Kearifan Strategi Dakwah KH Abu Amar Khotib

Nusantara ini selalu memiliki ulama yang memiliki cara jitu dalam mengajak pada jalan kebenaran sesuai esensi agama. Sebenarnya cara semacam ini adalah warisan ulama terdahulu, hanya saja sedikit ada perbedaan budaya masyarakat setempat. Cara tersebut tidak lain adalah bi ainirrohmah, memandang segala sudut pandang dengan samudrah kasih sayang. Jika sudah dengan kacamata welas asih, lalu pada sudut pandang apa bisa semena-mena menyalahkan orang? Bahkan dalam pola maksiatpun, tetap merasa ibah atau kasihan, lalu mendoakan agar mendapatkan jalan yang benar. Ini merupakan warisan Nabi Muhammad yang terwariskan kepada pada ulama (al ulama’ warotsatul anbiya’). Jadi bukan sekedar geneologi saja yang ulama dapatkan dari Nabi, namun jauh yang sangat lebih urgensi adalah mewarisi akhlaq luhurnya.

Islamisasi nusantara memang dibawa oleh sunan walisongo, baik walisongo periode pertama (sebut misalnya Sunan Geseng, Syekh Jumadil Kubro, Syekh Subakir, Maulana Ishaq dan lain sebagainya) ataupun walisongo tahap kedua (Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Maulana Malik Ibrohim, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijogo, Sunan Gunung Jati). Keberadaan beliau semua tentu memiliki keturunan baik biologis maupun idealis untuk meneruskan perjuangan Islamisasi nusantara. Inilah yang kemudian di setiap titip daerah, terkadang ada sosok ulama yang meneruskan visi para wali tanah Jawa.

Pasuruanpun demikian adanya, kabupaten yang mirip Bogor (karena kesamaan memiliki kebun raya dan taman safari) memiliki ulama-ulama kharismatik yang sangat hebat dan luar biasa. Dalam rantai sejarah, Islamisasi di Pasuruan ini dibawah oleh cucu Sunan Gunung Jati yaitu habib Sholeh Semendi yang kemudian diteruskan oleh dzurriyyahnya. Ini yang disebut sebagai generasi geneologi dan ideologi yang menjaga visi pendahulu.

Mbah Habib Sholeh Semendi dakwah syiarnya berada pada titik wilayah Winongan Pasuruan. Sementara di titik kecamatan sebelahnya ada ulama kharismatik yang juga memiliki kesamaan visi dengan Islamisasi pemula di Pasuruan, beliau adalah KH Abu Amar Khotib. Pasrepan merupakan wilayah yang cukup jauh dari jantung kota, akan tetapi geseran antara Winongan (sebagai pusat wilayah tempat penyebar Islam di Pasuruan pertama kali) cukup sangat dekat. Dilihat dari sisi benang merah tersebut, KH Abu Amar sangat mengantongi stategi dakwa jitu yang turun temurun, tidak lain adalah dengan pendekatan terhadap masyarakat, meskipun beliau sendiri memiliki pesantren sebagai embrio tercetaknya kader yang mencintai dan mewarisi akhlaq ulama.

Sebagai pemangku pesantren yang cukup besar, KH Abu Amar tidak sekedar berharap orang datang ke majlisnya untuk mentransfer ilmu. Akan tetapi beliau juga melakukan percepatan penyebaran nilai-nilai agama dengan turun langsung kepada masyarakat (majlis taklim di tengah masyarakat). Kontinyuitas serta konsistensi dalam merawat ajaran Islam Rahmatal lil alamin beliau jalani penuh dengan kegigihan. Upaya dengan mendatangi tiap majlis di peloso-pelosok merupakan indikasi tersendiri atas ketawadhu’annya. Tidak terbesit dalam benaknya “siapa yang butuh, silahkan mendekat kepadanya”, akan tetapi beliau lebih sangat dekat dengan masyarakat serta mengetahui kondisi riil yang dihadapi.

Dalam tiap kali hadir di sebuah majlis pelosok desa, beliau selalu mengawali dengan srokolan, yaitu pembacaan sholawat nabi yang dengan posisi berdiri. Menurut Nyai Hj. Jumiatin Romli (istri KH. Musta’in Romli Peterongan Jombang) memberikan keterangan betapa afdholnya tentang skokolan (srokol itu diambil dari sholawat dzibaiyya yang diawali bait asyrokol badru alaina). Bahwa dalam srokolan itu pemujaan terhadap nabi menggunakan kata ganti kedua tunggal, atau dalam bahasa Arab menggunakan dhomir anta (anda). Jika menggunakan dhomir anta itu berarti yang dipuja ada/hadir, ini yang menurut Nyai Hj Jumiatin bahwa tiap srokolan nabi hadir. Fungsi yang sangat afdhol ini dijadikan rutinitas oleh KH Abu Amar saat mengawali majlis ilmi, kemungkinan dengan harapan akan dapat trembesan dari jiwa nabi yang agung Muhammad SAW.

Selain aktif dalam edukasi dan syiar ke pelosok desa, KH Abu Amar ini juga merupakan sosok yang selalu tahu kebutuhan masyarakat. Suatu hari, sekitar tahun 1955, masjid berkurang jamaahnya. Situasi yang seperti ini tidak membuat beliau emosi, namun terjun sendiri untuk mengetahui alasan nyata dibalik berkurangnya shof sholat di masjid. Setelah beliau selidiki melalui cara investigasinya ternyata masyarakat tersebut kesulitan air. Maka beliaupun berinisiatif melakukan pengadaan pembangunan sumur. Kebijakan seperti ini semestinya pemerintah yang melakukan, namun lagi-lagi bentuk kasih sayangnya yang besar itulah solusi ini beliau ciptakan dan direalisasikan.

Sebelum membangunan sumur dimulai, terlebih dahulu melakukan riyadhoh dengan membaca burdah sebanyak 41 kali selama 35 hari (pendak kalau menurut orang Jawa) mulai jumat legi sampai jumat legi lagi. Burdah berisi pujian-pujian indah antara perasaan cinta dan rindu kepada nabi Muhammad yang sastranya belum tertandingi oleh sastrawan manapun. Karena perasaan yang mendalamnya Imam Al Bushiri (shohibul burdah) sehingga terjadi sesuatu yang diluar nalar berfikir manusia biasa atas kesembuhannya. Kehangatan burdah memang sangat magis serta terasa. Tabarukan semacam ini juga dilakukan oleh KH Abu Amar saat akan membangun sumur bersama warga sekitar yang kekurangan air. Setelah riyadhoh selama pendak, ada beberapa tanah yang diteliti melalui panca indranya, dengan tanah itu dicium, beliau mengerti mana yang akan menghasilkan sumber mata air yang besar. Sampai tiga kemudian menemukan sumber yang besar tersebut. Digalilah tanah yang tercium memiliki sumber besar tersebut.

Tempat tersebut bernama desa Klakah kecamatan Pasrepan kabupaten Pasuruan. Desa yang sampai saat ini cukup kesulitan air tersebut cukup terjawab kebutuhannya dengan adanya sumur yang telah terbangun. Air memang kebutuhan hidup yang paling pokok, selain untuk berlangsungnya kehidupan, air juga berfungsi untuk berlangsungnya ibadah (bersuci). Penggunaan air tersebut dalam sebuah tilik sejarah, hanya bisa digunakan untuk hal yang maslahat saja.

Pernah suatu hari ada orang yang mengadakan tayuban, lalu mengambil air dari sumur tersebut, sehingga keringlah mata airnya. Sampai kemudian beliau (KH Abu Amar) rawuh dan mengadakan selametan dengan membawa dawet serta membaca burda, airnyapun berlimpah lagi. Kemudian juga ada orang yang sedang haid yang mengambil air tersebut, kemudian mengering lagi, lalu dilakukan cara yang sama sumber air kembali semula. Sehingga oleh penduduk sekitar keberadaan sumur tersebut sangat dijaga fungsi dan kesuciannya.

Kearifan dalam dakwa yang beliau sampaikan kepada masyarakat sangat melekat, bukan hanya dengan mauidhoh hasanah saja, tapi juga dengan uswatun hasanah, keteladanan yang sangat terpuji. Juga dengan memberi solusi atas permasalahan yang dihadapi umat, sehingga tidak pandangan yang subyektif beliau menilai masyarakat, namun sangat mengerti sudut pandang dalam pandangan mereka, ini yang disebut kebijakan/wisdom/kearifan.

Ulama yang selalu istiqomah tersebut betul-betul memiliki kerendahan hati yang sangat membumi dalam dirinya. Meskipun seorang kyai besar, setiap sore beliau juga ke kebun dengan membawa beberapa peralatan tani. Tidak hanya majlis ta’lim, masjid, mimbar atau musholla saja yang menjadi rutinas aktifitasnya, namun sikap disiplin juga tertanam dari dirinya untuk melakukan pekerjaan lain, seperti berkebun. Jika bukan dari kerendahan hati, mungkinkah itu terjalani. Kekasih Alloh tidaklah yang gengsi dengan apapun kebaikan, selayaknya Sunan Kalijogo yang pernah menjadi tukang rumput Sunan Tembayat sebelum diangkatnya Sunan bayat menjadi wali Alloh.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *