Ilmu Kalam: Eksistensi Sifat dan Zat Allah Menurut Perspektif dari Muhammad Abduh

Ilmu Kalam Eksistensi Sifat dan Zat Allah Menurut Perspektif dari Muhammad Abduh - dawuh guru

Oleh: Dwi Ayu Angraini

Perkembangan kemajuan peradaban manusia pada pengetahuan keagamaan tergantung pada pemikiran dari para ulama dan pemikir pemimpin umat yang menjadi anutannya. Selain itu, yang menjadi jalan terpenting untuk mengarahkan dan mengendalikan jalan pemikiran tersebut adalah dengan aqidah dan agama yang kuat kepada Allah yang telah diturunkannya kitab-kitab yang menjadi petunjuk untuk membawa kabar gembira dan menata kehidupan mereka. Dan dengan dapat lebih memahami eksistensi dari sifat dan zat Allah. Eksistensi sifat dan zat Allah mengalami simpang siur berbagai perspektif dalam kalangan para pemikir tokoh muslim, salah satunya perspektif dari Muhammad Abduh.

Muhammad Abduh menjadi salah satu tokoh yang dalam pemikirannya mengedepankan rasionalitas. Tetapi rasionalitas dari Muhammad Abduh ini bukanlah target dari tujuan sedangkan sebagai media untuk memahami dan menjelaskan Nash.  Pembahasan sifat dan zat Allah merupakan salah satu permasalahan yang esensial dan menjadi perbincangan dalam teologi Islam. Pada berbagai aliran teologi lebih banyak meyakini bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mendengar (السمع), Melihat (البصير), Berkuasa (القدير), dan Maha yang memiliki sifat-sifat agung yang lainnya. Beberapa dari aliran-aliran ini memiliki perbedaan pendapat dalam menetapkan sifat-sifat Allah.

Perbedaan cara menetapkan sifat-sifat Allah ini yang paling mencolok terjadi pada golongan Mu’tazilah dan Ahlussunah yang sampai-sampai terjadi penyiksaan pada golongan Mu’tazilah yaitu Imam Ahmad bin Hambal dan pengikutnya. Diskursus eksistensi sifat dan zat Allah ini pada teologi Islam berlanjut sampai ke zaman modern Islam sekarang ini. Salah satu tokoh teologi Islam kontemporer yang perspektif pemikirannya menjadi objek kajian teologi adalah Muhammad Abduh yang berdasarkan pada salah satu bukunya yaitu Risalah Tauhid dan Hasyiah, pada masalah tersebut Muhammad Abduh kurang tegas dalam mengatakan bahwa sifat Allah adalah esensi dari Allah, karena hal tersebut terletak di luar dari kemampuan manusia untuk mengetahuinya hal ini menjadi kejelasan hanya Allah yang Maha Tau.[1] Karena pemikirannya yang cukup strategis sebagai salah satu pembaru dalam dunia Islam modern yang dapat menjawab eksistensi sifat dan zat dari Allah.

Muhammad Abduh memiliki nama asli yaitu Muhammad Abduh bin Hasan Khairullah.[2] lahir pada tahun 1849 tepatnya di desa Mahaliat Nasr, kabupaten al-Buhairah Mesir dan wafat saat tahun 1905. Muhammad Abduh memulai pendidikannya dalam lingkungan petani di desa tempat tinggalnya. Dimana diasuh sendiri oleh kedua orang tuanya yang tidak memiliki layar belakang pendidikan sekolah tetapi memiliki jiwa religius yang cukup kuat. Ayahnya Muhammad Abduh bernama Abduh bin Hasan Khairullah dan ibunya menurut riwayat dari bangsa Arab silsilahnya adalah menurun dari keturunan suku bangsa Umar bin Khattab.[3] Muhamad Abduh ketika berusia 12 tahun sudah mampu membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an hanya dalam jangka waktu dua tahun saja. Kemudian pada usia 14 tahun, Abduh dikirim ayahnya untuk ke Thanta belajar di Masjid al-Ahmadi untuk memperlancar hafalan dan lebih memperdalam keagamaannya. Dan dari sini juga pemikiran kritis dari Muhammad Abduh sudah mulai terlihat.

Kecerdasan yang dimiliki oleh Muhammad Abduh membuatnya menjadi seorang tokoh kontemporer yang kritiknya dapat dijadikan sebagai objek terutama kritis perspektif eksistensi sifat dan zat Allah. Secara umum Muhammad Abduh membagi sifat Allah menjadi dua bagian yaitu (الوجودية الصف) sifat wujud dan (السمعية الصفة) sifat sami’. Muhammad Abduh membaginya seperti ini disebabkan karena sifat wujud dapat diidentifikasi melalui argumentasi logis dan sifat sami’ diperoleh dari Wahyu. Argumen dari Mu’tazilah bahwa apabila Allah memiliki sifat maka sifat tersebut haruslah qadim tetapi jika meyakini adanya sifat-sifat yang qadim selain Allah, Mu’tazilah mengatakan hal itu akan menciderai pemahaman dari tauhid. Muhammad Abduh lebih condong pada pendapat Ahlussunah tentang posisi sifat-sifat Allah ini tetapi ditolak keras oleh Mu’tazilah.

Pendapat Muhammad Abduh, secara logis apabila dikatakan sebenarnya sifat dengan dzat tidak sama (الغير=bukan itu) yang tergambar seharusnya adalah lawan dari bukan itu. Ahlussunah menafikan keduanya dengan tetap menegaskan wujud eksistensi dan esensi dari sifat-sifat itu. Pendapat Ahlussunah menurut Abduh memang merepotkan logika, tetapi Ahlussunah bagi Muhammad Abduh lebih memiliki pandangan yang luas melewati apa yang tertuang dalam kata-kata yang disampaikan. Muhammad Abduh ketika menjelaskan perspektif nya terhadap eksistensi dari sifat dengan dzat, ia memastikan bahwa sifat Allah harus diyakini ada akan tetapi keberadaannya ini diluar dari pengertian benda fisik.  Pada dua langkah ini Ahlussunah dan Muhamad Abduh sampai pada kesimpulan bahwa sifat-sifat Allah wajib untuk diyakini keberadaannya.

Perspektif dari Muhammad Abduh dalam bukunya Hasyiah menuliskan tentang esensi Allah adalah sebagai satu-satunya sumber dari segala apapun yang ada baik sumber dari yang timbul akibat dari sifat. Pembahasan panjang tentang sifat dan zat Allah menjadi sia-sia apabila berusaha mencari tau terus atas sesuatu yang tidak akan diketahuinya dan merusakkan karena mendorong pada kerancuan pada aqidah seorang muslim. Bahwa larangan memikirkan sifat dan zat Allah karena membatasi sesuatu hal yang tidak boleh dibatasi, artinya sifat dan zat Allah adalah ada tanpa batas dan tidak diperbolehkan dibatasi oleh akal manusia.[4] Jadi lebih jelasnya perspektif Muhammad Abduh menyatakan esensi dan eksistensi dari sifat dan zat Allah tersebut berada diluar kemampuan manusia. Disimpulkan segala sesuatu yang ada adalah akibat dari esensi. Karena itu esensi dan sifat berkuasa adalah satu karena keduanya sama-sama mengakibatkan pelaksana dari perbuatan.

 

*Penulis adalah mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam

 

Sumber :

Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, (Jakarta: UI- Press, 1987), Cet I, hlm. 71

Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsir al-Manar (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1994), hlm. 11

Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Mu’tazilah (Jakarta: UI Press, 1987), cet I, hlm. 11

Muhammad Abduh, Risalah al-Tauhid, (Kairo: Maktabah al-Usrah, 2005), hlm 43.

 

[1] Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, (Jakarta: UI- Press, 1987), Cet I, hlm. 71

[2] M. Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsir al-Manar (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1994), hlm. 11

[3] Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Mu’tazilah (Jakarta: UI Press, 1987), cet I, hlm. 11

[4] Muhammad Abduh, Risalah al-Tauhid, (Kairo: Maktabah al-Usrah, 2005), hlm 43.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *