Indonesia, Bagian dari Keajaiban Dunia

Oleh: Ali Adhim

Dua puluh satu bangunan masuk dalam nominasi tujuh keajaiban dunia dalam survei global yang dilakukan sebuah organisasi Swiss. Pendapat ini ada dalam BBC New Dunia, lalu nominasi yang masuk antara lain adalah Koloseum di Roma, kota kuno Petra di Yordania dan Acropolis di Athena.

Dua ribu tahun yang lalu, filosof Yunani Philon dari Byzantium memilih tujuh keajaiban dunia yang pertama. Daftar Philon antara lain adalah Taman Gantung Babylonia dan Mercusuar Alexandria. Tetapi bangunan=bangunan tersebut sudah lama tidak terlihat lagi.

Karena itu Yayasan Tujuh Keajaiban Baru yang mengadakan jajak pendapat ini yakin bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk menetapkan tujuh keajaiban baru. Pengelola proyek ini, Bernard Weber, mengatakan kepada BBC: “Hasil terbesar dari proyek ini adalah kita bisa menciptakan tujuh simbol dunia yang abadi dan menghormati keragaman budaya.”[1]

Dalam semangat demokrasi, Weber dan timnya mengharapkan 7 keajaiban dunia terbaru itu nanti akan dipilih oleh masyarakat dunia dengan cara voting melalui telepon dan internet. Untuk melakukan hal ini masyarakat harus memilih bangunan yang paling mereka senangi dari nominasi bangunan yang terpilih dari berbagai benua di dunia.

Dua puluh satu nominasi terpilih dari sekitar 70 kandidat melalui seleksi tim panel ahli yang diantaranya adalah mantan direktur Badan Kebudayaan PBB, UNESCO. Daftar finalis yang dirilis tidak mengandung banyak kejutan, bangunan klasik seperti Taj Mahal di India, Tembok Besar China dan Koloseum di Roma masuk dalam daftar tersebut.

Piramida Giza di Mesir yang merupakan satu satunya bangunan kuno yang masih berdiri juga masuk dalam nominasi. Contoh dari arsitektur zaman modern tidak banyak masuk. Menara Eiffel di Paris, Patung Liberty di New York dan Gedung Opera di Sydney termasuk sekelompok kecil bangunan dari dua abad terakhir dalam final.

Lalu apa kaitan keajaiban dunia di atas dengan Indonesia? KH Ahmad Muwafiq mengatakan bahwa Indonesia adalah keajaiban di dunia sebab penduduknya terdiri dari beratus-ratus suku bangsa, bahasa, beragam agama dan kepercayaan, warna kulit, berbeda pulau, zona waktu, tapi berada dalam satu negara.

Menurut Gus Muwafiq dalam tulisan Abdullah Alawi, di Indonesia ada puluhan bangsa dipikul satu negara. Wajahnya berbeda, bahasa, di Surabaya aku, di Solo aku, di Kebumen nyong, di sini (Sunda) abdi, di sini (Betawi) gue, makanannya juga beda.[2]

Untuk itu, sebagai sebuah keajaiban, Gus Muwafiq mengajak untuk membandingkan dengan Timur Tengah. Di Timur Tengah, kata dia, suku bangsa dan bahasa Arab dipikul oleh beberapa negara. Begitu juga di Eropa.

Menurut Gus Muwafiq, kreator yang mengatur politik dan kebudayaan Indonesia menjadi sedemikian rupa tersebut adalah para wali. Bagaimana sebuah kawasan yang sebelumnya ada hamba, raja, berkasta, bersuku, kok bisa menjadi satu, ini kan keajaiban dunia. Wali Songo merupakan agen of social change, yang membawa dari masa kegelapan ke zaman terang benderang.

Namun, Gus Muwafiq menyayangkan saat ini ada kalangan yang mengingkari kreasi Wali Songo tersebut. Bahkan ada yang menganggapnya bahwa keberadaan Wali Songo adalah ilusi. Padahal Pada abad 15 para saudagar muslim telah mencapai kemajuan pesat dalam usaha bisnis dan dakwah hingga mereka memiliki jaringan di kota-kota bisnis di sepanjang pantai Utara. Komunitas ini dipelopori oleh Walisongo yang membangun masjid pertama di tanah Jawa, Masjid Demak yang menjadi pusat agama yang mempunyai peran besar dalam menuntaskan Islamisasi di seluruh Jawa. Walisongo berasal dari keturunan syeikh ahmad bin isa muhajir dari hadramaut. Beliau dikenal sebagai tempat pelarian bagi para keturunan nabi dari arab saudi dan daerah arab lain yang tidak menganut syiah.[3]

Penyebaran agama Islam di Jawa terjadi pada waktu kerajaan Majapahit runtuh disusul dengan berdirinya kerajaan Demak. Era tersebut merupakan masa peralihan kehidupan agama, politik, dan seni budaya. Di kalangan penganut agama Islam tingkat atas ada sekelompok tokoh pemuka agama dengan sebutan Wali. Zaman itu pun dikenal sebagai zaman “kewalen”.Para wali itu dalam tradisi Jawa dikenal sebagai “Walisanga”, yang merupakan lanjutan konsep pantheon dewa Hindhu yang jumlahnya juga Sembilan orang.[4] Adapun Sembilan orang wali yang dikelompokkan sebagai pemangku kekuasaan pemerintah yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati.[5]

Walisongo secara sederhana artinya sembilan orang yang telah mencapai tingkat “Wali”, suatu derajat tingkat tinggi yang mampu mengawal babahan hawa sanga(mengawal sembilan lubang dalam diri manusia), sehingga memiliki peringkat wali.[6] Para wali tidak hidup secara bersamaan. Namun satu sama lain memiliki keterkaitan yang sangat erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.[7]

Sejarah walisongo berkaitan dengan penyebaran Dakwah Islamiyah di Tanah Jawa. Sukses gemilang perjuangan para Wali ini tercatat dengan tinta emas. Dengan didukung penuh oleh kesultanan Demak Bintoro, agama Islam kemudian dianut oleh sebagian besar manyarakat Jawa, mulai dari perkotaan, pedesaan, dan pegunungan. Islam benar-benar menjadi agama yang mengakar.[8]

Para wali ini mendirikan masjid, baik sebagai tempat ibadah maupun sebagai tempat mengajarkan agama. Konon, mengajarkan agama di serambi masjid ini, merupakan lembaga pendidikan tertua di Jawa yang sifatnya lebih demokratis. Pada masa awal perkembangan Islam, sistem seperti ini disebut ”gurukula”, yaitu seorang guru menyampaikan ajarannya kepada beberapa murid yang duduk di depannya, sifatnya tidak masal bahkan rahasia seperti yang dilakukan oleh Syekh Siti Jenar. Selain prinsip-prinsip keimanan dalam Islam, ibadah, masalah moral juga diajarkan ilmu-ilmu kanuragan, kekebalan, dan bela diri.[9]

Sebenarnya Walisongo adalah nama suatu dewan da’wah atau dewan mubaligh. Apabila ada salah seorang wali tersebut pergi atau wafat maka akan segera diganti olehwalilainnya. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

[1] Diadaptasi dari http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/01/060102_sevenwonders.shtml, diakses 6 Maret 2019

[2] Abdullah Alawi dalam http://www.nu.or.id/post/read/100806/-gus-muwafiq-indonesia-adalah-keajaiban-dunia, diakses 6 Maret 2019

[3] Mukhlis PaEni, Sejarah Kebudayaan Indonesia, (Religi dan Filsafat), ( Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2009), hlm 76

[4] Ibid, hlm 128-129

[5] Tatang Ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam, Madrasah Tsanawiyah Untuk Kelas IX Semester 1 dan 2, (Bandung,: CV ARMICO, 2009), hlm. 25-26

[6] Saifullah. Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm21- 22.

[7] Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Walisongo Misi Pengislaman di Tanah Jawa, (Yogyakarta: GRAHA Pustaka, 2009), hlm 16

[8] Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Walisongo Misi Pengislaman di Tanah Jawa,.. hlm. 5

[9] Mukhlis PaEni, Sejarah Kebudayaan Indonesia (Sistem Sosial),.. hlm 128-129

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.