panas dan panas sekali. bahkan agak panas saja belum. ya cuma itu, panas dan panas sekali.

Tetapi, sekitar 3 mingguan yang lalu, akhirnya saya berkesempatan terbang ke Madura. saat itu saya jadi mengerti kondisi madura tidak dari omongan orang.

Madura memang panas.

Panas seperti hidup di daerah tropis. karena sepanjang pantura juga panas. dari Lamongan, Gresik, Surabaya, Tuban, Rembang, Semarang sampai Jakarta. semuanya panas khas daerah tropis dan dekat pantai.

Jadi buat saya, panas Madura tidak perlu dihiperbola si, yaudah panas yang panas aja.

Malah, ada satu kegiatan yang buatku unik banget dari Madura. yakni soal kekerabatan.

Kayak seolah-olah kekerabatan untuk orang madura itu bagian dari nafas. jadi satu tarikan nafas yang keluar bukan hanya CO2, tapi juga “bersahabat”

Kok ya ada, sudah dibagi nasi satu orang satu bungkus, itu mereka, peserta KPG Sumenep, malah njejerin kertas pembungkus makanannya menjadi satu deret panjang dan dimakan bareng-bareng.

Pas aku di Malang, paling banter ya makan bareng aja. misal satu orang dapat satu nasi, ya makan nasinya sendiri-sendiri cumq duduknya membentuk lingkaran. tapi Madura selangkah lebih maju, gak cuma makan bareng, tetapi juga sealas makan.

Soal keakraban madura juga terlihat dari cara mereka membentuk rumah. mereka menyebutnya dengan “Tanean lanjheng”.

 Tanean lanjheng berarti harfiah tanah yang panjang. Dalam realitasnya, rumah-rumah di Madura disusun dengan saling berhadapan dan akhirnya mereka memiliki satu pelataran yang panjang dan luas. Rumah-rumah yang berkumpul ini umumnya dari satu keluarga. Entah mungkin ada yang berbeda keluarga, cuma setiap saya ngobrol dengan rumah yang saya singgahi, rumah-rumah itu milik satu keluarga besar.

Jadi semisal keluarga besar itu memiliki 10 keluarga kecil, mereka akan menyusun 5 rumah berjejer dan berhadap-hadapan. Di depan rumah itu halaman, bukan jalan. Dan tentu tujuan adanya tradisi ini adalah soal kekerabatan.

Saya baru menemui konsep membangun rumah kayak begini ya baru di Madura. Bisa jadi ini adalah salah satu tradisi khas Madura yang tidak ditemui di daerah lain.

Selain hal unik tentang makan dan membangun rumah. Satu hal unik lagi tentang madura adalah bertamu = makan.

Iya, makan lagi.

Jadi, orang Madura dalam menghormati tamu yang datang adalah dengan memberikan makan. Makan berat lo ya, bukan makan cemilan macam snack basah atau kacang goreng. Ini makan yang pakek nasi dan lauk. Seberapapun kondisinya, memberikan makan semampunya adalah hal yang membuat tuan rumah senang dan begitulah adabnya menerima tamu.

Aku mulai gak mengerti kenapa Madura selain diidentikkan dengan panas, juga diidentikkan dengan tandus. Padahal banyak sekali sisi-sisi yang aku temui berhubungan dengan makan.

Terimakasih madura, lain kali kita berjumpa.

salam