Lantunan Doa Bujangan Akhir Zaman

Lantunan Doa Bujangan Akhir Zaman

Oleh : Ramdhani Sastra Negara

Ali tersungkur di tepian jalan raya, setelah motor vespa matic-nya tak sengaja diserempet mobil pada sebuah tikungan persimpangan lampu lalu lintas. Ali beruntung karena masih selamat dari tragedi tikungan di persimpangan dan hanya mengalami luka kecil di bagian lutut kaki.

Setelah luka di lututnya diobati di puskesmas setempat, Ali pun bergegas menuju kosannya. Motor vespa kesayangannya yang mengkilat itu pun mengalami goresan ‘luka’ baret-baret, pada bagian kap tutup mesin.

Ali masih bersyukur karena bisa pulang ke kosan dengan kondisi tubuh tetap stabil. Ruang kos bercat hijau muda berukuran 4m x 12m menjadi tempat beristirahatnya, Rama masih merasa bahwa peristiwa yang terjadi tadi seperti ada unsur kesengajaan.

“Bagusnya aku masih sempat mencatat nomor plat mobil sedan mewah tersebut” pikirnya sambil Ali mengingat tragedi tadi.

Keesokan paginya, Ali terpaksa terbangun lantaran tetangga sebelah kosannya yang sudah berumah-tangga di pagi-pagi buta ribut besar. Entah karena sebab apa, yang jelas riuh ramai suara bentakan si isteri kepada suaminya.

Ali menyeduh kopi dan memasak mie instan untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Lalu menyetel musik gambus kesukaannya. Kepulan asap rokoknya melahap ke segala sisi ventilasi jendela yang agak terbuka sedikit, karena engsel kunci slot jendela tak bisa terbuka semua.

Ali pun menyilangkan kaki ke atas meja kerjanya. Lalu menyetel musik gambus sekencang-kencangnya, sambil menggoyangkan bahunya sesekali. Alunan syahdu irama gambus berhasil membius. Dan suara petikan senar menjadi semacam getaran perasaan.

“Tuhan, kalau memang doa-doaku terbentur nirwana antariksa harsa pemurah-Mu dan terpantul kembali ke bumi lagi. Tak apa-apa, asalkan jangan Engkau merasa bosan kepada segala hal serentetan ‘orderan’ hajat permintaan hambamu ini, yang kini tergolong sebagai bujangan akhir zaman” keluh Ali lalu mengepulkan asap rokok ke arah luar jendela kamar.

Tangerang Selatan, 11 Oktober 2021.

Tentang Penulis

Ramdhani Sastra Negara, kelahiran Jakarta pada 05 Mei 1989, bertempat tinggal di Kota Tangerang Selatan. Penulis merupakan lulusan dari STAI INDONESIA JAKARTA, Program Studi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) tahun 2016. Penulis sangat suka ngopi dan menulis, bagi diri penulis ; Menulis menjadikanmu lebih optimis dan humanis. Instagram penulis @abdulmajid.ramdhani

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *