Oleh: Rozaq Muhammad

(Mahasiswa Magister Ilmu Sejarah UGM)

Wujudiyah adalah faham yang meyakini konsep kesatuan antara Tuhan dan Makhluk. Faham ini mendapat pengaruh dari ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi yang berpaham panteisme. Secara umum, konsep makrifat meleburkan diri dengan Tuhan adalah hal yang lumrah di semua aliran tasawuf. Hanya saja, konsep Wujudiyah yang sering ditentang sejak zaman dulu adalah yang terbatas pada pengertian tauhid.

Dibungkus dengan kalimat-kalimat yang ambigu, sehingga memunculkan kesalahpahaman fatal di masyarakat. Konsep bahwa yang Ada hanyalah Allah dan yang lain tidak ada, adalah hal yang wajar diajarkan di tasawuf untuk menggambarkan sifat Wujud-Nya Allah. Akan tetapi konsep itu tidak boleh berhenti pada pemahaman tauhid bahwa, “wujud kita adalah wujud Allah”.

Sepanjang abad ke-15 sampai 18 di nusantara khususnya di Sumatera  dan Jawa, isu Wujudiyah ini menjadi barang seksi. Perkembangan keilmuan dan ideologi Islam sedang mencapai masa kejayaannya. Tak jarang ideologi tasawuf falsafi berbenturan dengan hukum kerajaan yang sedang berlaku sehingga sejarah aliran-aliran falsafi seperti ini lebih terasa unsur politisnya dibanding unsur keagamaannya. Isu Wujudiyah digunakan untuk menjatuhkan lawan politik.

Dapat dibayangkan situasi saat itu hampir mirip seperti era modern yang mana untuk menjatuhkan lawan politik sering digunakan isu-isu yang sedang seksi seperti PKI, Wahabi, Cebong, Kampret, dan lain-lain. Pada era tersebut beberapa tokoh yang dianggap “membahayakan” kekuasaan akan divonis dengan isu penganut faham Wujudiyah atau Wahdatul Wujud yang tidak mementingkan amalan syariat lagi. Isu ini terbukti efektif untuk mendapat dukungan masyarakat karena faham Wujudiyah sendiri sudah ramai digugat sesat oleh para ulama tasawuf.

Beberapa tokoh yang dianggap berpaham Wujudiyah di antaranya adalah: Siti Jenar dan Syeh Mutamakkin Pati. Keduanya kalah dalam arena politik melawan pemimpin yang sedang berkuasa.

Dalam Babad Tanah Jawa diceritakan bahwa faham Wujudiyah  Siti Jenar ditentang habis oleh para wali. Diceritakan bahwa Siti Jenar kemudian dibunuh oleh para wali dan mayatnya berubah menjadi anjing. Hal itu membuktikan bahwa benarlah bahwa Siti Jenar telah sesat.

Secara logika, kejadian seperti itu tidaklah rasional. Bahkan jika dipikir secara keimanan pun hal tersebut tidak masuk akal. Sesesat apa Siti Jenar yang ketika mati mayatnya berubah menjadi anjing, sementara Fir’aun the Legend of kafir tetap utuh menjadi manusia ketika ditemukan mumi mayatnya.

Ada sebuah naskah kuno yang menyebut bahwa Siti Jenar termasuk pengamal ajaran tasawuf Malamatiyyah. Ajaran ini memiliki kebiasaan untuk menyembunyikan amal baiknya dan menunjukkan keburukannya, agar tidak dipandang baik oleh orang lain. Amalan seperti ini digunakan untuk melatih hati agar selalu merasa buruk dan penuh dosa.

Menurut beberapa versi bahkan, ketika matipun pengamal ajaran ini tidak mau dipandang baik. Kebanyakan pengamal ajaran ini akan berpesan kepada ahli waris agar menaruh bangkai anjing atau celeng di atas mayitnya ketika dirinya meninggal. Maka tidak mengherankan apabila ada makam yang ditemukan kerangka anjing atau celeng ketika digali. Dapat dipastikan itu adalah makam penganut ajaran Malamatiyyah. Apabila dari kerangka anjing itu digali lebih dalam lagi maka akan ditemukan kerangka manusia.

Dihubungkan dengan teori ini terasa lebih masuk akal bagaimana “proses” jenazah Siti Jenar berubah menjadi anjing. Siti Jenar tidak mau dipandang protagonis oleh masyarakat. Cukuplah dia kalah dalam perpolitikan mempertahankan ideologinya. “Jika harus dihukum mati, saya mohon “ubahlah” jenazahku menjadi anjing.”

Para wali dipilih menjadi eksekutornya untuk memunculkan kesan bahwa ideologi “sesat” yang dibawa Siti Jenar adalah ideologi agama, bukan ideologi bernegara. Agus Sunyoto berpendapat bahwa sebenarnya Siti Jenar tidak bersalah secara agama. Ideologi yang dibawa Siti Jenar adalah ideologi bernegara.

Bahwa rakyat (Kawula) dan raja (gusti) harus bersatu (manunggal). Tidak ada batas antara rakyat dan penguasa dalam urusan bernegara. Semua menempati posisi yang setara (egalite). Akan tetapi menurut Trenggono (Sultan Demak pada saat itu) konsep tersebut mencederai konsep “adhiluhung” yang sudah berlaku di kerajaan. Rakyat harus tunduk dan laku dodok ketika menghadap raja, dan Trah ningrat menempati posisi lebih tinggi dibanding trah jelata dalam struktur sosial.

Ketika ideologi Siti Jenar menyebar dengan pesat pada masyarakat-masyarakat yang diberi nama “Lemahabang”, Trenggono selaku raja merasa harus mengambil langkah cepat. Siti Jenar harus diadili dan yang mengadili harus seorang yang menjadi simbol agama, agar tercipta kesan bahwa Siti Jenar telah menodai agama. Kebetulan memang Siti Jenar menguasai ilmu makrifat tingkat tinggi dengan konsep meleburkan diri kepada Tuhan, sehingga isu Wujudiyah atau Wahdatul Wujud tepat digunakan untuk menghukum Siti Jenar.

Karena ajaran Siti Jenar itu, pembangkangan terhadap para utusan raja terjadi di mana-mana. Trenggono merasa konsep adhiluhung Jawa tidak boleh dihilangkan dengan ideologi import dari bangsa lain. Memang sebelum mengemukakan konsep Manunggaling Kawula Gusti, Siti Jenar pernah belajar ke Mesir. Di sinilah ia menemukan konsep kesetaraan antara pemimpin dan rakyat. Ia ingin konsep ini diterapkan pada masyarakat Jawa.

Sementara itu, Kiai Mutamakkin Pati diceritakan dalam Serat Cebolek. Kiai Mutamakkin divonis kasus penistaan agama karena telah menyebarkan ajaran sesat wahdatul wujud yang tidak mementingkan hukum syariat dengan memelihara anjing. Bagaimana bisa, seorang tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat malah memelihara binatang najis. Disebutkan, Kiai Mutamakkin memelihara 12 anjing besar dan 4 anjing kecil. Lebih-lebih kesemua anjing tersebut diberi nama. Pemimpin dari anjing besar bernama Abdul Kahar, sedangkan pemimpin anjing kecil bernama Komaruddin.

Nanging sira Kaji Mutamakim
datan keguh abakuh agagah
tan sumringah pakewuhe
wani ngurebi kukum
akeh ngukih pengkuh tan kokih
akeh ngulama prapta
ingkang apitutur
malah angingu srenggala
asu kudus rolas geng ageng kang siji
ingaran Ngabdulkahar

Papat asu kikir alit-alit
pangarepe su kikik satunggal
pun Komarudin wastane
kalangkung kumalungkung
ya Kaji Amad Mutamakim
wus rempeg pra ngulama
pantes katuripun
ing Kanjeng Sri Naranata
ing katoge tan kena denpituturi
mejanani negara

(Pupuh IV. Dhandanggula bait 9 dan 10 Serat Cebolek)

Terlihat sedikit politis memang. Apalagi jika melihat fakta bahwa Ngabdulkahar atau Abdul Qohar merupakan nama dari saudara kandung Kiai Mutamakkin. Dalam beberapa folklore setempat ada yang meyakini bahwa nama pemimpin anjing yang besar adalah Samsudin, sedangkan Syamsuddin sendiri adalah nama dari guru Kiai Mutamakkin.

Bisa jadi penyebutan anjing itu adalah upaya penulis serat untuk menjatuhkan nama Kiai Mutamakkin. “Anjing besar” merujuk kepada kerabat dan orang-orang terdekat kiai Mutamakkin, sedangkan “anjing kecil” merujuk kepada murid-murid Kiai Mutamakkin yang membela kehormatannya. Dan Komarudin adalah nama dari salah satu murid tersebut.

Ricklef mencatat ada ketegangan di masa pemerintahan Amangkurat IV yang terkenal dengan “Perang Suksesi Jawa II” Antara Amangkurat IV melawan pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya yang menggugat kekuasaannya. Amamgkurat IV meminta bantuan VOC untuk menumpas pemberontakan tersebut. Sementara itu paman Pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya, Arya Mataram dari Pati ikut memihak Pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya. Kiai Mutamakkin terindikasi berdiri di pihak Arya Mataram, dengan melakukan perlawanan secara kultural karena tidak suka dengan intervensi Belanda di keraton Mataram, sehingga menjadi salah satu target yang harus dibersihkan oleh pihak Amangkurat IV dan Belanda.

Serat Cebolek mengisahkan Ketib Anom Kudus yang menggugat Kiai Mutamakkin. Ketib Anom Kudus adalah seorang tokoh agama (khatib) yang berdiri di pihak Amangkurat IV. Sehingga masuk akal apabila penokohan kiai Mutamakkin menjadi antagonis dalam naskah tersebut. Bagaimanapun, namanya harus dihancurkan. Lagi-lagi cara paling efektif untuk menjatuhkan nama seorang tokoh adalah dengan menyematkan status pengamal ajaran sesat Wujudiyah dan kasus penodaan agama lainnya.

Kita semua sepakat bahwa Serat Cebolek adalah naskah yang tujuan penulisannya untuk pembunuhan karakter Kiai Mutamakkin dan Kiai Rifa’i Batang. Kiai Mutamakkin kalah dalam panggung politik melawan kekuasaan. Begitu pula Kiai Rifa’i dan Siti Jenar. Penguasa memiliki kekuasaan mutlak untuk memvonis siapa pahlawan dan siapa pecundang dalam lembaran sejarah, sampai hari ini. Namun masyarakat punya nalar kritis. Wallahu a’lam.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *