Kiai Kiai Khos di Belakang Gus Dur

Buku ini membuktikan revolusi kebudayaan Gus Dur yang merajut paradigma rasional dengan spiritual. Langkah-langkah politik dan laku hidup Gus Dur tidak hanya dipandu oleh analisis rasional akademik tetapi juga analisis spiritual. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan para kiai yang memiliki kemampuan spiritual yang ada di belakang Gus Dur. Kemampuan merajut paradigma yang selama ini dipertentangkan inilah yang membuat Gus Dur menjadi pemimpin yang dikagumi banyak orang dan dianggap memiliki kemampuan lebih. Data-data yang ada di buku ini menarik bagi siapa saja yang ingin mendalami konstruksi pemikiran dan memahami langkah-langkah Gus Dur dalam berpolitik maupun memimpin ummat.

Dr. Ngatawi Al-Zastrouw

(Budayawan, Dosen Pascasarjana Unusia Jakarta dan Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia)

 

“Penulis buku ini membuka kabut gelap, mengungkap sosok misterius di belakang Gus Dur yang selama ini menjadi teka-teki dan belum banyak dikupas oleh penulis lain. Data- data yang ada dalam buku ini terbilang unik dan segar, sebab penulisnya juga menggunakan metodologi spiritual reseacrh. Sebuah Metode yang “berani” di dunia kepenulisan!”

Ahmad Ali Adhim (Founder Dawuh Guru)

 

Sinopsis

Jika kita mencoba mencari arti dari istilah kiai khos dalam kamus besar bahasa Indonesia, niscaya akan menemukan kesia-siaan belaka. Namun jika kita tengok dalam kamus politik, istilah kiai khos bisa dijumpai. Namun arti dari kiai khos, tidak menjadikan kita gembira, apalagi bangga. Kiai khos dalam kamus politik diartikan sebagai “sekelompok broker politik”, titik.

Fenomena munculnya atau populernya penyebutan kiai khos di kalangan umum dimulai dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menyebutkan tentang sejumlah kiai sepuh di Nahdlatul Ulama yang memberi dukungan politik terhadapnya saat pencalonan presiden di awal reformasi. Penyebutan ini lalu terus bergulir dan berkembang dalam perjalanan politik Gus Dur.

Kepopuleran penyebutan kiai khos tersebut juga berdampak terhadap internal Nahdlatul Ulama. Karena dengan munculnya “kiai-kiai khos” tersebut secara tidak langsung menghadirkan kelompok kiai yang bisa disebut spesial yang bagi pihak di luar Nahdlatul Ulama dijadikan bahan sebagai desas-desus dengan menyebutkan secara plesetan bahwa mereka bukan kiai khos melainkan kiai cost (kiai tarif). Sehingga marwah keulamaan kiai direndahkan. Sehingga tak tanggung-tanggung pada tanggal 21 April 2004 PBNU meminta kepada masyarakat untuk tidak memakai penyebutan atau pengistilahan kiai khos lagi. Agar tidak terjadi gesekan yang berdampak negatif di kalangan santri.

Sampai hari ini siapa saja kiai khos yang sering berada di belakang Gus Dur dan selalu memberi fatwa langit tersebut senantiasa menjadi perbincangan dalam acara-acara tak resmi di kalangan santri, namun siapa saja mereka masih saja diperdebatkan, barangkali malah jarang ada yang tahu, maka buku ini menjawabnya!

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *