Oleh: Ahmad Ja’farul Musadad

Santri merupakan istilah yang sering digunakan untuk para pelajar di Pondok Pesantren. Namun kini arti dari santri sepertinya memiliki makna yang lebih luas. Bahkan semenjak di resmikannya Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2015. Konsep santri memiliki makna yang lebih beragam lagi. Sebagian besar Pendidikan berasrama juga menyebut para muriudnya sebagai santri. Ini sebuah terobosan positif, karena makna santri tidak terkukung pada pesantren saja.

Dewasa ini beberapa pesantren mendapatkan sorotan tajam, seperti kasus Pelecehan seksual, dan penganiayaan. Di tengah maraknya berbagai peristiwa itu, Pendidikan di pesantren menjadi pusat perhatian. Oleh sebab itu penting sekali meningkatkan kualitas sebuah Pendidikan, agar pesantren tidak dicemari oleh orang-orang yang merasa berkuasa. NU sebagai basis organisasi terbesar di dunia akan memasuki 1 abad berdirinya organisasi ini. Mereka mengusung tema Merawat Jagat, Membangun Peradaban.

Ahmad Fahrur Rozi mengatakan bahwa hari Santri merupakan peringatan yang ditujukan untuk memperingati peran besar dari kaum santri dalam perjuangan melawan penjajahan bangsa asing. Diselenggarakannya HSN diharapkan agar dijadikan sebagai refleksi diri atas perjuangan pondok pesantren meraih kemerdekaan.

Kemenag sebagai lembaga tertinggi agama telah mengupayakan segala hal baik. Salah satunya kegiatan di pesantren telah menyelenggarakan kegiatan untuk memeriahkan HSN ini agar lebih baik lagi dan dimanfaatkan untuk mencari pemimpin potensial.  Direktur PD pondok pesantren, Waryono Abdul Ghofur mengatakan bahwa usaha untuk menjadikan hari santri sebagai hari nasional telah berhasil diterima di Masyarakat.

HSN juga bisa dikatakan sebagai santri dan bagian dari negara yang bisa memperjuangkan kesejahteraan bagi masyarakat. Tema yang dibahas harus lebih berbobot dan dapat dimaknai oleh semua kalangan, diluar kementerian agama, sehingga HSN tidak hanya milik golongan tertentu, akan tetapi seluruh warga Indonesia.

Santri dan peradaban merupakan sebuah gambaran yang pernah diciptakan oleh para kiai dan santri dalam melawan penjajah. Kini tugas itu harus tetap dilestarikan. Santri era kini seharusnya bisa menerapkan berbagai Gerakan digital seperti Ais Nusantara, Dawuh Guru, Ulama Nusantara Center, Ulama Perempuan Center, Alif.id, Dunia Santri, NU Online, Hidayatunna adalah sederet platform yang menyajikan berbagai quote dan sharing keilmuan lintas pesantren, pendiri dari platform-platform, tersebut juga berasal dari alumni pesantren. Meningkatnya literasi digital harus dibarengi dengan kerja keras.

Santri sebagai pemimpin juga perlu banyak dimunculkan, karena saat ini banyak sekali krisis kepemimpinan yang lebih menonjol. Bahkan hari ini tidak semua yang memiliki jabatan sebagai ketua, namun mereka kurang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Gus Miek dan Gus Dur merupakan salah dua diantara pemimpin yang memprioritaskan jama’ahnya. Kedua tokoh tersebut telah melakukan segala cara untuk menyatukan umatnya dan seumur hidup mereka lebih banyak digunakan untuk mengayomi anggotanya.

Indonesia kini tercatat memiliki Pendidikan berbasis pesantren terbesar di dunia. Menjadi santri kemudian memiliki perhatian lebih setelah 2015 santri punya hari spesial. Hal itu seharusnya menjadi pemicu agar ada santri yang memiliki literasi untuk menjadi pemimpin, mereka mampu mengaplikasikan lewat pergerakan dan kepemimpinannya. Santri pasti memiliki literatur dan juga contoh yang baik dalam memimpin. Untuk itu momentum hari santri harus dijadikan sebagai refleksi atas pentingya kepemimpinan dan membuktikan bahwa seorang santri bisa berkontribusi untuk negara.

Penerimaan kaum santri terhadap keberagaman juga ditanamkan lama semenjak masa kemerdekaan. Perayaan NU menjelang 1 abad juga mengusung sebuah semangat membangun peradaban. Oleh karena itu penting bagi santri untuk memiliki cita-cita sebagai pemimpin. Dalam kesejarahan para ulama banyak diantara mereka yang awalnya berstatus sebagai santri lalu memiliki jiwa kepemimpinan besar.

Konsep Resolusi Jihad yang dibawah oleh KH. Hasyim Asy’ari merupakan salah hal yang perlu digerakkan kembali, meski pada awalnya perlawanan itu merupakan sebuah Tindakan berjuang secara fisik melawan penjajah. Kini Resolusi Jihad bisa diartikan sebagai sebuah konteks yang berbeda dan relate dengan zamannya. Sebagai contoh seorang santri harus bercita-cita untuk menjadi pemimpin yang baik dan tegas di dalam setiap kesempatan. Baik dari ranah terkecil sekalipun. Seperti ketua kelas, organisasi, sampai pada kepemimpinan pada ranah politik.

Orang-orang yang menjadi pemimpin, bukanlah mereka-mereka yang memiliki previllage atau keistimewaan di dalam suatu Lembaga tertentu. Misalnya di dalam memilih seorang pemimpin Yayasan atau pesantren yang lekat dengan santri, haruslah memiliki kualifikasi kuat, diantaranya bertanggung jawab, aktif, dan mampu mengayomi setiap bawahannya. Jangan sampai dalam memilih pemimpin karena memiliki kedekatan dengan pengasuh ataupun dia sebagai santri senior di suatu Lembaga.

Kini telah banyak sekali dijumpai para pemimpin tidak mempunyai kompetensi di dalam memimpin, sehingga ia hanya sebagai simbol dan bukan seorang leader yang mumpuni dalam bidang tersebut. Walhasil ketika di dalam sebuah l,ingkup apapun ketika pemimpinnya tidak bertanggung jawab, maka ia akan mudah menyalahkan dan hanya melihat anggotanya sebagai kacung saja.

Kembali ke tema awal bahwa santri dan kepemimpinan, sebenarnya memiliki relasi yang Panjang dalam kesejarahan bangsa Indonesia. Seperti yang telah disingung di atas bahwa Gus Miek dan Gus Dur adalah dua nama yang memiliki kandidat kuat sebagai contoh pemimpin yang relevan sesuai dengan zaman, maka penting bagi seorang leader mempunya beberapa kriteria berikut :

Pertama, santri harus memiliki bekal agama yang kuat dibarengi dengan ilmu dan skill, hal ini diperlukan karena perkembanagan zaman terus berubah, sehingga harus memaksa seorang santri mempunyai kapasitas tersebut, disamping agama yang menjadi modal utama dalam menegakkan keadilan.

Kedua, seorang santri harus melek terhadap isu kontemporer yang mana hal itu menjadi sebuah kajian bersama dalam mewacanakan dan mencari solusi atas persoalan yang menimpa bangsanya. Terlebih pada faktor politik dan isu sosial yang hari ini kerap terjadi di masyarakat. Pemimpin harus tahu pemecahan atas konflik yang terjadi disekitarnya.

Ketiga, guna menjadi seorang pemimpin yang baik itu tidaklah mudah, apalagi dalam skala yang lebih besar, seperti Presiden misalnya. Meski demikian para santri harus berupaya agar dirinya bermanfaat untuk bangsa dan agama, karena di dalam ajaran Islam banyak sekali disinggung bahwa peran manusia ialah sebagai khalifah bagi bumi, artinya ia bisa memanfaatkan kapasitas itu dengan cara terus melatih diri dan instropeksi atas pencapaian-pencapaian di dunia. Seorang pemimpin harus lebih sering menggunakan akal pikir. Meskipun seorang bisa diciptakan, dan bisa didapatkan dari karunia. Seorang santri harus tetap berikhtiar untuk jadi pemimpin yang seperti itu.

Pesantren merupakan sebuah lembaga yang merdeka, dan bersifat independent serta unik. Dalam kondisi ini, Kemeneterian Agama pun memahami bahwa pemerintah berdasarkan undang-undang pesantren tidak akan pernah mengintervensi Pendidikan di Pesantren. Sehingga dalam hal ini kemenetrian agama memberikan fasilitas melalui berbagai macam program guna meningkatkan kualitas pendidikan dan lulusan pesantren dalam rangka menyiapakan kader-kader pemimpin selanjutnya.

Seorang pemimpin harus menerima resiko dan juga siap berkorban untuk keutuhan anggotanya. Sebagai seorang santri tentu konsep berkhidmat pada negara juga pernah terjadi dalam kesejarahan Indonesia, yakni ketka banyak dari kaum lain menentang antara agama dan negara pada era awal kemerdekaan. Kaum santri dan ulama mampu tampil di barisan terdepan dalam memperjuangkan kemerdekan yang berasaskan pada Pancasila sebagai sebuah dasar negara, hal itu kemudian menjadi sebuah akhir dalam perdebatan antara agama dan negara.

sistem saat ini sangat mendukung bahwa kelak ada seorang pemimpin yang lahir dari kalangan santri. Untuk menjadi pemimpin yang baik, maka diperlukan sebuah ide-ide maupun gagasan yang kuat. Terlebih kebuituhan masyarakat yang kian komplek juga mendukung bahwa era kini banyak santri yang sukses memanfaatkan momentum dan bahkan menjadi perwakilan Indonesia dalam kancah internasional. Pemimpin seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh Indonesia. Bukan pemimpin yang diangkat karena memiliki kedekatan emosinal dan penilaian subjektif dari pimpinan sebelumnya.

Seorang pemimpin harus memiliki kapasitas bagus dalam berkomunikasi dan mempunyai sikap positif. Seorang pemimpin haruslah memiliki komitmen untuk fokus dan berkosentrasi. Dia harus mampu menyeimbangkan prioritas mana yang dikedepankan, baik dalam persoalan organisasi maupun personal. Idealnya sebuah pemimpin harus aktif dalam meninjau anggotanya. Tugasnya sebagai pemimpin tidak hanya tertulis dalam kertas. Pemimpin yang berintegritas pasti memiliki tanggung jawab yang mana tidak semua orang bisa memilikinya dan mau mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi pemimpin yang baik, ialah mereka yang tidak mengenal menyerah dan selalu ikut campur dalam urusan organisasi. Ia juga bertanggung jawab atas sarana belajar mengajar dan memperhatikan kekurangan untuk tetap berbenah, sehingga ia menjadi panutan, serta bukan sebagai simbol di dalam sebuah kepemimpinan yang ia kerjakan. Sejatinya pemimpin yang handal, merupakan sebuah jawaban atas setiap persoalan yang dihadapinya.

*Ahmad Ja’farul Musadad, praktisi Sejarah Islam, Alumnus Program Magister Sejarah Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *