Ketika Musik Pop Menghancurkan Peradaban Langgar

Sumber gambar : Nusantaranews.com

Seringkali, saat sore menjelang masuk waktu Maghrib saya menghabiskan waktu dengan bersepeda motor. Dan sering juga mendengar lantunan pujian di langgar-langgar yang saya lewati dengan gaung digemakan, yaitu Syiir Tanpo Waton. Syiiran Gusdur? Bukan! Saya sangat kecewa dengan seorang tokoh agama yang sering menyampaikan syiiran ini di muka umum dengan mengatakan bahwa ini syiiran Gusdur. Betapa malunya saya, ketika melihat seorang agamawan yang terkena efek jurus mabuk politisi.

Apakah ada kaitan dengan politik? Ya, ada. Sebelum kesana, perlu diketahui seni adalah hal-ikhwal yang selalu jadi sasaran empuk politik. Karena seni sangat sanggup untuk melebur dan membaur di tengah masyarakat dan bergerak secara kultur. Buktinya, selama bertahun-tahun, bahkan sampai hari ini Syiir Tanpo Waton masih dipercaya sebagai syiiran dari Gusdur. Bahwa yang benar Syiir Tanpo Waton adalah karangan dari KH. Nidzam As-Shoffa, pengasuh Pondok Pesantren Ahlus Shofa wal Wafa, Wonoayu Sidoarjo.

Gus Nidzam, panggilan akrab KH. Nidzam As-Shoffa melantukan Syiir Tanpo Waton sejak tahun 2005, jauh sebelum Gusdur wafat. Sedangkan yang beredar luas di masyarakat itu merupakan rekaman suara Gus Nidzam dan jamaahnya yang biasa melantunkan syiir tersebut setelah pengajian kitab Jami’ al-Usul fi al-Awliya’ karya Ahmad Dhiya’ al-Din al-Kumuskhanawi dan al-Fath al-Rabbani wa Faidh al-Rahmani Karya Shaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani.

Apakah saya anti Gusdur? Sehingga menolak atas penamaan Syiiran Gusdur. Tidak sama sekali. Saya hanya ingin mencoba memilah duduk soal syiir tanpo waton. Bahkan saya tidak meragukan kesenimanan Gusdur, yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta periode 1982-1985.

Jelasnya, duduk perkaranya syiiran ini pernah dikampanyekan seorang calon anggota legislatif yang mencalonkan diri pada Pileg 2009 dengan meminta izin  kepada pencipta syiir, bahwa akan membawa syiiran ini dengan mengatakan Syiiran Gusdur. Halo kiai, ini sudah bukan masa kampanye, jadi jangan bawa identitas karya dengan terus-terusan mengikuti klaim politisi. Atau jangan-jangan Anda tidak tau asal muasal karya ini dibuat? Mungkin di sinilah pentingnya peran seniman santri untuk mendampingi kiai.

Menjadi Pop dan Hancurnya Pujian Langgar

Kalau Anda membaca lirik Syiir Tanpo Waton Anda pasti setuju dengan saya, bahwa lirik tersebut benar-benar dahsyat. Menghunjam ke pori-pori hati dan melangit ke saf sanubari. Namun setelah Syiir Tanpo Waton terus bergulir ke desa-desa merambah ke pelosok-pelosok kampung. Apa yang terjadi? Syiiran tersebut langsung menjadi sebuah kebesaran yang menutupi perca-perca naluri lokalitas, menjadi sebuah capaian sastrawi yang adiluhung. Sehingga pujian-pujian lokal habis terkikis. Jadi kemiskinan yang menimpa kita bukan hanya di wilayah ekonomi dan materi, tetapi juga merambah ke wilayah kata-kata dan metafora.

Bahwa kita pernah punya banyak sekali varian pujian langgar dengan atribut kekhasan daerah. Bahwa kita pernah punya metafora yang estetis dan menjadi wirid laku dalam hidup orang-orang. Tapi kini hilang. Apakah gara-gara Syiir Tanpo Waton? Gara-gara langgar yang mendadak nge-pop!

Sebelum Syiir Tanpo Waton berkumandang di pengeras suara musala-musala, kita telah lama juga dimasuki “pujian yang jadi”, dalam artian shalawat asli langsung dilantunkan, doa-doa bahasa arab disenandungkan. Apakah buruk? Tentu tidak, tapi alangkah baiknya kita ingat pesan para orang tua dan pendahulu kita; “ngunu ya ngunu tapi aja ngunu!”. Alhasil, pujian langgar yang memiliki kematangan diksi dan petuah bijak hilang “babar blas”. Padahal pujian langgar itu merupakan khazanah penting yang kita miliki, kekayaan budaya yang harus terus kita jaga. Peradaban yang telah lama ada.

Para sesepuh dahulu, sangat sastrawi dalam bertutur, sangat religi dalam berbaur. Bayangkan saja, untuk menyebut Izrail malaikat pencabut nyawa, diksi yang dimunculkan adalah “Juru Pati, lirak-lirik saben dina”. Untuk menyebut peristiwa pemakaman dan keranda jenazah, memilih penyebutan “roda papat rupa menungso”. Dan masih banyak lagi. Tiap daerah memiliki kekhasan masing-masing. Namun kini, entah. Tugas kita semakin berat. Membuat tak mampu, menjaga tak mau!

Dari Langgar, Kita Banyak Belajar

Suatu ketika saya sedang wawancara salah satu dzuriyah di salah satu pesantren. Untuk keperluan tertentu. Sehingga akhirnya membincangkan langgar. “Gus, kok sepi ya yang jamaah di langgar tadi?” Tanya saya. “Iya, semua sudah berubah. Tinggal yang tua-tua saja”.

Dari percakapan singkat tersebut waktu itu saya langsung teringat masa kecil di mana dari langgar lah kita bisa tahu banyak hal. Mulai kisah humor sampai cerita horor. Jika cerita humor yang sedang disampaikan, pasti gelak tawa selalu menggema. Jika cerita horor yg disampaikan, sarung jadi pelampiasan. Dan mata langsung terpejam. Tidur ketakutan.

Biasanya saat matahari menuju peraduan, bersiap tenggelam bersama hilangnya cerah awan, kami para bocah bersiap berangkat menuju langgar. Entah magnet  apa yang membuat saya dan teman-teman sangat erat dan lekat dengan langgar. Karena hampir semua anak sebaya kami waktu itu, baik yang rajin sekolah maupun nakal gak ketulungan, semua sangat semangat jika mau ke langgar. Setelah shalat maghrib kami sorogan; Yang sudah bisa baca Al-Qur’an setoran baca Al-Qur’an per ‘Ain, maksudnya dimulai dari kode huruf ‘ain di pinggir sampai di ‘ain berikutnya.

Bagi yang belum lancar baca Al-Qur’an masuk kelas ngaji Turutan  atau metode Al-Baghdadiyah, semacam cara belajar membaca mengeja huruf-huruf Al-Qur’an lengkap dengan cara baca, tajwid dan makhrajnya, terdapat Juz Amma juga di dalam Turutan tersebut. Generasi Turutan adalah santri di era 80 dan 90 an. Generasi Turutan adalah generasi santri yang tau cara membaca Al-Qur’an dengan baik, baik dari segi makhraj maupun tajwidnya. Karena bagi “Generasi Turutan”  membaca Al-Qur’an bukan seperti membaca koran atupun Novel.

Biasanya sambil menunggu adzan isya’ bagi yang sudah selesai mengaji langsung membuka buku-buku pelajaran sekolahnya. Jika ada PR yang tidak paham cara pengerjaannya bisa langsung bertanya ke kakak kelas atau mas-mas di langgar. Setelah shalat isya’ ada ngaji diniyah diperuntukkan bagi yang sudah khatam setoran bacaan 30 juz Al-Qur’an. Dan ngajinya sampai larut malam. Untuk yang tidak ngaji diniyah, biasanya bermain, ada juga yang belajar. Jika lelah langsung tidur, berjajar seperti ikan pindang yang baru selesai digarami.

Apa Keistimewaan Langgar?

Langgar bagi saya adalah tempat pendidikan karakter yang sangat khas dan otentik. Bahkan, dulu jika ada bocah yang tak ke langgar pasti jadi bahan ejekan. Apalagi kalau tidak berani tidur bersama teman-temannya di langgar, otomatis akan disebut “anak manja” atau “mbok-mbok en”. Peristiwa itu saja jika didalami kita akan mendapatkan cara terapi mandiri anak.

Langgar ada sebelum “semuanya” ada. Bahkan sebelum pesantren berdiri rata-rata pesantren tersebut bermula dari sebuah langgar, kemudian santri terus berdatangan, sehingga diperlukan identitas nama. Umumnya pesantren zaman dahulu rata-rata memakai nama desanya atau kampungnya untuk disematkan sebagai nama pesantren. Tidak pakai istilah arab. Istilah arab biasanya dibutuhkan saat penamaan madrasah diniyah. Dari langgar lah pesantren-pesantren berdiri.

Dan kini, langgar telah mengalami perubahan, hanya tinggal fisik bangunan.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *