Ibn Haitham sebagai Bapak Optik Modern

oleh : Meizaluna Fitri Auliya Rahma

(Mahasiswa Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya)

Didalam sejarah peradaban Islam tentu terdapat faktor-faktor yang melatar belakanginya seperti pada bidang politik, ekonomi, pendidikan, serta seni budaya. Islam telah mengalami peradaban yang cukup panjang dan luas. Periodesasi peradaban islam terbagi menjadi tiga periode yakni : periode klasik (620-1250M), periode pertengahan (1250-1800M), dan periode modern (1800-sekarang). Periode klasik dimulai ketika masa ke khalifahan Rosulullah sampai jatuhnya bani abbasiyah, Baghdad. Berbagai perkembangan yang terjadi pada masa klasik ini menjadi corak peradaban setelahnya.

Periode pertengahan terbagi menjadi dua fase. Fase pertama yaitu fase kemunduran karena terjadinya perbedaan yang semakin nyata antara Arab dan Persia serta Sunni dan Syi’ah. Sedangkan fase kedua fase tiga kerajaan: kerajaan Turki utsmani, kerajaan Safawi dan kerajaan Mogul, kejayaan islam pada masa kerajaan masih dapat kita lihat dalam bentuk arsitek di Istanbul, Delhi dan Iran.  Periode modern atau yang saat ini kita kenal merupakan periode dimana umat islam kembali menelaah penyebab terjadinya kemunduran islam pada periode lampau sebagai pembelajaran untuk islam yang lebih maju.

Dalam  sejarah peradaban islam tentunya tidak lepas dari peran tokoh penting yang sangat berpengaruh dalam kemajuan islam baik dalam bidang pendidikan maupun teknologi. Pada abad ke- 9 sampai ke-13 disebut sebagai abad keemasan para ilmuwan arab. Beberapa diantaranya adalah Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Farabi, Ibnu Haitham, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Jabir Al-Hayyan, Ibn Khaldun dan masih banyak lagi. Karena tokoh-tokoh tersebut berhasil menemukan penemuan serta menghasilkan karangan-karangan yang menjadi faktor utama berkembang pesat dan luasnya  pendidikan Islam pada masa itu

Salah satu tokoh yang menarik untuk dibahas adalah Ibn Haitham. Nama lengkapnya Abu Ali Muhammad Ibn al-Hasan Ibn al-Haitham al-Basri al-Mishri (Basrah 965- Kairo 1039). Sedangkan dikalangan cendekiawan barat Ibn Haitham dikenal sebagai Alhazen, Avennathan atau Avenetan. Sejak kecil beliau dikenal cerdas. Oleh sebab itu, tidak heran jika beliau menjadi salah satu toko terkemuka islam.  Beliau mulai dikenal bermula ketika diundang ke Mesir untuk memecahkan persoalan banjir yang terjadi di sungai Nil yang mana pada saat itu menjadi masa kejayaan dinasti fatimiyah yang tengah dipimpin oleh Al-Hakim Ibn Amir Abdullah (909-1172).

Baca Juga:   Perusakan Tempat Ibadah Agama Lain Apakah Jihad?

Pada saat itu Ibn Haitham berencana membuat bendungan sungai Nil untuk mencegah terjadinya banjir ataupun kekeringan. Namun nampaknya beliau tidak bisa mewujudkan rencananya tersebut karena sulitnya medan, keterbatasan alat hingga masalah pembiayaan. Hal ini membuat Al-Hakim murka dan marah. Sebagai hukumannya Ibn Haitham ditahan dengan memperkerjakannya dalam administrasi pemerintahan. Dalam catatan sejarah Al-Qifti dijelaskan bahwa Ibn Haitham sempat mengalami gangguan jiwa. Belum diketahui pasti  penyebab jelasnya atau ini menjadi salah satu rencananya agar keluar dari lingkungan pemerintahan.

Ibn Haitham merasa  kurang cocok dengan pekerjaannya di pemerintahan. Beliau lebih andil dalam kegiatan akademik yang bebas seperti meneliti, mengamati alam, membaca serta menulis menjadi terhambat karena pekerjaan itu. Namun, ketika terjadi peristiwa kudeta tahun 1021 Al-Hakim wafat dan membuatnya bebas. Semenjak itu beliau tinggal di masjid Al-Azhar Kairo dan mulai melanjutkan kegiatan ilmiahnya. Beliau adalah ilmuwan yang senang sekali melakukan penelitian. Penelitiannya mengenai cahaya memberikan pengaruh bagi ahli sains barat seperti Rogan Bacon dan Johannes Kepler dalam menciptakan teleskop dan mikroskop.

Tidak berhenti disitu saja, Ibn Haitham juga dikenal sebagai ilmuwan Fisika, Matematika, ilmu Falak, Geometri, Farmakologi, Sains serta Filsafat. Yang lebih menakjubkan beliau telah menemukan teori prinsip isi padu udara sebelum seorang fisikawan asal Italia bernama Evangelista Torricelli mengetahui teori tersebut 500 tahun setelahnya. Penemuannya tentang optik terutama cahaya membuatnya digelari sebagai “ Bapak Optik”. Ibn Haitham berhasil memecahkan problem optik dengan analogi matematik tingkat empat yang sampai saat ini disebut dengan Alhazen’s Problem.

Dalam kitabnya yang berjudul Al-Manazil (Book of Optic) yang didalamnya merangkum berbagai pemecahan masalah mengenai optik termasuk mengubah telaah optik yang sebelumnya didasarkan atas teori Ptolemeus dan Euclides menjadi sains baru. Beliau mengoreksi serta mengembangkan  konsep Ptolemeus dan Euclides tentang Ilmu penglihatan. jika menurut kedua ilmuwan Yunani mata yang mengirimkan cahaya visual pada objek yang ditangkapnya sehingga sebuah benda dapat dilihat.

Baca Juga:   Asal Muasal Tradisi Santri Menata Sandal Kiai

Sedangkan Ibn Haitham berpendapat bahwa benda memantulkan cahaya yang ditangkap oleh retina yang disalurkan ke saraf-saraf optik. Teori inilah yang sekarang menjadi temuan rekayasa optik dan mempunyai andil dalam penelaah anatomi dan penyakit mata. Menurutnya, untuk menjelajahi sifat cahaya dan penglihatan Ibn Haitham menggunakan kamar gelap yang disebut Albet Al-Muzlim atau yang dalam bahasa latin disebut Camera Obscura. Cahaya yang melewati lubang kecil berjalan dalam garis lurus dan memproyeksikan gambar ke dinding yang berlawanan. Selain itu,

Kitab Al-Manazir (Book of Optic) yang terdiri dari 7 jilid yang mana setiap jilidnya berisikan 1000 halaman. Buku ini disebut Charles sebagai buku modern pertama yang membahas optik. Diterjemahkan dalam bahasa latin yang diberi judul Opticae Thesaurus oleh F. Risner. Buku ini juga yang mempengaruhi lahirnya karya-karya berikutnya. Menurut Will Durant tanpa buku ini tidak mungkin ada Rogel Bacon dan Kepler. Bahkan beberapa berpendapat bahwa buku karya Rogel Bacon yang berjudul Optics adalah hasil yang dikembangkan Roger Bacon dari terjemahan kitab Al-Manazir (Book Of Optic).

Menurut Philip K.Hitti tulisan-tulisan Ibn Haitham tentang berbagai masalah optik membuka jalan bagi para peneliti barat yang dikemudian hari mengembangkan ilmu ini secara lebih luas. Karena karya-karya tersebut tidak hanya diterjemahkan kedalam bahasa latin melainkan diterjemahkan juga kedalam bahasa Eropa, termasuk Rusia dan Ibrani. Seperti sejarawan termasyhur Amerika George Sarton yang mengumpulkan karya-karya Ibn Haitham dalam bukunya yang berjudul Introduction of Study of Science dan menjadi bacaan wajib bagi para ilmuwan serta bagi siapapun yang mencintai ilmu.

Selain membahas tentang optik, beliau juga mendiskusikan mengenai kepadatan atmosfer dan mulai mengembangkan korelasi faktor tersebut dengan ketinggian. Menurut faktanya bahwa senja hanya muncul ketika letak matahari berada pada 19 derajat dibawah garis horizon hal tersebut didapatnya ketika mempelajari pembiasan atmosfer. Beliau juga membahas tentang daya tarik massa fakta yang menunjukkan bahwa Ibn Haitham telah menyadari korelasi percepatan dengan gravitasi.

Baca Juga:   Sosok New Nissan Livina Terungkap, Apa Kata NMI?

Selain dalam bidang fisika beliau juga memberikan kontribusi yang penting dalam bidang matematika. Pengembangan analisis geometri dan membangun hubungan antara aljabar dan geometri. Selain itu juga memperkenalkan konsep gerakan dan transformasi dalam geometri. Karya-karya geometri Ibn Haitham mempengaruhi karya para ahli geometri Persia seperti Nasir Al-Din Tusi dan Omar Khayyam. Beberapa ahli geometri dari Eropa pun juga dipengruhinya seperti Gersonides, Witelo, Giovanni Girolamo Saccheri serta John Wallis.

 

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.