Lukisan dan Lidah Seni

Sumber gambar https://lukisanku.id

Beberapa hari yang lalu, saya berbincang-bincang ringan dengan tukang sate; tentu saja tak hanya berbincang, melainkan juga membeli satenya.

“Kayak begini yang masak siapa Pak?”

“Ya saya sendiri Cak! Mana mungkin yang lain. Nanti rasanya pasti beda, beda tangan beda rasa! Istri saya pernah satu kali mencoba membantu memasak, hasilnya nihil. Malah pelanggan saling mengeluh. Komplain!”

Begitulah sebuah kalimat panjang dari seorang tukang sate yang sudah menggeluti dunia sate selama 25 tahun.

Sekelebat ada mobil lewat. Di bagian belakang mobil terlihat dari luar, bahwa di dalamnya ada lukisan-lukisan yang ditumpuk berdiri.

Setiap melihat lukisan saya selalu tak bisa sebentar. Selalu lama mengamati, mencari rasa. Bahwa jika pelukisnya berhasil, maka lukisan tersebut pasti bisa mengajak berbicara. Seperti sebagaimana yang disampaikan Sudjojono, maestro seni rupa Indonesia. Bahwa lukisan harus menghadirkan “jiwa ketok”, ruh yang tampak. Namun saat itu saya tak berhasil melihatnya secara utuh. Karena saya dan lukisan tersebut terpisah oleh pembatas yaitu kaca mobil. Juga jarak dan lajunya yang kian bergerak.

Jika sebuah lukisan itu sanggup berdialog dengan saya. Maka problem bagi saya. Problemnya adalah saya akan berhasrat untuk menjadikan lukisan tersebut sebagai sampul buku saya. Sedangkan saya tak mesti terus bisa membuat buku setiap hari seperti halnya kacang rebus, sehari bisa dipanen dan sehari bisa dimasak sekaligus dinikmati. Beda dengan sebuah buku. Memerlukan proses panjang.

Jujur, saya memang tertambat pada lukisan-lukisan. Juga punya kenangan tentang lukisan dan tulisan. Tentang perjalanan saya menulis. Saya memang aneh, saya menyadari itu. Saya tidak pernah ikut diklat menulis, komunitas menulis, bahkan unit kegiat kepenulisan. Sekalipun belum pernah, sama sekali.

Saya didorong menulis oleh seorang pelukis. Jadi sanad kepenulisan saya tak jelas. Diajari atau didampingi penulis juga tidak. Malah dari seni rupa saya belajar berkata-kata.

Josephines, namanya. Usianya terpaut sekitar 15 tahun di atas saya. Ia seorang muallaf yang sempat jadi milyarder karena menang judi togel. Setelah tak lagi bermain di lembah gelimang uang tersebut ia mengambil jalan sunyi sebagai pelukis dan nyambi sebagai desainer baju pesta.

Ia pernah berkeinginan menjadi seorang penulis, tapi niat itu tak kunjung terwujud. Di rumahnya, atau lebih tepatnya di studio kerjanya, di lantai bawah rumahnya. Ruang ruang pengap berukuran 2×3 meter. Di situlah saya hampir setiap hari duduk melihat ia menyelesaikan lukisan demi lukisan, sambil mendengarkan lagu-lagu Slank atau Metallica.

Bertahun-tahun saya melihat ia melukis. Saya menikmati melihat orang melukis. Sesekali sambil melukis dan berbincang ringan ia selalu menyelipkan kata “menulislah!”. Dan kata itu pun bertahun-tahun keluar dari ucapannya, sampai pada suatu masa saya berkehendak menulis buku, buku pertama. Buku pertama saya adalah sebuah prosa tak berbentuk. Jika disebut novel, jalan ceritanya bercabang, temanya beragam. Jika disebut cerpen, panjang kata sudah melampauinya. Jika disebut aforisma, jelas bukan. Jadi saya menyebutnya “prosa tak berbentuk”. Dan itulah tonggak awal saya menulis.

Joseph terus “membombong” saya agar menjadi penulis. Ia tak pernah mengajari saya teknik menulis, tapi ia pernah menyodorkan novel kumal yang tak terawat berjudul “Bilangan Fu”. Iya, itu adalah novel karya Ayu Utami. “Nih, baca!” Kata ia suatu ketika, buku pun saya bawa, namun tak pernah selesai saya baca. Sampai akhirnya saya menuliskan sebuah persembahan di lembar pertama halaman buku saya; “Untuk Joseph ayah Michella yang menggenggam kompas kembara rimba”. Ya begitulah, buku pertama tersebut saya persembahkan untuknya.

Saya pernah kuliah di jurusan filsafat, pernah mengambil konsentrasi kuliah Estetika (Filsafat Seni), juga Metafisika Antropologis (mencari Yang Ada dari sudut manusia), Filsafat Hukum dan HAM, dan Filsafat Posmodern. Dalam estetika ada sebuah kredo berbahasa latin “De gustibus non est disputandum”, terjemahan bebasnya kurang lebih: “Mengenai selera, tidaklah bisa dibuat sebuah diskusi”. Yang mana kredo ini berasal dari peristiwa dapur, tentang selera makanan. Ada yang bilang dapur tersebut berada di perguruan Shaolin.

Beberapa waktu yang lalu, anak saya tak sengaja menjatuhkan banyak sekali buku dari rak, salah satunya buku terbitan pertama saya. Saya buka buku tersebut, saya jumpai halaman demi halaman. Saya bergumam, buku ini memang tak beraturan. Tak berbentuk. Namun saya suka. Karena selera tak perlu dibentangkan dalam ruang diskusi. Tetapi melalui rasa.

6 Ramadhan 1441 Hijriah

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *