Islam Masa Kini : Surplus Dai Defisit Musanif

Shubuh, bagi saya adalah dunia tersendiri. Memiliki spektrum yang luas, dan berbeda. Shubuh merupakan harta yang mewah, sebuah kemewahan yang bisa bermakna ganda; dunia maupun akhirat. Semacam tujuan penting yang tak banyak orang bisa memperoleh dengan cuma-cuma.

Shubuh, bisa menjadi ladang akhirat dengan shalat. Menjadi kebun dunia dengan bekerja; banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan saat shubuh. Saat otak sangat segar dan tubuh begitu bugar.

Dan pagi tadi shubuh saya tak begitu mewah. Karena dibersamai selimut.

MZ Memang Zainuddin

Adalah Zainuddin MZ, sosok dai sejuta umat. Gelar yang sampai sekarang belum ada yang menggantikan. Ingat shubuh ingat Zainuddin MZ. Begitu menancap sekali namanya di kepala saya. Boleh jadi banyak orang juga yang seperti saya. Pertama kali sekali Zainuddin MZ diperkenalkan kepada saya melalui ibu saya. Ibu setiap pagi selepas shalat shubuh selalu menghidupkan radio dan mendengarkan pengajian Pak MZ. Sembari memasak dan mengerjakan hal-hal lain, ibu senantiasa menjadi pendengar setia.

Bagi saya MZ memang dai yang luar biasa. Karena ia bisa menjumpai seluruh pendengarnya dengan gaya yang mudah ditangkap. Dan memiliki standard komunikasi bahasa Indonesia yang baik, namun memahamkan. Bisa dibayangkan, ibu saya yang bahasa Indonesianya tak begitu cakap bisa dengan penuh hikmat menyimak ceramah-ceramah Pak MZ. Menurut saya ini adalah capaian penting. Karena bahasa Indonesia masih sangat muda. Apalagi ini hanya lewat suara, tanpa tatapan muka.

Beda dengan dai-dai yang tak sanggup mengolah bahasa, alias hanya maksimal dengan ungkapan kedaerahan. Ini bagi saya kurang baik, karena dai-dai tersebut tak cukup mampu mendatangkan “daya bahasa” sebagai titik pembuka perjumpaan makna. Jika memakai bahasa daerah, makna sudah terlanjur meluncur di awal. Namun jika memakai bahasa Indonesia, ia harus memilih tikungan mana tempat berbelok, dan kelokan mana ia harus menghindari. Dan Zainuddin MZ punya itu. Berceramah dengan bahasa Indonesia. Dengan penuh sihir bahasa. Menerangkan kisah Khadijah istri Nabi sampai tentang Indonesia yang jago korupsi.

Rasa-rasanya, setelah Zainuddin MZ tak ada lagi.

Cakap Pidato, Cakap Menulis

Di Indonesia, hemat saya setidaknya hanya ada sedikit saja muslim berpengaruh yang cakap pidato dan cakap menulis. Saya sebutkan salah duanya saja. Masih ada salah-salah yang lain, meskipun tak banyak. Sebut saja Soekarno, dan Gusdur. Soekarno adalah orator ulung, pandai pidato dan jago menulis. Jika kita membaca bukunya BK (Bung Karno) kita seperti sedang melihat dan mendengarnya orasi. Saya rasa BK belajar pidato pertama mula dari gurunya langsung, HOS Tjokro Aminoto. Selain itu BK mempertebal kemampuannya di podium-podium di depan massa. BK memang fokus pada politik dan negara, sedikit sekali BK membabar Islam. Jika BK membabar Islam, bau-baunya biasanya “islam yang panas”. Sebuah nada kritik yang penuh aroma penolakan. Tentu bukan secara keseluruhan. Sebut saja tulisan beliau “Islam Sontoloyo”. Dari judulnya saja orang akan mengerek imajinasi dengan bumbu benci.

Abdurrahman Wahid alias Gusdur, memiliki gaya khas saat berpidato. Yaitu humor. Humor ini asli khazanah lokal pesantren. Gusdur dengan penuh sadar memakai trem komunikasi melalui jalur guyonan dan mistik keseharian. Inilah Gusdur, bisa menertawakan apa dan siapa saja. Jika kita membaca tulisan Gusdur, jauh berbeda dengan guyonan di podium. Sepertinya Gusdur sadar audien, sehingga jelma suara yang akan ditampakkan harus berbeda. Dalam tulisan-tulisan Gusdur, nampak sekali bahwa ia adalah seorang cendekiawan pilih tanding, budayawan yang membumi, dan santri par excellence. Keinginan besar Gusdur adalah Pribumisasi Islam dengan menjinakkan.

Soekarno dan Gusdur, dua mata kaca Indonesia. Yang mewakili dua gelombang penyokong besar negara; nasionalisme dan agama. Di tahun 2019 Cak Imin lewat partainya PKB, membuat semacam gerakan pemikiran “Soedurisme”, menurutnya adalah akronim dari “Sokarno dan Gusdur-isme”. Yang bagi saya ini semacam melupakan hasrat berkehendak Gusdur sendiri dalam berpolitik, cara Gudur berpolitik tak seperti itu. Menurut saya Cak Imin sedang “test of water” mencoba membuat koalisi setengah hati. Koalisi semangka, hijau dan merah disatukan. Meskipun pada akhirnya tak laku, atau tak diteruskan. Ya gak papa, namanya juga politik. Main-main saja. Saya kira cukup, ghibah politiknya. Ini tadi paragraf ngelantur.

Kembali ke masalah dai. Kadang saya berpikir apakah kita hari ini sedang menjadi muslim yang sakit? Sedang tidak ada angin tidak ada hujan, jamaah di berbagai kota sering mengundang ceramah seorang yang di panggung hanya “misuh-misuh”, berkata yang tak bergizi sama sekali. Sebut saja Sugi Nur Raharja, atau di awal meniti karir sebagai “pendakwah” menggunakan nama Gus Nur.

Saya kira aneh memang jika bidang ini (dai-dakwah) dipercayakan kepada yang bukan ahlinya. Hari ini terus bergulir upaya-upaya menjadi dai. Lewat berbagai macam cara dan program pembibitan. Juga lewat aplikasi, “aplikasi dai”. Hari ini kita kebanjiran dai!

Alih-alih untuk melakukan perlawanan positif terhadap konten negatif dengan mencoba membibit ulang para dai, membuat semacam perekaman video ceramah untuk mencoba vis a vis. Nahasnya, ceramahnya jatuh pada hiburan. Tak ada kebaruan dan upaya membuka wawasan.

Begitulah, menurut saya ada yang lebih penting dari berbicara, yaitu menulis. Dan sepertinya kita masih terus bangga, bahwa berbicara adalah segala-galanya.

 

10 Ramadhan 1441 Hijriah

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *