Jejak Sains Islam

Oleh: Damhuri Muhammad

Ilm (pengetahuan) adalah konsep yang amat mengakar  dalam Islam. Dalam berbagai terminologi turunannya, Ilm menjadi salah satu kata yang sering disebut dalam Al-Qur’an, hampir menyamai banyaknya ungkapan kata Allah (Tuhan) dan Rabb (Pencipta, Pemelihara). Nabi sendiri dalam setiap kesempatan, selalu menegaskan urgensi Ilm dan memberikan pujian kepada orang-orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam menuntut ilmu.

Dalam keluasan khazanah peradaban Islam klasik begitu terang terlihat bahwa Islam identik dengan Ilm, bahkan dapat dikatakan, tiang penyangga peradaban Islam sesungguhnya adalah apresiasi yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Sinyalemen ini senada dengan apa yang dicatat oleh Ziauddin Sardar (2000) bahwa sebenarnya peradaban Islam klasik yang agung itu secara keseluruhan, ruhnya adalah ilmu pengetahuan. Dengan mencari, menguasai, mendiskusikan dan memperdebatkan, mendefinisikan, membangun institusi untuk menyebarluaskannya, menuliskan, membaca, menyusun serta menumbuhsuburkannya.

Menurut Sardar, ketergeseran  umat Islam ke tepi peradaban modern masa  kini, disebabkan oleh karena kaum muslimin tidak lagi berbuat banyak dalam mengembangkan parameter ilm, tidak lagi sungguh-sungguh memikirkan signifikansi pusat ilmu dalam membangun dan merawat peradaban Islam. Dalam situasi stagnan seperti itu, konsep ilmu tampak kehilangan sumber motivasi dan inovasi. Potret ketertinggalan umat Islam dalam konteks ilmu pengetahuan, diilustrasikan oleh Sardar seperti sebuah danau yang mati, perlahan-lahan tapi pasti, karena semata-mata melakukan penciplakan tradisi yang kabur dari satu ujung, mode serta perilaku Barat di ujung yang lain.

Problem ini kian parah ketika sikap yang dikembangkan oleh para sarjana muslim dalam menghadapi hegemoni sains modern sekadar mengajukan argumen apologetik dan berusaha menjustifikasi berbagai temuan saintifik terkini dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang dianggap relevan. Jika muncul hasil temuan baru di bidang sains tertentu di kalangan ilmuwan Barat, biasanya kita akan sibuk mencari dalil kitab suci yang sesuai dengan temuan baru itu, lalu memaklumatkan bahwa semuanya sudah termaktub dalam Al-Qur’an. Tapi kenapa selalu Barat yang berhasil menemukan? Kenapa bukan kita? Sebagai implikasinya, diskursus keilmuan Islam kehilangan context of discovery, dan yang tersisa hanyalah context of justification.

Inilah  harga tunai yang harus dibayar oleh masyarakat Islam sejak melemahnya kesadaran untuk menggali kembali tradisi keilmuan Islam-orisinil yang telah berperan sebagai pilar utama kejayaan peradaban Islam klasik selama berabad-abad. Kenyataan ini jugalah yang menjadi penyebab kekecewaan Seyyed H Nasr (1993) bahwa hampir seluruh risalah sains Islam yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berasal dari bahasa Arab, banyak risalah dalam bahasa Persia sebagai kejayaan Islam kedua—dalam bidang sains dan bahasa—yang kemudian juga digunakan untuk menulis karya-karya Islam selanjutnya, namun wacana pemikiran semacam ini hampir tak dikenal oleh dunia modern. Akibatnya, banyak periode pertumbuhan sains Islam yang tidak dikenal.  Seyogyanya para sarjana muslimlah yang menelaah sains Islam secara keseluruhan, bukan bagian demi bagian, periode demi periode yang mempengaruhi sains Barat. Para sarjana muslim pula yang semestinya menyajikan tradisi sains Islam menurut perspektif Islam itu sendiri, bukan menurut sudut pandang saintisme, rasionalisme dan positivisme, yang telah mendominasi sains Barat sejak abad 18 di Eropa.

Selama kurang lebih tujuh ratus tahun, sejak abad Islam kedua hingga ke sembilan, peradaban Islam mungkin yang paling produktif dibandingkan peradaban manapun di wilayah sains. Dalam rentang waktu relatif panjang itu, sains Islam berada di garda depan berbagai diskursus keilmuan, mulai dari astronomi sampai kedokteran. Namun sejak abad Islam ke sembilan secara berangsur-angsur aktivitas keilmuan Islam mulai berkurang, meskipun tidak mati sama sekali. Kegiatan-kegiatan keilmuan penting masih berlangsung khususnya di bidang kedokteran dan farmakologi di wilayah timur Islam, begitu juga di kawasan Ottoman, ada interaksi dengan berbagai aspek sains Barat tertentu pada abad ke-7 dan ke-12 sebelum kedatangan penetrasi sains modern.

Di fase pertumbuhan paling mula, umat Islam tertarik mempelajari matematika, yang ditunjukkan dengan pencapaian penting dalam mengadopsi angka-angka sanskerta dan mentransformasikannya  menjadi bentuk yang dikenal sebagai angka-angka Arab di Eropa dan penggunaan sistem desimal. Angka-angka Arab secara definitif ditemukan pada Kitab al-hisab (Buku Aritmatika) karya Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi (lahir pada tahun 780 di Khawarazm, sebelah timur laut Kaspia). Matematikawan muslim ini juga meninggalkan karya bertajuk Al-Jabr wa Muqabalah, yang membawa al-Khawarizmi tidak lagi sekadar memberi kontribusi, tapi telah menciptakan sebuah bidang baru dalam matematika (yang dikembangkan dari beberapa elemen matematika Yunani, khususnya dari Diophantus). Menurut pengamatan para sejarawan, istilah Al-Jabar yang secara permanen telah menjadi bagian dari terminologi matematika modern dapat diasalkan pada judul buku itu. Nama Al-Khawarizmi telah meninggalkan jejak tak terhapus dalam khazanah sains Barat, karena sampai saat ini masih tetap dipakai dalam beberapa bahasa tertentu seperti Spanyol, sementara dalam bahasa Inggris nama tersebut diabadikan dalam bentuk angka-angka Al-goritma (Nasr :1993). Di era Revolusi Industri 4.0, istilah algoritma bahkan telah menjadi buzzword. Tanpa algoritma, sistem matematika komputasional yang menjadi basis dari ekosistem digital tak mungkin bisa menciptakan teknologi machine-learning dan artificial intelligence.

Tumbuh suburnya aktivitas keilmuan di dunia Islam bukan hanya karena stimulasi untuk mencari ilmu yang banyak ditemukan dalam Al-Qur’an, tetapi juga karena tuntutan kebutuhan-kebutuhan teknis dalam penyelenggaraan ibadah seperti penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Oleh karena itu, sejak awal kaum muslimin telah memiliki sense of science untuk mengobservasi ruang angkasa yang pada gilirannya berhasil merumuskan hukum-hukum di bidang astronomi. Pada masa pemerintahan khalifah Al-Makmun di Baghdad, dibangun sebuah observatorium, tempat para astronom menghitung keliling bumi dengan akurasi yang luar biasa. Dari sinilah kemudian sejarah mencatat sederetan nama-nama astronom muslim terkemuka seperti Al-Battani, Al-Biruni, Quthb al-Din Al-Syirazi dan Ibn Al-Syatir.

Karya-karya Al-Syirazi seperti Nihayat Al-Idrak (Batas Pemahaman) memperkenalkan  metode baru guna menghitung pergerakan planet dan sebuah model baru yang kemudian disebut Pasangan Thusi. Model ini menampilkan kerja sama dua vektor pada ujungnya masing-masing untuk menjelaskan berbagai gerakan planet, sebuah perenungan yang selangkah lebih jauh dari sistem Ptolemeus. Kritik terhadap astronomi ala Ptolemeus ini menimbulkan implikasiluas bahkan sampai ke Polandia, sehingga dalam Revolution of Orbits yang ditulis oleh Copernicus pada abad 16 (sebuah karya yang menjadi landasan astronomi heliosentris) termuat penjelasan tentang bulan yang hampir sama dengan apa yang dikemukakan oleh Ibn Al-Syatir dan kembali kepada Tazkirah (Peringatan Astronomi) karya Al-Thusi. (Nasr : 1993).

Secara periodik, rahim peradaban Islam terus melahirkan  fisikawan, ahli kimia, dokter dan berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya seperti geografi, sejarah, sosiologi. Pada abad Islam keempat, di Kairo muncul nama besar di bidang fisika, Ibnu Al-Khaytsam. Kehadiran fisikawan ini merupakan puncak pencapaian prestasi intelektual muslim di bidang tersebut. Sejarah mencatat Al-Khaytsam (dengan nama latin Al-Hazen) sebagai ilmuwan besar yang berada di antara Euclid dan Kepler dan beberapa fisikawan besar abad 17 lainnya.  Al-Hazen juga meninggalkan karya berjudul Kitab Al-manazir (Thesaurus Optical), salah satu karya terkemuka bidang optik. Di dalam buku ini, Al-Khaytsam menjelaskan tentang penerapan metode eksperimentasi untuk mempelajari fenomena  cahaya dan melakukan riset secara rinci tentang refraksi, refleksi dan berbagai cermin, termasuk cermin hiperbolik.

Selain bidang fisika sebagaimana telah diperankan Al-Khaytsam, salah satu bidang yang paling banyak menarik perhatian sejumlah ilmuwan muslim selama berabad-abad dan masih berlangsung hingga hari ini adalah kedokteran. Puncak pencapaian prestasi keilmuan dalam bidang ini seiring dengan lahirnya Firdaus Al-Hikmah (Surga Kebijaksanaan) yang ditulis oleh Ali Ibn Rabban Al-Thabari (808-855) pada abad Islam ketiga. Setelah ini, disusul oleh munculnya sederetan karya-karya ensiklopedis kedokteran, khususnya Kitab Al-Hani’ (Kitab Pengawasan Diri) karya Al-Razi (865-925). Al-Razi yang dikenal dengan nama Rhazes dalam bahasa latin adalah salah satu di antara dua atau tiga dokter muslim terbesar dan ahli klinis serta pengamat kedokteran ternama, penemu banyak penyakit baru dan diklaim sebagai orang pertama yang menemukan alkohol sebagai antiseptik medis. Seperti halnya al-Razi, Ibnu Sina dihargai karena penemuan dan diagnosis pertama untuk beberapa penyakit. Di dunia Barat, Ibnu Sina (Avicenna) dijuluki sebagai Pangeran para Dokter dan bukunya Al-Qanun fi Thibb tak diragukan lagi sebagai buku paling terkenal dalam sejarah kedokteran bersama dengan karya-karya Hippocrates dan Galen.

Nama-nama besar seperti Al-Khawarizmi, Al-Battani, Al-Biruni, Qutb Al-Din Al-Syirazi, Ibnu Syatir, Al-Razi dan Ibnu Sina hanya sebagian kecil dari sejumlah ilmuwan muslim lainnya yang telah berperan dalam tarikh peradaban Islam klasik. Pencapaian prestasi intelektual mereka telah menjadi jejak tak terhapus bagi wajah sains Islam selama ratusan tahun. Dengan suksesnya penemuan-penemuan besar di wilayah sains Islam,  wajarlah konstruksi peradaban masa itu mampu survive selama berabad-abad. Besarnya peran yang disumbangkan sains untuk menopang berdiri kokohnya kejayaan Islam era the golden age disinyalir oleh seorang profesor asal Jerman, Frans Rosenthal (1914-2003) bahwa sebuah peradaban muslim tanpa sains tidak mungkin terbayangkan oleh generasi muslim masa kini.

Yang terpetakan di atas hanya jejak dari sejumlah langkah besar yang pernah menapak di masa silam. Jejak tentulah bisa dirawat, agar tak mudah terhapus, tapi yang jauh lebih penting adalah membuat jejak baru yang kelak juga bakal dilacak oleh generasi masa datang.  Jejak-jejak yang gemilang itu seyogyanya tak sekadar membangkitkan rasa bangga, lalu membuat kita terhanyut dalam kenangan nostalgik tentang sebuah kejayaan yang pernah ada. Sudah waktunya para sarjana Islam bekerja keras guna membangkitkan kembali tradisi keilmuan Islam yang telah memancangkan suatu model pengembangan sains secara ekstensif tanpa terasing dari dunia Islam itu sendiri, dan tidak menciptakan sains yang berakibat merusak alam, tapi menciptakan harmoni  di antara alam dan manusia. Kita memang bangga telah dapat merawat jejak-jejak lama, tapi kita akan berjaya dengan membuat jejak-jejak baru…

*Damhuri Muhammad

Kolumnis

Pengajar Filsafat Universitas Darma Persada Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *