Demi menarik perhatian orang-orang yang melintas dari arah kanan kiosnya juga para pelanggan kios di seberang jalan itu, ia memasang sebuah papan bertuliskan “Jangan Tengok Kiri!”. Karena kebanyakan orang, menurutnya, suka melakukan hal yang dilarang; siapa pun yang membacanya pasti bakal menengok ke kiri, ke arah kiosnya. Namun rupanya kelakuan orang-orang jaman kini sukar diprediksi. Bukannya menengok ke kiri, kebanyakan mereka malah menengok ke kanan. Ini berarti apabila ia tak segera menghapus atau mengganti tulisan itu, bukan kiosnya namun kios pesaingnya itu yang ia promosikan.

Beberapa hari kemudian, ia menggantinya dengan tulisan “Boleh Tengok Kiri”. Akan tetapi, entah mengapa, kebanyakan mereka tetap menengok ke kanan. Sementara kios di seberang jalan tampak kian ramai pembeli, kiosnya tetap sepi.

Didasari dugaan mereka tak patuh pada tulisan tersebut—karena sebelumnya dilarang lalu dibolehkan—, beberapa hari kemudian, agar terkesan seimbang, ia mengganti dengan tulisan “Tengok Kanan Kiri!”. Paling tidak, demikian benaknya, setelah menengok ke kanan, mereka bakal menengok ke kiri—ke arah kiosnya.

Membaca papan itu, seekor kadal yang sedang berjemur di pojok halaman kios itu sekonyong-konyong terbengong-bengong kemudian sekonyong-konyong nelangsa—terkenang ibunya yang telah tiada. Selain amat menyayanginya, ibunya sepertinya tidak pernah bosan menasehatinya untuk selalu berbuat baik—terutama pada sesama kadal. Bahkan jikapun mereka berbuat tidak baik padanya, ia harus tetap berbuat baik pada mereka. Pernah semasa kecil saat ia dan teman-temannya bermain petak umpet—pas gilirannya kebagian mencari sementara mereka sembunyi—, secara kompak mereka mengerjainya. Mereka tidak sembunyi di sekitar pekarangan tempat mereka bermain, melainkan pulang ke sarang masing-masing. Walhasil nyaris seharian ia pontang-panting mencari tanpa menemukan mereka. Sebagai seekor kadal—terlebih seekor kadal kecil—, lumrah apabila ia jengkel atas kelakuan mereka. Dan ia berniat sewaktu-waktu membalas perbuatan mereka. Namun, saat ia menceritakan kelakuan mereka untuk kemudian menyatakan niatnya tersebut pada ibunya, ibunya melarangnya, dan sebaliknya ibunya malah menasehatinya untuk tetap berbuat baik pada mereka. Lalu saat ia bertanya kenapa ia harus seperti itu, ibunya menjawab dengan menyatakan bahwa kelak apabila beberapa dari mereka menjadi kadal nakal dan terbersit untuk menjadi kadal yang baik, mereka bisa jadi bakal teringat kebaikannya untuk kemudian meneladaninya. Selain nasehat tersebut, apabila ia akan menyeberang jalan untuk dolan ke sarang temannya, ibunya selalu mewanti-wanti dengan kata-kata seperti terbaca di papan itu sembari tak lupa menambahkan: hati-hati…

Di luar perkiraannya, kebanyakan mereka tetap suka menengok ke kanan. Ini lama-lama membuatnya kesal. Beberapa hari kemudian ia menggantinya dengan tulisan “Jangan Tengok Kanan!”. Kendatipun demikian, kebanyakan mereka tetap menengok ke kanan. Kemudian karena, menurutnya, kini telah terbukti kebanyakan orang suka melakukan hal yang dilarang, ia berniat mengganti dengan tulisan pertama lagi: “Jangan Tengok Kiri!”.

Akan tetapi, entah mengapa, ia urungkan.

Setelah berpikir cukup lama dan dirasa semua ini hanya menghabiskan energi juga waktunya—sementara dagangan dan tempatnya jualan jadi kurang terurus—, akhirnya ia memutuskan mencabut plang itu.

Ia mulai merenungkan kenapa kiosnya sepi, sementara kios yang sama-sama jualan buah di seberang jalan itu ramai pembeli. Soal tempat jualan, pikirnya, jelas sama-sama strategis. Sama-sama di pinggir jalan. Soal harga jualan, ia kira, mereka juga sama. Apabila selisih, paling tidak seberapa. Soal kualitas buah, pun tak ada beda, karena mereka kulak pada juragan buah yang sama.

Jika demikian, lantas bagaimana cara ia melayani pembeli?

Barang kali hal ini yang perlu ia perbaiki.

Karena jarang menyediakan uang pecahan kecil, demikian kenangnya, adakalanya ia merasa keberatan saat melayani pembeli yang menyodorkan uang pecahan besar. Walhasil, saat hendak menerima uang tersebut, hampir selalu ia menanyakan: ada uang yang lebih kecil? Apabila tidak ada dan ia tidak punya uang untuk kembalian, ia pun menukarnya pada sesama penjual di sekitar situ—membuat si pembeli menunggu untuk beberapa waktu.

Kendati hal ini tampak sepele, mungkin memberi kesan kurang baik bagi pembeli. Karena pembeli tahunya membeli; berapa besar uang yang diberikan, bukan urusan pembeli.

Beberapa hari kemudian, apabila mendapati buah-buah tampak kusam terselimuti debu, ia segera mengelapnya sembari menunggu pembeli datang. Uang untuk kembalian pun telah ia siapkan. Dan, karena ia telah berusaha semampunya lewat kios itu, kini ia lebih menekankan sikap berserah diri pada Gusti Allah Ta’ala yang mencipta dan mengatur rezeki semua makhluk ciptaan-Nya. Di titik ini ia merasa lebih tenang, tidak lagi resah memikirkan sesama pedagang buah di seberang jalan depan kiosnya itu.

 

 

Kesugihan, 29/7/2020 – 26/12/2020

No more articles