Konsep Pemikiran Ilmu Kalam Kontemporer: Ismail Raji Al-Faruqi Mengenai Tauhid

Oleh: Nur Amalina Wafi’ Azizah

(Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam)

Islam adalah suatu kategori keyakinan monoteistik dalam para penganutnya yang beriman kepada Allah SWT. Dalam sebuah konsep tauhid, mengajarkan bahwa Tuhan itu satu. Tauhid merupkan kata wahhada yuwahhidu tawhidan yang berarti menyatakan, mengesakan yang Maha Esa.[1]

Dalam pandangan pemikir modern menjelaskan bahwa tauhid menjadi sebuah objek dalam suatu pengetahuan. Dalam kalam yang di-era kontemporer banyak sekali perdebatan  para tokoh salah satunya Ismail Al-Faruqi. Beliau dalam memahami tauhid  memberikan suatu pemahaman yang sifatnya komprehensif dalam pemikiran kehidupan manusia.

 

Biografi Ismail Raji Al-Faruqi

Ismail Raji Al-Faruqi atau yang dikenal sebagai dengan Al-Faruqi. Beliau lahir pada 1 januari 1921 didaerah  Jaffa, suatu kota tertua yang ada di Palestina. Al-Faruqi dalam mengenyam pendidikan dasarnya di  College des Freses, Lebanon. Dan pendidikan tertingginya beliau tempuh di The American University, Beirut.

Pada mengenyam pendidikan menjadikan Al-Faruqi mengusai beberapa bahasa yaitu Inggris, Prancis serta Arab. Pada masa kecil Al-Faruqi beliau sudah dijunjung tinggi oleh ayahnya dalam nilai-nilai keislaman. Keluarga beliau juga terkemuka serta dipandang dari aspek pendidikannya.

Al-Faruqi dalam kehidupannya yang akademis memanglah sangat produktif. Beliau juga banyak sekali membuat suatu tulisan hingga ratusan. Bidangnya pun bermacam-macam, ada ekonomi, seni, politik, metafisik dan lain sebagainya. Semua bidang tersebut telah dikuasainya juga sudah disajikan dalam suatu bentuk yang komprehensif.[2]

Tahun 1946, beliau diangkat menjadi seorang gubernur Galilee dan terpaksa meninggalkan Palestina setelah pembentukan negara Israel pada tahun 1948. Pada tahun 1952, beliau melanjutkan studinya di bidang filsafat barat dengan gelar doktor. Dan pada tahun 1968-1986 beliau menjadi guru besar di Department of Religion di Temple University.

 

Pemikiran Al-Faruqi dalam Tauhid

            Dalam sebuah konsep tauhid, seorang pemikir menjelaskan bahasannya dalam sebuah konsentrasi terhedap kehidupan yang material dan suatu benda yang tidak memenuhi suatu hakikat manusia, karena manusia sendiri perlu dimensi spiritual dalam suatu pola kehidupannya. [3]

Dari perkembangan ilmu sendiri, ada sebuah kecenderungan dari para teolog maupun ilmuwan dalam mendamaikan serta merelasikan suatu tujuan dari sebuah ajaran agama dengan ilmu.  Manusia disini yang memaksimalkan fungsi dari kekhalifahannya dan juga menciptakan suatu kesejahteraan hidup yang ada di dunia, yaitu pemahaman tauhid.

Baca Juga:   Madzhab-Madzhab Tasawuf dan Psikologi Transpersonal: Kajian Konsep Aliran-Aliran Dalam Tasawuf

Dalam menekankan sebuah peradaban Islam ialah Islam itu sendiri. Prinsip dasar ajaran dalam Islam adalah kesatuan tauhid atau Yang Mahakuasa. Perilaku ini menegaskan bahwa Tuhan adalah satu-satunya, pencipta mutlak dan transenden dan penguasa segala sesuatu.

Namun, tauhid bukan sekedar bentuk media lisan mengakui keesaan Tuham dan sumpak kenabian Muhammad SAW. Meskipun ikrar dan aqidah umat Islam telah menghasilkan banyak aturan hukum di dunia ini, tauhid adalah sumber kebahagian.

Keabadian manusia dan kesempurnaannya tidak hanya berhenti pada kata-kata sera lisannya. Tidak hanya itu, tauhid juga harus menjadi realitas batin dan keyakinan yang berkembang di dunia dalam hati.

Al-Faruqi membangun konsep pendidikan Islam  dimulai dari pendidikan keluarga. Al-Faruqi berpendapat bahwa tauhid adalah prinsip keluarga yang memposisikan keluarga sebagai media unruk mencapai tujuan yang Ilahi. Keluarga itu memancarkan suatu relas dalam menciptakan suatu nilai.

Al-Faruqi menjelaskan bahwasanya keluarga ialah bagian integral dari hidup bersama dalam suasana yang penuh kasih, perhatian serta kepercayaan. Selain itu, keluarga menjelaskan bahwa menurut Al-Faruqi merupakan media unruk menerjemahkan tauhid, artinya kegiatan keluarga harus dilandasi nilai tauhid.[4]

 

Tauhid dalam Pembentukkan Peradaban Manusia

Dalam mengetahui adanya sumber ilmu dan landasannya, perlu dipahami dimensi serta prinsip Tauhid. Karena sifat dari tauhid sendiri mengakui akan kebenarannya dalam pernyataan La ilaha illa Allah. Dalam suatu membangun peradaban manusia yang berensensi tauhid, disini Al-Faruqi mempunyai dua dimensi yakni kontentual dan metodelogis.

Ada tiga prinsip utama dalam dimensi metodelogi, dimana dimensi ini menentukkan bentuk dari peradaban Islam. Pertama, Prinsip Kesatuan (Unitas), dimana bahwa suatu dari peradaban akan terbangun jika unsur dari peradabannya diintegrasikan, disatukan dan diseleraskan. Sebalikanya jika kalau unsur tersebut tidak menyatu, maka ada unsur campuran yang tidak teratur.

Kedua, Prinsip Rasionalisme, yang mengungkapkan prinsip metodelogis. Rasionalisme ini suatu unsur pementuk dari suatu esensi peradaban Islam. Dan didalam prinsip ini ada tiga hukum yang diterapka yakni, keterbukaan dalam bukti yang berlawanan, menyangkut persoalan terakhir dan penolakan dalam realitas meskipun tidak sesuai dengan ide.[5]

Ketiga, Prinsip Toleransi, yang merupakan suatu sikap yang menerima realitas yang ada. Maka dari itu, toleransi menjadi prinsip epistemologi, prinsip etika, dengan menerima kondisi yang tidak kehendaki maupun yang dikehendaki.Toleransi ini sebenarnya pengakuan bahwa Tuhan itu tidak akan meninggalkan umat-Nya.

Baca Juga:   Betapapun ‘Pincangnya’ Ibadahmu, Berterima Kasihlah!

Toleransi ini berfungsi sebagai peringatan bagi kaum umat manusia, mengapa begitu? karena untuk melakukan suatu perlawanan terhadap suatu kejahatan  juga faktor penyebabnya.Dalam suatu perjumpaan agama juga toleransi merubah suatu kondemnasi dan konfrontasi terhadapa agama lain.[6]

Kalau mengenai dimensi kontentual, tauhid sebagai esesnisi suatu peradaban Islam yang memiliki beberapa fungsi prinsip utama dalam epistemologi yaitu sebagai berikut:

Pertama, tauhid dalam sebuah prinsip pertama metafisika. Dalam hal ini, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang artinya berpendapat bahwa Dia Pencipta Yang mewujudkan segala. Sebab utamanya ialah suatu kejadian dan tujuan kahir dalam segala ha;l yang ada, bahwa Dialah yang Pertama serta yang Terakhir.

Jadinya tauhid ini penafian dari kekuatan lain yang berlaku dalam alam luar kekuatan Tuhan, yang berinisiatig abadi-Nya merupakan huku akam yang tak berubah.[7] Maka dari itu sisi lainnya hampir sama dengan menafikan setiap inisiatif dalam alam. Karena tauhid itu bidang alam dari sekularisasi mereka, maka itu lawan dari mitos.

Kedua, tauhid dalam prinsip etika. Yang menegaskan  bahwasannya Tuhan Maha Esa yang menciptakan manusia dalam bentuk terbaik juga mengabdi pada-Nya. Tauhid juga menegaskan bahwasannya tujuan dari tauhid ini kekhalifahan manusia dengan taklif yang tanpa batas. Karena kewajibannya dalam mencakup alam semesta.[8]

Maka, dalam Islam, etika ini tidak akan dipisahkan dari sebuah agama, dikarenakan Islam tidaka kan pernah menganal bahwa pasangan yang bertentanga dengan “religius sekular”, karena Islam memiliki prinsip pada Ke-Esaan Tuhan, kesatupaduan kehidupan dan kesatuan kebenaran.

Ketiga, tauhid dalam prinsip aksiologi. Yang menegaskan bahwasannya Tuhan itu telah menciptakan semua umat manusia agar dapat membuktikan suatu diri yang bernilai dari moralnya dan perbuatannya. Tauhid ini juga menegaskan bahwa Tuhan itu memempatkan manusia pada muka bumi agar manusia itu bekerja keras serta menikmati sebuah keindahan.[9] Maka, moralitasnya adalah jaminan dari penegasan dunia.

Terakhir, tauhid dalam prinsip estetika. Kalau dalam tauhid ini menyingkirkan Tuhan dari segenap bidang alamnya, dikarenakan bahwa segala yang diciptakan itu ialah makhluk. tunduk dalam hukum waktu dan ruang, serta nontrasenden. Dalam tauhid ininjuga menegaskan bahwa Tuhan itu tidak ada yang menyerupainya. Tuhan juga bukan estetis.

Baca Juga:   Kosep Zuhud Menurut AL-Ghazali Pada Era Modern

Estetis disini ialah pengalaman yang inderwi akan suatu a priori serta metanatural yang sebagai suatu prinsip normatif objek. Tetapi, yang dimaksudkan ialah yang dari alam itulah transenden yang memiliki suatu kualitas Ilahiah dalam suatu kedudukan, sehingga diapresiasikan dalam suatu keindahan manuais yang normatif.[10]

Maka, dalam prinsip-prinsip diatas menjelaskan bahwa tauhid itu penegasan dari kesatuan sumber kebenaran. Tuhan ialah pencipta alam dari mana manusia yang memperoleh pengetahuan dan objeknya yang akal menghasilkan karya Tuhan. Tuhan itu mengetahui, karena Tuhan ialah Pencipta.          Sehingga pengetahuannya ialah sangatlah universal dan mutlak.

Sumber:

Al-Faruqi, Ismail Raji dan Lois Lamya Al-Faruqi. The Cultural Atlas of Islam, terj. Ilyas Hasan, Atlas Budaya Islam. Bandung: Mizan, 2003.

Al-Faruqi, Ismail Raji. Tauhid: It’s Implicarions for Thought and Life. Hendron Virginia: IIIT, 1992.

Al-Ghazali, Imam. Ensiklopedia Tasawuf. Jakarta: Mizan Publika, 2009.

Putra, Aris Try Andreas. “Konsep Pemikiran Ismail Raji Al Faruqi (Dari Tauhid Menuju Integrasi Ilmu Pengetahuan di Lembaga Pendidikan)”, Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam, Vo. 6, No. 1, Juli, 2020.

[1] Imam Al-Ghazali, Ensiklopedia Tasawuf (Jakarta: Mizan Publika, 2009), hal. 535.

[2] Aris Try Andreas Putra, “Konsep Pemikiran Ismail Raji Al Faruqi (Dari Tauhid Menuju Integrasi Ilmu Pengetahuan di Lembaga Pendidikan)”, Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam, Vo. 6, No. 1 (Juli, 2020), hal. 25.

[3] Ibid., hal. 26.

[4] Ibid., hal. 27.

[5] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid: It’s Implicarions for Thought and Life (Hendron Virginia: IIIT, 1992), hal. 47.

[6] Ismail Raji Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam, terj. Ilyas Hasan, Atlas Budaya Islam (Bandung: Mizan, 2003), hal 76-77.

[7] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid: It’s Implicarions for Thought and Life (Hendron Virginia: IIIT, 1992), hal. 53.

[8] Ismail Raji Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam, terj. Ilyas Hasan, Atlas Budaya Islam (Bandung: Mizan, 2003), hal. 117.

[9] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid: It’s Implicarions for Thought and Life (Hendron Virginia: IIIT, 1992),  hal. 64.

[10] Ismail Raji Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam, terj. Ilyas Hasan, Atlas Budaya Islam (Bandung: Mizan, 2003), hal. 122.

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.