Interaksi Wanita Haid Dengan Al-Qur’an Menurut Ulama 4 Madzab

Oleh: Hanna Nur Khasanah

Al-Qur’an adalah firman Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malaikat Jibril. Al-quran merupakan mukjizat yang diberikan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw. Dan merupakan satu-satunya mukjizat terbesar atau yang paing baik diantara mukjizat-mukjizat lainnya.

Membaca Al-quran adalah salah satu kesunnahan yang snagat dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw kepada umatnya. Leh karena itu barang siapa yang membaca al-qur’an akan mendapat pahala sesuai dengan porsi yang dibacanya. Maksud membaca disini melafdzkan sesuatu yang berasal dari al-qur’an.

Dalam praktiknya terdapat halangan bagi wanita dalam upaya membaca Al-Qur’an. Hal tersebut terjadi ketika wanita sedang mengalami haid. Haid secara bahasa berarti mengalir , sedangkan secara terminology atau istilah yakni artinya dara yang bisa keluar pada diri seorang wanita pada hari-hari tertentu.

Madzab hanafi mengatakan haid juga dapat dijelaskan seperti hadas yang lainnya, seperti kentut, dan dapat pula dijelaskan seperti benda yang najis seperti urine. Penselasan tersebut dapat disebut sebgaai sifat syar’iyyah yang melekat pada kaum perempuan yang disebabkan keluarnya darah. Perempuan yang sedang mengalami haid dilarang melakukan puasa, shalat, dan beberapa ibada lainya. Ia juga haram untuk disetubuhi.

Madzab maliki berpendapat bahwa haid adalah darah yang keluar secara alami dalam batas usia tertentu. Darah itu keruh, berwarna merah kehitam-hitaman kekuning-kuningan dan keluar secara alami tanpa ada sebab lain. Jika darah itu keluar saat melahirkan itu bukan merupakan darah haid melainkan darah nifas.

Haid sendiri memiliki dampak yang membolehkan meninggalkan ibadah dan menjadi patokan selesainya iddah bagi wanita yang dicerai. Darah haid umumnya keluar minimal wanita berumur  tahun. Jika darah tersebut keluar sebelum umur  9 maka darah tersebut disebut darah istihadah atau darah penyakit.

Hukum menyentuh Al-Qur’an bagi wanita haid yakni tidak diperbolehkan apalagi mebawanya. Berbeda halnya dengan hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita haid. Terdapat banyak perbedaan pendapat tentang hukum wanita yang sedang haid untuk membaca Al-Qur’an. Terdapat pendapat yang memperbolehkan dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan, namun ada juga yang melarangnya.

Terdapat madzab yang memperbolehkan wanita sedang haid membaca al-qur’an yakni madzab hanafi dan maliki. Pendapat ulama dari kalangan ini juga sering dijadikan rujukan atau hujjah oleh berbagai pihak untuk memperbolehkan wanita haid membaca Al-quran. Terlebih lagi bagi wanita yang sedang menjalankan program tahfid atau hafalan qur’an yang dapat menyelesaikan hafalannya sesuai target tanpa ada halangan.

Selain itu Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid menjabarkan bahwa ulama malikiyah memperbolehkan wanita haid membaca sedikit dari Al-Qur’an dengan dalil istihsan atau berpaling dari hukum yang ada untuk suatu kemaslahatan.

Menurut Madzab Syafii yang terkenal dengan pemahaman yang sangat ketat melang wanita haid  membaca Al-qur’an. Seperti menurut salah satu Ulama yang mengikuti madzab ini yakni Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu didalamnya menjelaskan haram hukumnya bagi wanita haid untuk membaca Al-qur’an sebagaimana jumhur ulama di kalangan madzab tersebut.

Selain itu menurtnya juga masa haid yang berlangsung dalam beberapa hari biasanya tidak akan sampai membuat seseorang lupa pada hafalannya bagi wanita yang sedang menjalankan program tahfidz. Kekhawatiran akan hilangnya hafalan Al-qur’an dapat dilakukan dengan menghafal atau bermuraja’ah terus menerus didalam.

Sedangkan menurut Madzab Hanbali mayoritas ulamanya tidak melarang wanita haid untuk membaca Al-qur’an. Alasannya mengacu pada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib: “Tidaklah Nabi melarang seorang membaca sesuatu pun dari Al-qur’an selama dia tidak dalam keadaan junub.”

 

Refrensi:

Jawad, Muhammad Mughniyah. Fiqih ima Madzab: Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hambali, alih bahasa Masykur A.B.Cet ke-12. Jakarta: Lentera, 2004.

Katsir, Ibnu. Tafsir Ibnu Katsir. Alih Bahasa M. Abdul Ghoffar dan Abdurrahim Mu’thi. Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i. 2003.

Muchtat, Asmaji. Dialog Lintas Madzab ; Fiqih Ibadah dan Muamalah. Jakarta: Amzah. 2015.

 

 

Biodata Penulis

Nama: Hanna Nur Khasanah

profesi: Mahasiswa

Universitas: UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.