Kenapa Kita Sangat Dianjurkan Memperingati Maulid Nabi?

Kenapa kita sangat dianjurkan memperingati Maulid Nabi? Setidak-tidaknya alasan pertama adalah sebagai tanda terimakasih kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus sebagai rasa mahabbah.

Kenapa berterimakasih? Sepenggal cerita di akhir kehidupan beliau. Nabi Muhammad SAW mengalami sakit selama 18 hari, yang paling parah adalah 3 hari terakhir. Pada hari senin sekitar waktu dhuha, ada tamu yang ingin bertemu Nabi. Tamu tersebut adalah Malaikat Izroil.

Begitu Malaikat Izroil dipersilahkan masuk oleh Siti Fathimah, langsung menemui Nabi di tempat istirahat. Nabi pun juga langsung bertanya kepada Malikat Izroil tentang maksud kedatangannya. Malaikat Izroil pun menyampaikan maksudnya, yang pertama adalah silaturrahim dan yang kedua adalah mencabut nyawa (bila Nabi kerso).

Nabi pun bertanya lagi, dimana Jibril?. Sebab biasanya ketika ada rombongan malaikat yang ingin silaturrahim kepada Baginda Rasul, Malaikat pertama yang menemui adalah Jibril. Malaikat Izroil pun menjawab Jibril sedang mengkoordinir semua Malaikat, Nabi-nabi terdahulu, dan para bidadari surga turun ke bumi untuk menyambut kedatangan mahkluk yang paling mulia, yaitu Panjenengan.

Tidak lama kemudian Malaikat Jibril datang dan langsung duduk disebelah kanan Nabi. Nabi pun bertanya, “Jibril, apa yang saya dapatkan nanti di akhirat?”. Malaikat Jibril pun menjawab, “Demi Allah, saya menjadi jaminannya. Sebelum Nabi masuk surga, tidak ada orang satupun yang boleh masuk”. Dapat jaminan yang seperti ini, Nabi bersikap biasa tidak jumawa tidak tersenyum apalagi tertawa.

Nabi bertanya lagi kepada Jibril, “Bagaimana dengan umatku?”. Dijawab oleh Malaikat Jibril, “Baginda Rasul, demi Allah saya menjadi jaminannya. Sebelum umat Panjenengan masuk surga, semua umat Rasul terdahulu tidak boleh masuk”. Mendengar jawaban seperti itu, barulah Nabi Muhammad SAW tersenyum. Kemudian Nabi SAW berkata, “Yasudah, kalau seperti itu jaminan untuk umatku, saya mau meninggal sekarang”. Selanjutnya dimulailah proses pencabutan nyawa, Nabi SAW berkeringat sesampai Malaikat Jibril itu mengalihkan pandangan seakan-akan tidak tega melihat Nabi SAW dicabut nyawanya.

Foto ini diambil langsung pada tahun 2016

Ditengah-tengah proses pencabutan nyawa, Nabi bertanya kepada Malaikat Izroil, “Izroil, apakah semua orang yang dicabut nyawanya juga sakitnya minta ampun seperti ini?”. Kata Malaikat Izroil, “Tidak Baginda, pencabutan nyawa Panjenengan ini yang paling halus”. Maka kemudian Nabi meminta kepada Malaikat Izroil, “Izroil, saya minta sekali lagi. Kalau permintaanku ini dikabulkan, maka teruskan saja pencabutan nyawaku”. Malaikat Izroil menjawab, “Iya Yaa Rasul, Panjenengan menghendaki apa?”. Nabi berkata, “Izroil, saya minta supaya umatku dari sekarang hingga hari akhir nanti, yang ahli ibadah, sakit pencabutan nyawanya saya tanggung sekarang. Kalau permintaan ini dikabulkan, saya mau meninggal sekarang”.

Begitu besar pengorbanan Baginda Nabi Muhammad SAW kepada kita semua. Oleh karena itu kita harus berterimakasih kepada Nabi SAW, dan bentuk terimakasih paling kecil adalah membaca shalawat.

Semoga kita menjadi orang-orang yang ahli membaca shalawat, ahli ibadah. Supaya digolongkan menjadi salah satu diantara orang yang masuk surga tanpa hisab, orang masuk surga dengan dosa-dosa yang diampuni, dan orang masuk surga dengan membawa dosa yang besar.

Cerita ini disampaikan KH. Taufiq Abdul Djalil (Ketua umum IKABU pusat, saat menghadiri acara Dies Maulidiyah HIMMABA ke-33).

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *