KH. Mu’tashimbillah Pandanaran, Kiai ‘Alim ‘Allamah yang Sangat Tawadhu’

KH. Mu’tashimbillah Pandanaran

Oleh: Achmad Naufal Anam

Jogjakarta, daerah ini juga menjadi salahsatu daerah yang terkenal dengan pesantren huffadz yang berkultur nahdliyyin. Krapyak, Pandanaran, Ngrukem, Kotagede, dll adalah beberapa pondok pesantren qur’an yang berkultur nahdliyyin, beberapa pondok pesantren tersebut bahkan memiliki ketersambungan sanad kekeluargaan, seperti Mbah Nawawi Ngrukem dan Mbah Mufid Pandanaran yang menjadi salahsatu menantu Krapyak.

Pandanaran seiring berjalannya waktu memiliki perkembangan yang sangat pesat, Pandanaran dibawah asuhan Romo Dr. KH. Mu’tashimbillah, S.Q. M.Pd.i. atau yang akrab disapa Kiai Tashim ini menjadi salahsatu pesantren besar dengan jumlah santri ribuan dan memiliki banyak cabang, tentu tidak mudah mengembangkan pesantren sehingga menjadi pesantren besar dengan jumlah santri yang banyak dan memiliki banyak cabang.

Salahsatu faktor adalah faktor pemimpin pesantren tersebut. Pandanaran dibawah asuhan Kiai Tashim terus istiqomah meneruskan perjuangan Mbah Mufid dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama dan mencetak para penghafal Qur’an. Kiai Tashim adalah salahsatu kiai dengan samudera ilmu dan kebijaksanaan yang belum banyak orang ketahui.

Beliau mungkin tidak semasyhur kiai-kiai yang sering muncul di platform media sosial, tapi ilmu beliau bisa dikatakan setara dengan kiai-kiai tersebut, kalau dalam istilah ada namanya istilah “Kiai Panggung” atau kiai yang fokus dakwah kesana kemari mengisi pengajian, Kiai Tashim ini mungkin adalah salahsatu kiai yang lebih fokus untuk mengurus santrinya, dan mengurus pondok pesantren dengan cabang yang cukup banyak.

Dalam hal keilmuan beliau ini bisa dikatakan “Alim ‘Allamah. Beliau bahkan pernah mewakili Indonesia di ajang MHQ plus tafsir Internasional yang mana pesertanya dianugerahi untuk masuk ke dalam ka’bah, salahsatu anugerah yang sangat luar biasa. Beliau sejak kecil didawuhi bapak beliau Kiai Mufid untuk terus ngaji, ngaji dan ngaji, selepas ngaji kitab di krapyak beliau mulai mengahafalkan Qur’an tanpa berfikir besok suatu saat akan menjadi apa.

Tetapi dalam hal kenikmatan duniawi beliau pernah liburan sampai ke Amerika tanpa biaya dan dalam hal ukhrowi beliau dianugerahi masuk ka’bah, hal itu tak lain adalah barokah Qur’an seperti apa yang didawuhkan bapak beliau Kiai Mufid. Santri-santri beliau akrab memanggil beliau dengan sebutan “Bapak”, sebutan bapak ini adalah bentuk kedekatan kiai dengan santrinya yang bagaikan bapak dan anak.

Beliau pernah dawuh “dalam hal biologis hubungan bapak dan anak kandung ini tidak boleh terpisahkan dan dalam hal menuntut ilmu hubungan antara guru dan seorang murid ini juga tidak boleh terpisahkan” dawuh beliau Kiai Tashim, sehingga sebutan bapak oleh santri-santrinya kepada Kiai Tashim bukan hanya sebutan formalitas belaka, sebutan ini bagi santri-santri adalah bentuk penghormatan kepada kiainya.

Semua santri-santrinya menganggap Kiai Tashim ini adalah “Murobbi Ruuhnya” Maksudnya adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan jiwanya. Yang bertugas mengisi dan mendidik otaknya dengan pengatahuan yang benar, mengisi hatinya dengan akidah, dan ruhnya dengan akhlakul karimah.

Salahsatu bukti Bapak sangat dihormati oleh santri-santrinya adalah ketika beliau memimpin doa Mujahadah Kamis wage di Pandanaran, setiap mujahadah pasti ada beberapa santri yang bercanda, ngobrol dengan temannya, atau tidak fokus mengikuti mujahadah, tetapi ketika Bapak melantunkan doa, semua terdiam mengamini doa beliau, bahkan tak jarang ada beberapa santri yang menangis mengamini doa beliau.

Beliau juga sering dawuh “Lebih baik salah menghormati daripada tidak menghormati sama sekali” yaitu kepada siapapun kita wajib menghormati meskipun orang tersebut lebih muda daripada kita atau orang tersebut secara keilmuan masih dibawah kita daripada kita tidak menghormati sama sekali.

Ada satu cerita yang menjadi bukti bahwa Bapak atau Kiai Tashim ini sangat menghormati siapapun, yaitu ketika selepas pemakaman Kiai Masykur dan Bunyai Ninik Pandanaran, saat Kiai Tashim ini berjalan menuju mobil untuk pulang beliau menunduk memberikan penghormatan kepada saya dan teman-teman saya, padahal rombongan kami ini semuanya adalah santri beliau yang seharusnya sudah kewajibannya kami menghormati beliau.

Beliau Kiai Tashim malah yang memberikan penghormatan lebih kepada santri-santrinya, secara tidak langsung beliau memberikan contoh kepada santri-santrinya untuk menghormati siapapun, karena kiai ini bukan hanya tentang dawuhnya kepada santri tetapi tindak nyata perilaku beliau ini yang menjadi teladan untuk santri-santrinya. Ini adalah salahsatu bukti ketawadhuan beliau.

Ada juga satu cerita yang menjadi bukti ketawadhuan beliau yang saya kutip dari cerita salahsatu santri Krapyak, yaitu ketika belum genap tujuh hari meninggalnya Kiai Najib abdul Qodir Munawwir yang saat itu maqbarih dongkelan sedang ditutup atau Lockdown, ada suara seseorang yang sedang nderes Al Qur’an, yang dikira suara tersebut berasal dari dalam maqbaroh Dongkelan yang sedang tutup.

Setelah dicari sumber suara tersebut ternyata sumber suara tersebut bersumber dari sela-sela tembok SD Muh Dongkelan dan pagar maqbaroh dongkelan, ternyata sumber suara tersebut adalah dari Kiai tashim yang sedang nderes (Bil Ghoib) diluar tembok maqbaroh, karena beliau menghormati peraturan kampung tersebut untuk tidak masuk ke maqbaroh.

Padahal kalau beliau ingin masuk ke maqbaroh Dongkelan bisa saja beliau masuk ke maqbaroh karena ibu beliau Nyai Hj. Jauharoh Munawwir dimakamkan disitu dan yang dimakamkan di maqbaroh dongkelan mayoritas adalah keluarga Beliau Kiai tashim tetapi beliau lebih memilih diluar untuk menghormati peraturan. Subhanalloh begitu tawadhu’nya beliau, semoga sehat selalu kiaiku.

 

BIO PENULIS

Achmad Naufal Anam lahir di Magelang, 21 Februari 2002 yang sekarang sedang menempuh Pendidikan di UIN Sunan Kalijaga mengambil jurusan Ilmu Hukum dan nyambi mondok di Pondok Minhajuttamyiz Timoho, Pernah Mondok di Pandanaran selama 6 tahun sejak Mts sampai Aliyah, pernah tabarrukan di pondok pesantren API Tegalrejo dan PP Miftahul Huda Siwatu Wonosobo, sekarang aktif di organisasi IPNU, PMII, JQH ALMizan Divisi Tafsir, Formispa Pusat Yogyakarta dan Organisasi Mataair Yogyakarta dibawah Asuhan KH.Musthofa Bisyri, sekarang juga dalam proses murojaah Al-Qur’an yang masih bercita-cita untuk khataman di Pandanaran dan mendapatkan Syahadah Qur’an di Pandanaran. Hobinya futsal sama sepakbola, Klub Favorit sejak kecil ya Manchester United yang mana klub ini banyak Fansnya termasuk kalangan Kiai, Artis, Tokoh politik seperti Gus Yusuf tegalrejo, Gus Azka Pandanaran, Gus Rifqil Moeslim, Mbah sujiwo tejo dan Pak Mahfudz MD yang semuanya menjadi idola Penulis.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *