Ketika Hati Ingin Bersiul Lewat Dendang

Jantung kalian berdetak? Coba diraba, bagaimana ritmenya?

Langkah kaki kalian? Berbunyi juga, kan? Apalagi kalau pakai bakiak wah, tambah ramai hooplah.

Bahkan, suara merepet-merepet emak-emak muda saat rebutan barang diskonan pun berirama, Gaes. Jangan salah. “Woiy, punyaku!” Nada bariton keluar saat barang incaran direbut orang. Otomatis dilepaskan karena takut kena kutukan. “Maaf, itu sudah kuambil.” Nada halus, wajah melembut sambil disertai kedipan, jelas … yang ngerebut jadi segan. “Hey. Udah dibilangin jangan lama-lama di warung kopi, Abang! Apalagi itu? Main pegang-pegang. Pulang!” Kopiah menceng sang Bapak akan terbang melesat jauh beserta pemiliknya jika bini sudah nyamperin di warung kopi langganan suami. Suaranya melebihi 500 oktaf, melengking, berbelok dan menusuk tepat sasaran. Omo, semua ada iramanya. Saya yakin suara napas Bapak yang kabur karena dimarahi sang istri juga berirama saking paniknya.

Intinya apa? Bahwa setenang apapun gerakan di tubuh kita semua berirama, semua mengandung musik. Lantas, kenapa masih saja ada perdebatan tentang haramnya musik? Bakal masuk neraka mereka yang mendengarkan musik? Bahkan, bisa kehilangan Iman semua yang suka akan musik.

Tuh, Andalusia bahkan dikabarkan runtuh karena penduduknya dedemenan sama musik. Eits, kayak begini nih yang perlu diluruskan.

Musik itu sejatinya adalah miniatur seluruh keharmonisan alam semesta, Bray. Setidaknya menurut Hazrat Inayat Khan, sih, demikian. Sebab apa? Sebab bagi Inayat Khan, alam semesta mengandung ritme atau irama kehidupan dimana ritme inilah yang menjadi salah satu unsur pembentuk musik.

Kita pernah kan, mendengarkan qori‘ yang membacakan ayat suci Alquran dengan indah dan merdu? Apa coba sebutan bagi nada yang dilantunkan oleh sang Qori‘? Lagu, kan? “Ayo, coba lagu Bayati.” Suatu ketika mentor tilawah menyuruh para muridnya. Sebutannya lagu, bukan yang lain. Ritme? Iya dong. Musik? Tentu, karena dilagukan mendayu bagai irama merdu yang menenangkan.

Dengan demikian, definisi musik bukan melulu yang gedumbrengan itu. Semua ada kategori, semua memiliki alat sendiri-sendiri dan semua merujuk pada tujuan yang sama yaitu untuk menciptakan ketenangan dan kesenangan bagi yang mendengarkan.

Tetap haram. Kayak musik VOC alias penjajah waktu menjajah negeri ini. Itu alasan bagi mereka yang tetap kekeh mengharamkan musik. Men, dulu zaman Rasulullah berperang itu, si Hindun pernah menabuh genderang sambil menyertai pasukan Quraisy. Tabuhan itu menjadi penambah semangat pasukan kafir. Nah, ini. Alasan lain haramnya musik, nih. Dih, Mamen kalau kalian memakai perbandingan zaman VOC maka ada yang jauh lebih tua. Dan kedua alasan ini juga dipakai sebagai alasan mereka yang menganut musik haram.

Karena musik melenakan dari usaha mengejar akhirat. Benar, ini akan menjadi salah satu ‘illat bagi haramnya musik. Eh, tapi … tarian sufi pengabut tarekat Jalaluddin Rumi melakukannya untuk mendekatkan kepada Yang Hakiki. Bagaimana, dong? Maka, garis simpulnya adalah kita enggak bisa menjadikan satu alasan sebagai alasan umum yang seragam terkait haramnya musik.

Thoha Yahya Umar, seorang ulama moderat mengatakan bahwa niat memainkan musik beserta kondisi-kondisi tertentu lain yang menyertainyalah yang bisa menjadi sebab ditetapkan haram atau mubahnya musik.

Bermusik sambil mabuk-mabukan? Haram dong, Men. Mendengarkan musik di tempat kondangan? Selama tidak ada niat lain dan kondisi lain yang mengarah kepada keharaman, kenapa enggak? Dengerin musik di dalam kamar untuk merilekskan tubuh dan pikiran? Sudah jelas, niatnya bisa untuk kemubahan. Jadi, jika semua diharamkan karena kondisi yang sejatinya berbeda maka itu namanya menggeneralisir alasan.

Menyitir ucapan Imam Ghazali, Jika semua musik diharamkan maka, suara burung juga haram.

Lantas, apa yang mesti disikapi dari permasalahan debat kusir yang semakin hari semakin tidak berujung ini?

Jawabannya adalah … kenali apakah musik itu ada karena pemaksaan? Jelas semua yang dipaksa maka tak akan menjadi baik. Kedua, apakah musik itu layak dijadikan sebagai sebuah elaborasi budaya atau tidak? Karena stigma itu akan muncul tergantung siapa yang membawa dan mengenalkannya. Jikalau efeknya bisa sampai menimbulkan keharaman, maka kembali pada pendapat Thoha Yahya Umar yang demikian ini bisa menjadi alasan keharamannya.

Biarkan siulan di hatimu terdengar di alam. Agar jiwa-jiwa kesepian kian mendekat kepada hamba yang senang mendendangkan asma Tuhan. Seperti Sunan Bonang yang menggubah kidung Tombo Ati, atau Maheer Zen yang mengubah hip hop menjadi ritme religi dengan syairnya. Tentunya, mereka yang mendengarkan dengan hati akan tergerak mendekat dan kembali mencari makna hadirnya Tuhan.

 

Mambaul Athiyah, penikmat sastra, pendengar musik, perangkai aksara.

 

 

 

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *