Korelasi Filsafat dengan Wabah Pandemi Covid 19

Oleh: Lisa Mufidatur Rohmah

Filsafat sebagai dasar dari sebuah ilmu pengetahuan. hal ini disebabkan karena pemikiran dari filsafat ialah yang reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang berkaitan dengan landasan-landasan hubungan ilmu dalam segala segi kehidupan manusia. dalam pemikiran filsafat akan berusaha mengkaji nilai-nilai luhur yang memiliki kebijaksanaan atau kearifan.
Dalam memahami filsafat menelusuri suatu kebenaran sebuah obyek haruslah dengan berpikir secara radikal, oleh kareanya filsafat dapat direlasikan dengan cabang ilmu lainnya. sehingga dalam penulisan ini menjadikan filsafat berkolerasi dengan pembahasan aktual saat ini yang memfokuskan pada sebuah wabah pandemi yang telah menjangkiti secara merata hampir ke seluruh negara dunia. sebuah virus baru yang belum ada obatnya dan memberikan efek domino tidak hanya pada segi kesehatan saja namun juga pada segi kehidupan yang lain.
sejak tercetusnya COVID-19 pada akhir tahun 2019. virus ini telah berhasil menginfeksi banyak negara di dunia. dari persebaran yang masih daan cepat ini membuat berbagai negara melakukan trobosan kebijakan guna menyelesaikan penyebaran pandemi ini, mulai dari penerapan lock down hingga sosial separation untuk melindungi warganya dari virus ini. di indonesia sendiri akibat dari persebaran virus ini telah mengancam masyarakat, membuat kepanikan seluruh masyarakat juga menyebabkan kegaduhan pada beberapa sector.
pemerintah bereksperimen mencari formula pemecahan permasalahan ini, dengan mengeluarkan berbagai regulasi mulai dari terbitnya peraturan pemerintah tentang pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Filsafat memiliki peran yang sangat penting dalam mengelaborasi semua persoalan penting, termasuk pandemi COVID-19. Dua kata kunci yang mengelaborasi dan memahami pandemi COVID-19 adalah manusia dan sains. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, ia membawa manusia ke puncak ilmu pengetahuan yang ditandai dengan revolusi industri pertama manusia yakni penggunaan mesin uap skala besar dan pengembangan alam tanpa memperhitungkan dampak ekologisnya terhadap alam.
Malam refleksi filsafat, manusia dimaknai sebagai makhluk yang bersifat singular-plural. manusia itu individu sekaligus bagian dari kehidupan sosial. Manusia disebut singular karena dia ukin, satu-satunya, dan tidak terulangi. mulai dari struktur DNA, sidik jari, sifat-sifat, pengalaman hidup, dan jati diri. tidak ada manusia yang sama dengan yang lainnya. Tapi manusia disebut juga dengan plural dalam arti dia terhubung dan menjalin relasi dengan orang lain baik secara sadar maupun tidak. keterhubungan dan relasi itu terjadi pada lapisan-lapisan eksistensi manusia.
Secara psikologis (psyche) dijelaskan jika manusia sudah dibentuk dan dipengaruhi berbagai pemikiran sejak ada didalam kandungan ibunya mulai dari aspek pengetahuan hingga aspek hubungan antar individu. filsuf perancis Jean-Luc Nancy menyebutkan “aku yang sekarang ada adalah aku yang tunggal dan sudah disematkan pola pikir sejak dini, dan aku yang ada sekarang adalah aku yang sudah dibentuk dari sosial yang sudah ada”. Justru ditengah maraknya kasus pandemi covid seperti ini sikap peduli dan tidak peduli kepada orang lain bisa menjadi “bencana”.
Sejak presiden joko widodo mengmumkan dua kasus pertama covid-19 pada tahun lalu, perhatian publik disita oleh berbagai informasi yang berkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut, sejak itu, imbauan jaga jarak, jauhi kerumunan, kenakan masker, selalu cuci tangan menjadi seruan rutin yang kita dengar setiap saat. opini dalam surat kabar dan portal berita memuat banyak pendapat tentang bagaimana mengehadapi wabah virus tersebut. banyak perspektif yang digunakan untuk memahami dan menangani pandemi seperti teologi, kedokteran, psikologi,dan ilmu sosial.
Maka pada akhir-akhir ini ditengah situasi pandemi covid-19, sikap tidak peduli dan sikap abai pada imbauan jarak bisa jadi bencana bagi orang lain. demikian juga sikap abai orang lain bisa menjadi bagi saya. pada titik inilah imbauan jaga jarak dan PSBB menemukan maknanya. kita di imbau jangan dulu berkumpul, menghindari kerumunan, tinggal dirumah, dilarang berpergian ataupun mudik. satu hal yang harus dipahami bahwa kelalaian, sikap acuk tak acuh tidak saja buruk bagi diri sendiri. namun memiliki implikasi sosial. apa yang kita lakukan berdampak bagi orang lain.
Tragedi korona hadir sebagai kekuatan kosmos untuk menghentikan hasrat manusia. tidak ada jalan lain selain apa yang telah ditetapkan pemerintah, disini individu dan kelompok dipaksa untuk kembali ke rumah. sebagai kediaman, tempat tinggal adalah ruang untuk berdiam, menikmati kesendirian masing-masing setelah sekian lama larut kerumunan dan berusaha menyemai hubungan keluarga secara otentik.untuknya masih ada akses teknology informasi yang masih memungkinkan untuk berkomunikasi dan berbagi cerita. hanya saja, percakapan dimedia sosial masih disandera oleh pertikaian politik electoral, sehingga usaha memahami dan menengani bencana ini dalam kerangka konflik kelompok.
jika dilihat dari pandangan epistemology menjadikan tata kehidupan manusia dan masyarakat berubah yang mana misalnya kebutuhan manusia akan teknologi menjadi meningkat dikarenakan adanya perubahan tata cara kinerja dan sekolah diubah ke daring. jika dilihat dari segi aksiologi menjadikan masyarakat terlihat panik dan meningkatkan spiritualitas mereka. kemudian jika dilihat dari segi ontologi masyarakat akan bertanya apakah sebuah bencana yang akan menghancurkan mereka nantinya. Beberapa pemahaman ini yang nantinya akan menjadi pertanyaan mengenai kaitan filsafat dengan pandemi covid-19 yang sedang dialami oleh semua orang yang ada di belahan dunia.
Kita sering mnedengar pepatah “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. namun ditengah situasi pandemi saat ini pepatah tersebut tampaknya sudah tidak berlaku lagi. kita sebagai manusia yang begitu percaya dengan teknologi juga sekarang tiba-tiba berhadapan dengan kegelapan, hanya satu hal yang dapat dilakukan saat ini yaitu mengilosasi diri dan berhadapan dengan kenyataan yang sulit dijelaskan dengan adanya pandemi ini.
Kebijakan penanggulangan penyebaran covid-19 di indonesia telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. pelaksanaan PSBB berpotensi memicu terjadinya anxienty (gangguan kecemasan), depresi, dan stress di masyarakat. faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang mengelami gangguan kecemasan adalah lingkungan, emosional, dan faktor fisik. selain itu, penyebaran informasi yang tidak benar (hoax) serta teori konspirasi juga dapat memperburuk kondisi kesehatan mental masuyarakat.
penelitian yang telah dilakukan diberbagai negara melporkan bahwa gangguan kecemasan mengakibatkan anomali psikologis selama pandemi covid-19. dampak negatif dari gangguan kecemasan yang dialami individu adalah menurunkan imunitas tubuh sehingga rentan terkena penyakit. gangguan kecemasan tersebut bahkan dapat membuat seseorang melakukan bunuh diri. jika terus.dibiarkan hal tersebut dapat menjadi masalah baru bagi kesehatan masyarakat sehingga perlu perhatian khusus.
Beberapa cara yang dapat kita lakukan agar menghindari kecemasan yang berlebih saat pandemi. Pertama, kenali, pahami, dan terimalah rasa cemas itu. Kecemasan itu emosi yang normal untuk setiap orang, mekanisme pertahananan diri, tapi kalau berlebihan itu menjadi musuh karena membuat kita menderita. Kedua, praktikkan “mindfulness”. mindfulness yakni fokus pada momen yang dirasakan saat ini tanpa harus memikirkan hal lain. ketahui bagaimana tubuh anda bereaksi terhadap kecemasan, kemudian lepaskan rasa tegang dari anggota tubuh. Ketiga, fokuskan diri pada hal yang bisa kita lakukan misalnya dengan kita melakukan protokol kesehatan untuk melindungi diri. Keempat, membuat perencanaan, tulis secara spesifik apa saja dampak pandemi terhadap aspek kehidupan anda, lalu buat kemungkinan solusi yang bisa diterapkan. Kelima, tetaplah terhubung dengan orang lain, berinteraksi dengan keluarga atau sahabat namun tetap dengan protokol kesehatan. Keenam, jaga fisik agar tetap fit dan optimal. Ketuju, membantu sesama, dapat dapat berupa dana atau tenaga, ataupun yang lainya.

Baca Juga:   Nabi Tak Punya Kebiasaan Mengkafirkan Orang Lain

SUMBER

https://mediaindonesia.com/opini/314173/filsafat-dan-pandemi-covid-19
https://kumparan.com/mutia-agroli/relasi-filsafat-dengan-pandemi-covid-19-1v1ObVX5eSt
https://news.detik.com/kolom/d-5123752/filsafat-menghadapi-pandemi
https://www.pa-pringsewu.go.id/artikel/451-filsafat-dan-pandemi-covid-19.html

 

Biografi

Nama : Lisa mufidatur rohmah

Alamat : Tuban jawa timur

Status : Mahasiswa

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.