Kisah Stiker yang Gagal Mengusir Hantu Bayangan

Kisah Stiker yang Gagal Mengusir Hantu Bayangan - dawuh guru

Oleh: Erlinda Hapsari

Saya masih kelas 4 SD ketika peristiwa mistis ini terjadi. Ketika itu, rumah saya ditambahi bangunannya. Bangunan tambahan ini dulunya bekas kebon, kemudian dijadikan gudang dan kamar mandi oleh bapak saya. Kami menyebutnya omah mburi.

Di bagian rumah itu, terdapat sebuah jendela, yang gara-gara bangunan tambahan itu, bukan menyajikan pemandangan luar rumah. Jendela itu malah menampakkan pemandangan sumur yang ditutup cor-coran, mesin cuci, ember tempat cucian, dan rak sepatu—yang mana sepatu-sepatu yang ditaruh di rak paling atas akan terlihat jelas dari balik jendela. Kalau malam, semua benda-benda di sana terlihat kabur dengan latar belakang berwarna kekuningan akibat sorot lampu.

Jendela itu berada tepat di depan pintu kamar saya dan saudara-saudara saya.

Tempat tidur saya ditaruh di dalam kamar menghadap pintu. Jadi kalau pintunya dibuka, dari dalam kamar akan langsung kelihatan jendela sial itu.

Saya tidak ingat awal mula hantu bayangan hitam itu muncul. Yang jelas, suatu malam saya terbangun. Saya membuka mata, dan melihat bahwa kakak dan adik saya masih tidur di kasur sebelah. Saya memalingkan muka menatap pintu kamar, dan ternyata pintu kamar saya terbuka. Terlihat jendela itu, jendela berbingkai hitam dengan teralis berbentuk kembang-kembang model jaman dulu.

Dari jendela itu, terlihat sesosok bayangan hitam.

Sepertinya dia berdiri tepat di dekat rak sepatu.

Mak jenggirat! Saya ketakutan, tetapi tidak bisa bergerak. Saya mencari selimut, tetapi baru ingat bahwa saya tidak suka pakai selimut kalau tidur. Akhirnya saya menutupkan jari-jari tangan ke muka sambil berharap bayangannya pergi. Kakak dan adik saya masih asik-asik ngorok di kasur sebelah.

Beberapa saat kemudian, saya mengintip dari balik jari-jari tangan. Bayangan itu sudah tidak ada. Tapi, beberapa saat kemudian, bayangan itu malah terlihat wira-wiri dengan cepat dari ujung kanan ke ujung kiri jendela.

Huaaaa!!! Saya hanya bisa berteriak dalam hati dan hanya bisa memejamkan mata. Sambil meringkuk ketakutan, saya hanya berharap hantu atau apapun itu segera pergi. Saya merasa tegang sekaligus lelah, sampai akhirnya ketiduran.

Kejadian itu berlangsung berkali-kali. Ketika saya terbangun di tengah malam, saya sering melihat bayangan hitam itu nongol di jendela. Kadang muncul sebagai sosok tinggi ramping, sosok anak kecil, dan kadang-kadang cuma bersliweran saja. Tapi tetap saja menakutkan!

Gara-gara bayangan hitam itu, saya selalu membangunkan orang tua saya untuk diantar pipis di tengah malam. Bahkan ketika terbangun di malam hari dan tidak bisa tidur, saya sering nyusul tidur di depan TV bareng orang tua saya. Meskipun kasurnya letaknya di bawah jendela menyeramkan itu, saya merasa aman kalau sudah tidur bersama orang tua saya.

Kesalnya, keluarga saya tidak percaya dengan cerita bayangan hitam itu. Saya jadi dianggap penakut.

Saya memutuskan untuk berkonsultasi dan meminta nasihat teman-teman SD saya untuk mengatasi masalah itu. Seorang teman saya nyeletuk, “Mungkin kamu mau dijadiin tumbal.”

“Hah? Tumbal?”

“Iya. Orangtuamu kan kaya. Mana mungkin kaya secepat itu. Pasti pake tuyul. Kalau nggak, punya pesugihan. Kamu tumbalnya.”

Ketika saya mengonfirmasi hal ini pada orang tua saya, saya hanya ditertawakan.

Jengkel, saya memutar otak biar masalah ini cepat selesai. Hidup saya di kelas 4 SD hancur berantakan gara-gara dihantui oleh bayangan di jendela. Enak saja kau, setan!

Sepulang sekolah, saya melewati pedagang yang biasa jualan mainan anak-anak di belakang sekolah. Saya melihat dagangannya, dan tiba-tiba terlintas ide di kepala saya. Saya melihat stiker cap Allah, dan saya membelinya.

Setibanya di rumah, saya tempelkan stiker Allah itu di jendela terkutuk itu. Saya menempelkannya kuat-kuat. Saya tekankan telapak tangan saya ke jendela berkali-kali. Seperti menyetrika. Saya membaca doa-doa yang saya hapal waktu itu—doa sebelum makan—lha arep piye meneh, hafalnya cuma itu.

Rasakan ini, dasar hantu bayangan menyebalkan!

Saya berharap agar bayangan itu tidak nongol lagi di jendela. Namun, pada suatu malam, ketika bapak saya sedang ikut kumpulan bapak-bapak, bayangan itu nongol lagi di jendela yang sudah saya tempeli stiker Allah.

Saya terbangun, melotot menatap hantu bayangan hitam itu. Mosok hantu itu berani sama Allah? Sialnya, hantu bayangan itu tidak segera pergi; saya yang malah jadi merinding sendiri. Saya akhirnya memutuskan untuk menyusul tidur ibu saya di depan TV.

“Bu,” aku membangunkan ibuku. “Ibu tahu itu apa?” Saya menunjuk bayangan di jendela di atas. Bayangan itu masih di sana.

“Ibu nggak lihat apa-apa,” kata ibu saya cuek. Beliyao berbaring ke samping, memunggungi saya. Saya dibiarkan saja. Akhirnya saya berbaring di sebelah ibu saya, sambil menatap lurus ke lemari kaca di seberang kasur. Tiba-tiba terdengar suara berisik. Saya ketakutan. Saya merem. Kemudian saya melek lagi.

Tampak bayangan tangan orang sedang membentuk kijang di salah satu pintu lemari kaca itu.

Lah? Siapa itu? Saya menoleh ke belakang ke tempat sekiranya ada orang yang membentuk bayangan itu. Tidak ada siapa-siapa di sana.

Saya kembali menoleh ke lemari kaca. Bayangan di lemari kaca itu malah semakin terlihat jelas. Malah seperti ada sinar senter menyorotinya. Mulut kijangnya yang terbuat dari kelingking tangan tampak membuka-menutup.

Kaget campur ketakutan, saya membangunkan ibu saya. “Buk! Kuwi opo? Kuwi opo???

“Ssstttt! Mbuh rangerti!” ibu saya cuek, tetapi beliyao menutupkan selimut ke mukanya. Apakah sebenarnya beliyao juga takut?

Saya memejamkan mata, merinding sekujur tubuh. Saya mencoba berpikir positif, mungkin saja itu bayangan tangan bapak saya. Mungkin saja bapak saya bolos dari kumpulan bapak-bapak buat pulang duluan. Mungkin saja bapak saya habis bolos kumpulan pengen main bayangan kijang di rumah. Mungkin saja. Mungkin!

***

Anehnya, setelah kejadian bayangan kijang itu, hantu bayangan hitam itu tak menampakkan diri lagi di jendela. Saya pun menjalani kehidupan malam saya dengan tenang tanpa terbangun ketakutan lagi. Stiker Allah itu pun masih ada, bahkan saya beli lagi dan saya tempelkan di pintu lemari kaca tempat bayangan kijang itu tampak.

Ketika saya menceritakan asal-usul stiker itu kepada keluarga saya, kakak saya mengejek, “Kenapa tidak kamu tutup pintu kamarnya saja. Kan kamu nggak bakalan ngeliat bayangan di jendela lagi.”

Benar juga ya! Kenapa tidak kepikiran? Namun sebelum aku menjawabnya, ayah kami tiba-tiba mengatakan ingin membangun ulang rumah belakang dan memindahkan jendela sial itu ke ujung rumah paling selatan. Jadi jendela itu tidak akan terlihat dari dalam rumah utama lagi. Wow! Keputusan bagus!

Ketika mengatakan hal itu, ayah saya menatap saya sambil berujar, “Kalau ngusir setan itu sering doa, salat, ngaji! Bukannya pake stiker!”

 

*Penulis adalah Pengajar yang baru belajar menonton drama Korea

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *