Jawed Karim, YouTube  dan Didikan Keluarga Muslim

Jawed Karim, YouTube dan Didikan Keluarga Muslim - dawuh guru

Oleh: Damhuri Muhammad

Jika ada yang bertanya tentang sosok penting di belakang layar kesuksesan YouTube, (situs berbagi video yang telah mengubah cara hidup manusia di seantero jagat), maka nama yang kerap muncul adalah Chad Hurley dan Steve Chen, dua inovator eks karyawan PayPal yang memang tak mungkin diabaikan setelah YouTube menjadi bagian tak terelakkan dalam keseharian kita. Tapi sesungguhnya “komplotan” yang nekat berhenti sebagai karyawan PayPal bergaji tinggi itu berjumlah tiga orang, dan yang jarang disebut itu adalah Jawed Karim, jebolan University of Illinois AS, si pencetus ide mula-mula dari YouTube pada tahun 2005.

Masa itu mereka merekam video di sebuah pesta, dan menyadari betapa tidak mudahnya menemukan cara berbagi dan saling bertukar video di ruang digital. Setelah situsnya rampung, Jawed pula yang tercatat sebagai orang pertama yang mengunggah video bertajuk Me at Zoo, 23 April 2005. Video berdurasi 19 detik itu  direkam oleh Yakov Lapitsky di Kebun Binatang San Diego AS, dan menampilkan Jawed Karim di depan gajah. “Sebagai video pertama yang diunggah ke YouTube, konten itu berperan besar dalam mengubah cara orang-orang mengonsumsi media dan membantu menciptakan era keemasan video 60 detik,” demikian Los Angeles Times menulis pada tahun 2000, dan hingga Oktober 2021, video itu telah ditonton oleh lebih dari 193 juta kali.

Jawed Karim yang dikenal sebagai perancang utama sistem anti-penipuan di PayPal itu lahir di Meseburg, Jerman Timur pada 1979. Ia dibesarkan dengan didikan keluarga muslim asal Bangladesh. Ayahnya, Naim Karim (blasteran Bangladesh-Amerika), peneliti 3M Company, perusahaan multinasional Amerika yang berbasis di Saint Paul, Minnesota AS dan bergerak di bidang industri, keselamatan kerja, dan consumer goods. Sementara ibunya, Christine Karim, ilmuwan asal Jerman, asisten profesor riset biokimia di University of Minnesota. Pada Februari 2005, Jawed ingin melanjutkan studi pascasarjana di Stanford University, dan membuat kesepakatan dengan Chad Hurley dan Steve Chen bahwa ia akan meninggalkan YouTube dan akan berperan sebagai konsultan saja.

“Saya berharap, kita bisa mempertahankan dia (Jawed) sebagai bagian dari perusahaan,” kata Oelof Botha, dari  Sequoia Capital, perusahaan modal ventura yang waktu itu memimpin investasi di YouTube. “Ia sangat kreatif. Kami melakukan segala yang kami bisa untuk meyakinkan dia untuk menunda,” kata Botha lagi, sebagaimana dikutip oleh Richard Koman (2006) dalam Jawed Who? Meet YouTube’s Silent Partner. Saat Miguel Helft, wartawan The New York Times berkesempatan mewawancarai Jawed di kampus Stanford University, ia sempat memperlihatkan sebuah rekaman pembicaraan dengan Hurley dan Chen tertanggal 5 April 2005. Dalam salah satu video itu, Chen mengatakan, ia “sangat tertekan” karena hanya ada 50 atau 60 video di situs yang baru saja mereka luncurkan itu.

Di masa-masa sulit ketika merintis YouTube, Hurley, Chen, dan Jawed kerap berkumpul, termasuk begadang bareng di Max’s Open Café atau di salah satu apartemen mereka, yang semuanya berlokasi di sekitar Stanford. Atas kerja keras Jawed pula, Sequoia Capital tertarik mendanai sebagian besar biaya operasional YouTube. Setelah awal yang lambat, YouTube akhirnya popular. Pecinta internet di seluruh dunia menyukai situs yang masih baru itu, dan  mereka membombardir YouTube dengan unggahan berbagai jenis video. Tiga sekawan itu sama sekali tidak kerepotan, karena YouTube punya Jawed (programmer brilian), dengan kemampuan yang melampaui rata-rata anak muda seusianya.

“Model bisnis mereka akan dibeli oleh Google,” kata Naim Karim, ayah Jawed kepada (sejawat sesama pendatang dari Bangladesh), Muhit Rahman, sebagaimana dikutip dalam The Greatest Possibilities; The Jawed Karim Story, yang tersiar di www.thedailystar.net (8/12/2006). Beberapa bulan kemudian, video YouTube diunduh lebih dari 100 juta kali setiap hari. Lalu, Google mengakuisisinya dengan bandrol  1,65 miliar dolar AS. Jawed Karim yang meninggalkan YouTube lebih awal untuk mengejar gelar master bidang ilmu komputer,  menerima 137.443 lembar saham, senilai lebih dari 64 juta dolar AS. Menurut catatan Muhit Rahman, masa itu, sebagai pemegang saham individu terbesar ketiga di YouTube, Jawed akan bergabung dalam barisan  orang-orang  kaya Amerika pada usia 27 tahun.

“Sains telah banyak membantu kita, tapi pada dasarnya, kita tidak tahu apa-apa, tentang pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup. Jawed, saya perhatikan, punya sesuatu yang tak dimiliki oleh anak-anak seusianya,” kata Naim suatu hari pada Muhit. Sahabat Naim itu pertama kali berjumpa dengan Jawed pada 1994 di St. Paul, Minnesota. Waktu itu Naim Karim baru saja dipindahkan oleh 3M Corporation dari Jerman ke kantor pusat  di St. Paul. Jawed baru berusia 15 tahun. “Ayo lihat kamarku!” kata Jawed pada Muhit. Ruangan itu tampak indah dan nyaman. Jendelanya terang, ada perabotan kayu yang tampak bersih, tempat tidur tertata rapi, meja dan lemari dengan monitor komputer  dan kotak-kotak CD yang disusun rapi di sekitarnya. “Sangat bagus!” puji Muhit sambil terus  melihat-lihat sekeliling. “Semua ini” kata Jawed, sambil menunjuk  pada kotak-kotak CD itu. “adalah program saya…” Sekali lagi Muhit memuji dengan kata “Bagus” sembari  berbalik hendak  keluar kamar Jawed.  “Tidak! Anda tidak mengerti” kata Jawed sambil menarik lengan baju Muhit. “Saya menulis semua program ini dan Anda dapat membelinya di toko!” tegas Jawed, memastikan bahwa isi dari semua CD di kamarnya itu adalah program bikinannnya sendiri.

Saat Naim dan Christine ditugaskan di Neuss, Jerman (di mana Jawed menyeselaikan sekolah menengahnya di sana), pada satu musim panas, Jawed pernah tinggal bersama kakek-neneknya di Dhakka, Bangladesh. Dan selama itu Jawed menjadi orang Bangali sejati. Ia menyukai Dhakka, dan  dalam waktu singkat, ia begitu fasih berbahasa Bangla. Lebih parah lagi, ia benar-benar lupa bahasa ibunya; Jerman. Di Neuss, Naim percaya bahwa ia sedang melakukan investasi terbaik bagi masa depan putranya. Saat berjalan-jalan  melalui pasar loak (pasar terbuka untuk pernak pernik bekas), Naim dan Jawed melihat sebuah komputer tua jenis  Commodore C-64. Naim membelinya, dan membawanya pulang. Ayah-anak itu bermain-main dengan komputer dan Jawed belajar bagaimana membuat program dengan software  BASIC. Sejak itulah Jawed  terpikat, dan tidak ada jalan lagi untuk kembali! Commodore tua adalah yang pertama dari banyak komputer dalam kehidupan Jawed Karim.

Awal 1990-an, Jawed menghabiskan satu tahun di Capital Hill Magnet School sebelum pindah ke St. Paul Central High, sekolah umum besar di St. Paul. Kepada Muhit, Naim pernah memberi tahu bahwa  ia bertemu dengan Ken Hanson, salah satu guru lama Jawed yang waktu itu telah menjadi Kepala Sekolah. Hanson meraih lengan Naim dan menyeret ia ke kantornya. Di sana, di dinding ruangan Kepala Sekolah itu, terpajang foto  Jawed. Bisa dibilang Jawed telah meninggalkan jejaknya di situ. Di sekolah menengah, Jawed seperti anak laki-laki lainnya. Ia tidak terlalu menyukai olahraga, dan lebih memilih tim akademik, khususnya bidang matematika. Hubungan Jawed dengan komputer berlanjut. Revolusi internet baru saja terjadi dan Jawed telah mengatasinya. Ia terus bergelut dengan  internet, mencari teman, membuat program yang ia pajang di papan buletin dan ruang obrolan, gratis untuk siapa saja. Jawed melakukan banyak pekerjaan perintis dengan permainan komputer, khususnya permainan yang sangat popular sekitar 10 tahun lalu; Doom.

Saat masih berstatus mahasiswa di University of Illinois, sebuah perusahaan internet  bernama X.com memberikan sebuah peluang pada Jawed. Ia akan dibayar dengan gaji tinggi dan memiliki kesempatan untuk bergabung dengan sekelompok anak-anak muda brilian. Jawed kemudian pindah ke Silicon Valley. “Ini kesempatan seumur hidup dan ia harus mengambilnya,” kata Naim pada Muhit untuk mendapatkan dukungan dari sahabatnya itu. Dan begitulah, beberapa bulan kemudian, Jawed menemukan dirinya dikelilingi oleh sekelompok anak muda yang sedang mengejar mimpi-mimpi besar mereka  di Silicon Valley. Jawed  menjadi salah satu karyawan paling awal di PayPal. Jam kerjanya panjang, tantangannya besar dan ketika gelembung internet pecah di AS, Jawed juga ikut  merasakan kesulitan. Tapi PayPal dapat bertahan berkat kepiawaian anak-anak muda seperti Jawed, dan pada tahun 2002 PayPal dibeli seharga  1,5 miliar dolar AS oleh eBay.

Sebagai karyawan awal, Jawed telah menghasilkan cukup uang, tapi ia merasa baru saja mulai. Beberapa tahun berikutnya, Jawed dan teman-teman sesama karyawan  bertahan  di PayPal, sebelum kemudian berhenti.  Jawed dapat menyelesaikan gelar sarjananya dan tertarik pada banyak konsep baru dan yang sedang berkembang waktu itu. Bersama Chad Hurley dan Steve Chen, anak-anak muda yang telah memiliki kemandirian finansial, telah mempelajari keterampilan dasar kewirausahaan dan memiliki cadangan energi dan ide yang tak ada habisnya, Jawed ingin mencoba tantangan baru, hingga lahirlah YouTube. Setelah itu Jawed melanjutkan studi pascasarjana di bidang Ilmu Komputer dan ia mendaftar di Universitas Stanford.”Saya tidak akan khawatir dengan Jawed. Ia akan melakukan sesuatu yang besar. Sesuatu yang sangat besar!” begitu kata Christine saat makan malam bersama Muhit sahabat suaminya itu. Muhit bertanya, apa yang dimaksud “sesuatu yang besar” itu, ringkas saja Christine menjawab; “Mengembangkan hal-hal baru adalah hidup kita. Jawed telah belajar sejak dini, bagaimana mengembangkan hal-hal baru itu.” Demikianlah Christine dan Naim, sepasang ilmuwan muslim itu, mendidik Jawed Karim.

Dalam bahasa Persia, “Jawed” berarti “abadi,” dan YouTube  telah membuat nama itu kekal hingga kini. Saat Muhit bertanya pada Jawed tentang apa yang ingin ia katakan pada anak-anak muda Bangladesh yang sedang berjuang menggapai mimpi-mimpi besar mereka, Jawed berpikir sejenak, lalu ia mengutip ungkapan Larry Ellison (miliarder pendiri Oracle Corp); “Saya tidak tahu tempat atau waktu mana pun yang tak menyediakan peluang-peluang besar.” I don’t know of any place or any time where there aren’t great possibilities…

 

Damhuri Muhammad

Kolumnis

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *