Jangan Tabarruj ya Mbak, Glow Up Bukan Hanya Tentang Cantik Secara Fisik

Oleh : Iin Karima

Berdandan, berhias, bersolek dan semacamnya merupakan hal yang sudah tidak asing bagi wanita. Bagaimana tidak, wanita identik dengan cantik. Dan untuk meraih predikat cantik itulah, maka seorang wanita berdandan. Hal ini bahkan sudah merambah ke dunia pesantren. Banyak mbak mbak pondok yang kian hari berlomba – lomba mempercantik diri dengan mengoleksi berbagai paket skincare dari jenis yang beragam.

Tahukah engkau wahai saudariku, bahwa Islam telah mengajarkan pada kita bagaimana cara berhias secara syar’i bagi seorang wanita? Islam adalah agama yang sempurna. Islam tidak sepenuhnya melarang seorang wanita tuk berhias, justru Islam mengajarkan cara berhias yang baik tanpa harus merugikan, apalagi merendahkan martabat wanita itu sendiri.

Larangan Tabarruj

Kaidah pertama yang harus diperhatikan bagi wanita yang hendak berhias adalah hendaknya ia menghindari perbuatan tabarruj. Tabarruj diambil dari kata al-burj (bintang, sesuatu yang terang, dan tampak). Dengan kata lain, tabarruj adalah berlebihan dalam menampakkan perhiasan dan kecantikan. Imam asy-Syaukani berkata, “At-Tabarruj adalah dengan seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang mana dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki” (Fathul Qadiir karya asy- Syaukani).

Memperhatikan Masalah Aurat

Kaidah kedua yang hendaknya diperhatikan teman – teman, seorang wanita yang berhias hendaknya ia paham mana anggota tubuhnya yang termasuk aurat dan mana yang bukan. Aurat sendiri adalah celah dan cela pada sesuatu, atau setiap hal yang butuh ditutup, atau setiap apa yang dirasa memalukan apabila nampak, atau apa yang ditutupi oleh manusia karena malu. Adapun aurat wanita di hadapan laki-laki yang bukan mahram adalah seluruh tubuhnya. Hal ini sudah merupakan ijma‘ (kesepakatan) para ulama. Hanya saja terdapat perbedaan pendapat diantara ulama terkait apakah wajah dan kedua telapak tangan termasuk aurat jika di hadapan laki-laki non mahram. Sedangkan aurat wanita di hadapan wanita lain adalah anggota-anggota tubuh yang biasa diberi perhiasan.

Memperhatikan Cara Berhias yang Dilarang

Perlu diperhatikan bagi wanita hendaknya ia berhias dengan sesuatu yang hukumnya mubah (bukan dari bahan yang haram komposisinya) dan tidak memudharatkan. Tidak diperbolehkan pula untuk berhias dengan cara yang dilarang oleh Islam, yaitu:

  • Menyambung rambut (al-washl)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat penyambung rambut dan orang yang minta disambung rambutnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

  • Menato tubuh (al-wasim), mencukur alis (an-namsh), dan mengikir gigi (at-taflij)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang yang menato dan wanita yang minta ditato, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis dan yang minta dicukur, serta wanita yang meregangkan (mengikir) giginya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

  • Mengenakan wewangian bukan untuk suaminya (ketika keluar rumah)

Baginda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap wanita yang menggunakan wewangian, kemudian ia keluar dan melewati sekelompok manusia agar mereka dapat mencium bau harumnya, maka ia adalah seorang pezina, dan setiap mata itu adalah pezina.” (Riwayat Ahmad, an-Nasa’i, dan al-Hakim dari jalan Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu).

  • Memanjangkan kuku

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang termasuk fitrah manusia itu ada lima (yaitu): khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

  •  Berhias menyerupai kaum lelaki

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupakan diri seperti wanita dan melaknat wanita yang menyerupakan diri seperti laki-laki.” (Riwayat Bukhari). Hadits ini dinilai shahih oleh at-Tirmidzi.

Glow Up(?)

Munculnya trend Glow-Up yang sedang marak saat ini memang cukup menciptakan insecurity terhadap diri sendiri, khususnya bagi wanita. Pasalnya dalam trend yang menunjukkan perubahan signifikan terhadap fisik seseorang itu, secara langsung memperlihatkan bahwa jika bertubuh gendut dan berkulit gelap itu berarti tidak menarik. Hal ini menimbulkan tuntutan terhadap diri sendiri, untuk memenuhi kriteria cantik sesuai dengan standar kecantikan yang berlaku di tengah masyarakat hari ini.

Trend yang banyak sekali diikuti dari anak-anak, hingga dewasa tersebut seperti memiliki dua belah mata pisau. Di satu sisi, jika difungsikan sebagai body positivity, trend ini mampu mengedukasi penikmatnya, bahwa menjadi berbeda itu tak masalah. Disisi yang lain, trend ini bisa jadi alat doktrin yang bisa diturunkan dari generasi ke generasi, bahwa cantik adalah yang harus memenuhi kriteria tertentu.

Meski banyak narasi soal kecantikan telah diubah seiring berkembangnya zaman, akan tetapi, hal ini juga membawa dilematika yang serupa. Pada industri kecantikan misalnya, dalam beberapa semangat perubahan soal standar kecantikan, pelaku industri justru memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan omset.

Perempuan yang sering dipandang sebagai objek, banyak dikenal dalam bentuk penampilan saja. Framing media massa yang turut membentuk perempuan yang hanya ditonjolkan dari sisi fisik saja, kerap membebankan perempuan dan menciptakan perlombaan antar perempuan itu sendiri.

Sayangnya narasi demikian dengan perlahan kemudian menciptakan ketergantungan, agar bisa mencintai diri sendiri seseorang harus mengkonsumsi produk tertentu, agar sesuai ia bisa mendapatkan versi terbaik dari dirinya. Standardisasi yang dibuat berdasarkan kacamata laki-laki, jelas disebarluaskan untuk kepentingan laki-laki, memuaskan hasrat seksual mereka, menjadikan perempuan sebagai objek seksualitas, dan eksploitasi untuk diambil keuntungan.

Tak heran jika banyak diantara perempuan-perempuan yang rela melakukan apapun demi diakui kehadirannya. Karena masyarakat kita hari ini masih menganggap keberadaan perempuan hanya dari seberapa banyak ia memenuhi kriteria cantik yang berlaku. Jadi, mulai sekarang say no to glow up challenge, karena dengan perempuan mengikuti trend seperti ini artinya perempuan turut melanggengkan stereotype gender tentang kecantikan perempuan yang malah akan merugikan perempuan.

Perempuan yang tidak sesuai dengan standar kecantikan akan tidak percaya diri, padahal standar kecantikan harusnya ditentukan oleh perempuan sendiri karena tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Bahkan menurut beberapa orang, glow up yang sebenarnya adalah ketika seorang perempuan mampu mandiri, berdiri diatas kakinya sendiri, berwawasan luas, namun tetap santun dan berwibawa

Wahai saudariku, sungguh Allah SWT yang mensyari’atkan hukum-hukum dalam Islam lebih mengetahui segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi para hamba-Nya dan Dia-lah yang mensyari‘atkan bagi mereka hukum-hukum agama yang sangat sesuai dengan kondisi mereka di setiap zaman dan tempat. Maka, sudah sepantasnya bagi kita wanita muslimah untuk taat lagi tunduk kepada syari’at Allah, termasuk di dalamnya aturan untuk berhias. Lifestyle wanita muslimah itu seharusnya diatur oleh agamanya, bukan oleh zamannya.

Wallahu a’lam.

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.