Huruf Arab Pegon yang Kembali Mengudara di atas Budaya Millenial

Huruf Arab Pegon yang Kembali Mengudara di atas Budaya Millenial - dawuh guru

Oleh : Mambaul Athiyah

Ada yang tahu siapa penggagas huruf pego? Atau dikenal juga dengan Arab Pego, Arab Jawi atau bahkan Arab Melayu?

Menurut beberapa pendapat mengatakan penggagasnya adalah Kanjeng Sunan Ampel. Saat berkomunikasi dengan anak-anak muridnya dengan tulisan beliau menggunakan aksara Arab Pego.

Adapula yang mengatakan bahwa penggagasnya adalah Sunan Gunung Jati. Saat mendakwahkan ajaran agama beliau menggunakan aksara Jawi yang penulisannya memakai huruf Hijaiyah atau huruf Arab.

Wallahu A’lam, siapapun pencetusnya huruf pego menjadi bermakna karena lazim digunakan untuk memaknai kata-kata Arab dengan bahasa Jawa yang lebih bisa dimengerti oleh banyak kalangan santri sekaligus abangan. Hanya saja memakai huruf Arab guna lebih mencirikan bahwa budaya Arab lebih melekat di kawasan sekitar pesantren di mana Arab merupakan muara asal tempat turunnya agama Islam.

Dari sinilah benang merah tulisan Arab Jawa itu nampak. Jika dilihat dari kejauhan maka bak kata-kata bahasa Arab tetapi saat dieja ternyata malah menjadi kata-kata dari Bahasa Jawa, ada juga bahasa Cirebonan, atau malah bahasa Indonesia tergantung siapa yang menulisnya.

Karena itulah namanya Arab Pegon atau Pego yang berarti nyeleneh. Nyelenehnya dalam kaitan tulisan dan bacaan tidak sejalan. Aksara Arab tapi ejaan Jawa.

Arab Pegon kemudian mengalami penyempitan penggunaan terbatas hanya di lingkungan pesantren saja. Sebagai sarana mengaji, sebagai sarana belajar juga sebagai bahasa komunikasi yang ada di pesantren baik dari guru ke murid atau dari murid ke sesama murid. Padahal, sejak zaman penjajahan, di daerah yang terkenal sebagai lingkar Melayu penulisan pegon ini menjadi brand atau trademark atau penanda bahwa produk tadi dihasilkan di tanah Melayu. Contohnya di daerah Malaysia, sebagian Sumatera, hingga sebagian Thailand.

Baca Juga:   Dalil Sputar Qunut dalam Sholat

Perhatikan saja, selain menulis dengan aksara latin, mereka juga menyertakan Arab Pegon atau Arab Melayu sebagai tulisan produk. Contohnya kata diproduksi yang ditulis dengan aksara Melayu tadi.

***

Pada dekade 1990-an mulai berkembang tren Arab Pegon sebagai bahasa rahasia antara beberapa santri dan santriwati untuk mengungkapkan sebuah perasaan.

Contohnya kata aku tresno karo Sampean ditulis dengan huruf Arab Pegon. Alif, kaf, tak, rok serta lanjutannya hingga membentuk kata yang sekilas seperti bahasa Arab tapi bukan.

Atau menjadi tren juga menulis ayo rabi yang tulisannya mirip kata Robbi tetapi jika dibaca pegon jadi ajakan untuk menikah.

Ilmu-ilmu demikian jelas dilestarikan di ranah pesantren, sebagai bahasa mengaji resmi (maknani) atau untuk niat terselubung seperti contoh di atas.

Hal ini membuat beberapa pemerhati bahasa merasa ketakutan. Jika tradisi di pesantren kian modern maka lama kelamaan khazanah penulisan aksara Arab Pego ini akan menghilang.

Namun, siapa sangka kalau memasuki era tahun 2014 ke atas bahasa-bahasa Pego ini kembali mencuat di atas selembar kain yang disablon kemudian dicetak menjadi kaos yang digemari generasi millenial.

Rerata mencetak kata cantik, ganteng, rabi yuk (ajakan nikah), aku rindu, dan semacamnya. Bahkan, di saat pandemi bahasa Arab Pegon ini kembali merebak menjadi trendsetter di atas kain kerudung. Menggunakan tulisan Arab tapi nyatanya nama pemilik kerudung, atau kata yang lain yang menjadi eye catching, membuat Arab Pegon menjelma populer kembali.

Sekarang juga tercetak di atas gamis, di atas twill, di atas kopyah, serta sarung Mbak Santri maupun sarung Kang Santri.

Intinya apa? Kalau dulu bahasa Arab Pegon menjadi pemersatu para ulama’ di Nusantara maka sekarang dilanjutkan estafetnya oleh generasi santri millenial sekarang. Meskipun tercetak di atas sandal pun, selama penggunaan Arab Pegon itu masih dipakai maka akan tetap lestari.

Baca Juga:   Klasifikasi Ilmu Menurut Gus Muhammad Al-Fayyadl

Intinya lagi adalah, mari melestarikan apa yang baik serta memeliharanya dengan cara yang memang kekinian. Karena sesuai pepatah, semua berubah, mereka yang tidak mengikuti perubahan akan ketinggalan atau ditinggalkan.

Mambaul Athiyah

Penulis, Penikmat Sastra, Menulis Apa saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.