KETIKA TEKNOLOGI MENGUBAH TRADISI

Setiap manusia pasti menginginkan adanya perubahan. Namun, terkadang perubahan tidak sesuai dengan unsur-unsur sosial yang saling berbeda. Sehingga, terjadi keadaan yang tidak serasi bagi kehidupan. Ada beberapa teori yang menjelaskan fenomena perubahan sosial, salah satunya teori evolusi. Teori tersebut didukung oleh peningkatan kemampuan manusia untuk menguasai alam yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi. Hal ini sejalan dengan pemikiran Lenski yang menyatakan, bahwa teknologi merupakan faktor utama penyebab terjadinya perubahan sosial.

Seiring berjalannya waktu, teknologi mengalami perkembangan sangat cepat. Dunia baru hasil teknologi telah tercipta yaitu dunia virtual di era milenial. Dunia yang menyebabkan terjadinya perubahan pada seluruh aspek kehidupan masyarakat. Tidak hanya berpengaruh pada kalangan remaja dan dewasa, tetapi juga pada anak-anak. Secara tidak langsung, kehidupan anak-anak telah terjajah oleh hadirnya dunia digital. Faktanya, mereka kini lebih memilih menggunakan smartphone, android atau gadjet untuk mengisi hari-harinya dalam bermain daripada memanfaatkan ragam permainan tradisional. Lalu, apa jadinya bila digital sudah menjadi penguasa dalam dunia manusia?

Tahun 2000 merupakan tahun milenium. Teknologi sedikit demi sedikit mulai melenggang di atas panggung kehidupan manusia. Perlahan tapi pasti, hingga akhirnya teknologi berani unjuk gigi sampai saat ini dan menjadi teman sejati. Era digital mulai menguasai dan mulai memainkan perannya dengan baik. Dunia anak mulai mengalami perubahan pada tingkat bermain. Kenyataan yang terjadi adalah banyaknya anak-anak yang sudah kecanduan game online. Lebih-lebih di masa pandemi yang sedang melanda saat ini. Saya menyaksikan sendiri kala beberapa anak-anak sedang berkumpul di sebelah rumah sambil memegang ponsel canggih mereka dengan berbagai merk.

Mula-mula saya berpikir mereka sedang mengerjakan tugas dari sekolah yang dilakukan secara daring dengan bantuan internet. Namun ketika saya dekati, ternyata mereka sedang asyik bermain salah satu layanan game online yang dapat dimainkan secara berkelompok. Tak hanya itu saja, saya sering kali melihat balita menangis seketika terdiam saat sebuah tontonan di layar ponsel berada tepat dihadapannya.

Bahkan, tangannya lihai menggeser layar ponsel untuk mencari sesuatu yang mereka sukai. Begitu juga yang terjadi pada anak saya sendiri yang usianya 6 tahun. Kebiasaan yang sering dilakukannya adalah saat sedang bertamu, dia selalu meminta memegang ponsel karena temannya juga melakukan hal yang sama. Jika tak diberi, dia akan merengek. Padahal, tak ada satupun permainan yang saya download karena saya tak ingin kalau anak saya menjadi terlena dengan berbagai aplikasi yang tersaji di dalamnya. Sungguh ini sebuah ironi yang nampaknya perlu diluruskan!

Lalu, siapakah yang mampu mengarahkan mereka agar tidak selalu terbuai dengan dunia virtual? Jawabannya mengacu pada satu objek paling penting, yaitu orangtua sebagai lembaga keluarga dan utama bagi anak. Salah satu ciri dari lembaga keluarga adalah mempunyai seperangkat aturan sosial tertentu yang diakui dan dijalankan bersama-sama oleh seluruh anggotanya. Keluarga sebagai unit masyarakat terkecil juga mempunyai fungsi pokok sebagai pengendalian atau pengawas perilaku. Bahkan, menurut sosiolog bernama Johnson menyatakan, bahwa di dalam keluarga diajarkan cara bersosialisasi dengan anggota masyarakat lainnya. Hal ini dilakukan agar pada suatu saat anak-anak akan lebih siap dan mampu mengagadakan hubungan sosial dengan masyarakat.

Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau orangtua benar-benar menjalankan perannya dalam keluarga. Misalnya, mendampingi anak ketika belajar dan bermain, memberikan perhatian yang dibutuhkan anak, membatasi waktu ketika menggunakan ponsel dan menjalin komunikasi yang intents, sehingga ketika anak sedang dalam kesulitan bisa mendapatkan solusi terbaik setelah berinteraksi dengan orantua. Dengan cara itulah, anak akan merasa menjadi bagian dari keluarga yang memang diharapkan kehadirannya.

Namun, jika orangtua memberikan kebebasan begitu saja pada sang anak untuk memegang ponsel tanpa batas. Maka, anak akan mengalami ketergantungan dan melupakan tugasnya sebagai manusia yang harus bersosialisasi. Sedangkan, sosialisasi memang diperlukan dalam kehidupan bermasyakat. Peter L. Berger mengemukakan tentang sosialisasi yang merupakan proses di mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Sehingga, seorang anak dapat berpikir, bersikap, dan berperilaku secara serasi, selaras dan seimbang.

Seharusnya, sejak dini anak mulai dilatih agar mampu menjadi makhluk sosial yang seutuhnya. Sebab, anak merupakan bakal generasi yang menentukan kehidupan di masa depan. Jangan sampai merusak kepribadiannya dengan menyalahgunakan kecanggihan teknologi, agar mereka tak mengubah tradisi budaya dengan obsesi yang membuatnya lupa diri.

Tak cukup sampai di situ saja. Peran tekhnologi dalam kehidupan manusia sungguh sangat luar biasa. Tekhnologi mampu mengubah tatanan perilaku manusia. Memudahkan menjalin silaturahim, tetapi sebenarnya menjauhkan dari rasa kasih sayang dan cinta. Meringankan beban pekerjaan, namun sebenarnya menyita waktu dan pikiran. Faktanya adalah saat sebuah hubungan terjalin dalam jarak jauh, tekhnologi menjadi alternatif yang cocok untuk mewujudkannya. Komunikasi dapat terjalin melalui penggunaan ponsel yang memberikan kemudahan layanan berbagai aplikasi, misalnya whatshap.

Dengan aplikasi tersebut sesorang bisa menjalin percakapan secara lisan. Bahkan bisa menggunakan video call apabila ingin bertatap muka. Lebih-lebih di masa pandemi sekarang yang sangat sulit sekali untuk bepergian bahkan pulang kampung menemui keluarga. Sehingga, banyak yang harus menahan rindu untuk berjumpa keluarga mereka secara langsung. Karena, menurut saya raga dan nyawa lebih berharga dan utama daripada hanya sekedar bertatap muka melalui dunia virtual.

Meskipun penggunaan tekhnologi di masa pandemi mampu meringankan beban kerja. Namun kenyataan, justru menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran. Fakta yang terjadi di lapangan adalah ketika harus mengikuti rapat atau kegiatan yang menggunakan aplikasi zoom dan sebagainya, yang menjadi kendala terbesar yaitu sinyal internet yang buruk. Itu jelas akan membuang banyak waktu karena harus menunggu sinyal bagus, agar semua peserta yang hadir bisa mengikuti alur kegiatan yang telah ditentukan.

Salah satu contoh lain misalnya, ketika para operator harus menyetorkan data-data tentang sekolah. Seringkali mereka mengeluhkan sulitnya untuk masuk pada sistem yang telah tersedia. Tak jarang mereka harus ekstra sabar menunggu, bahkan terkadang mereka rela kerja lembur karena permintaan deadline yang telah ditentukan. Belum lagi, banyaknya terjadi perubahan cara mengisi data-data tersebut.

Akhirnya yang terjadi adalah secara tidak langsung, tenaga dan pikiran terkuras hanya gara-gara pekerjaan dalan dunia virtual tak kunjung usai sebab harus merombak kembali data-data berdasarkan permintaan. Ini terjadi pada teman saya yang berprofesi sebagai operator emis sekolah.

Kecanggihan teknologi mampu mengubah segala tradisi. Namun, sebagai manusia kita harus bijak dalam menggunakan teknologi agar tidak merusak masa depan kita sendiri dan para generasi penerus bangsa.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *