Hidangan dari Tuhan

Oleh: M. Saifuddin Abd Rouf*

Melihat kondisi sekarang, kita lebih suka membaca tulisan-tulisan di status daripada membaca Alquran. Padahal, sebagai orang yang mengaku dirinya muslim adalah sebuah anjuran untuk tidak meninggalkan dari membaca Alquran. Seperti dalam sebuah riwayat yang pernah Nabi Saw dawuhkan, “Bacalah Alquran! Sungguh Alquran akan datang memberi pertolongan di hari kiamat bagi sahabatnya.” Demikianlah dawuh Nabi Saw, yang seharusnya kita umatnya mengindahkannya.

Ketika kita mau melihat sejarah para sahabat dan orang-orang sholeh setelahnya, mereka adalah para ahli Alquran yang kebanyakan dari mereka setiap minggunya menghatamkan bacaan Alquran. Bahkan, ada yang dalam waktu sehari. Ada juga, yang bisa menghatamkan dalam satu rakaat dalam sholat witirnya.

Sayidina Utsman ra setiap harinya mampu menghatamkan bacaan Alquran-nya dalam waktu satu rakaat sholat witir. Diceritakan juga Imam Syafi’i, salah satu imam dari empat madzab fiqih, beliau mampu menghatamkan Alquran dua kali dalam sehari di hari-hari bulan ramadhan dalam sholat sunnahnya. Habib Abdullah Assegaf mampu menghatamkan delapan kali khatam dalam sehari.

Menurut Habib Novel, mengapa beliau-beliau mampu demikian, itu semua karena mereka memiliki hati yang dapat merasakan dan menyadari kebesaran Alquran, sehingga bisa menikmati. Itulah rahasia keberhasilan mereka dalam membaca Alquran, yaitu kesadaran hati akan kebesaran Alquran.

Alquran adalah hidangan Allah yang telah disediakan untuk kaum mukmin. Sudah sepatutnya, seorang mukmin menghargai hidangan Allah dengan berkenan untuk mencicipinya. Sangat merugi, siapa yang telah diundang dan sudah disiapkan hidangan yang begitu sangat komplit dan sungguh lezat lagi bergizi tinggi, namun enggan untuk menikmatinya.

“Mereka yang sudah bisa memposisikan dirinya sebagai hamba yang diundang oleh Allah Swt untuk menikmati hidangan-Nya ketika membaca Alquran, tentunya berbeda dengan ia yang sekadar membaca Alquran. Ia akan merasa mulia dan terhormat karena telah diundang oleh Allah Swt. Perasaan semacam ini seharusnya dimiliki oleh setiap Muslim, sehingga ia akan mendapatkan kenikmatan ketika membaca Alquran.” Demikian tulis Habib Novel dalam bukunya.

Saya pernah menulis dalam buku yang berjudul “Hidangan dari Tuhan” terkait ini. Dalam tulisan itu, Saya menulis: “Alquran adalah hidangan ilahi yang telah disediakan oleh Allah untuk hamba-Nya. Semua hamba tanpa terkecuali, mempunyai hak yang sama untuk dapat menikmati aneka hidangan yang telah Allah sediakan agar dinikmati” Jadi, semua hamba berhak menikmati hidangan sesuai selera yang disukainya tanpa harus sama dengan pilihan hamba selainnya.

Prof. Dr. Habib Quraish Shihab, MA dalam bukunya yang berjudul Mutiara Hati menuliskan: “Al-Qur’an Ma’dubatullah, Alquran adalah hidangan ilahi. Demikian sabda Nabi Saw. Maka penuhilah seleramu dengan hidangan-Nya, karena ia dihidangkan untuk dimakan dan yang menghidangkan akan kecewa bila hidangannya diabaikan. Allah Maha kaya, hidangannya beraneka ragam, semua dapat meraih sesuai selera yang diundang.

Yang hadir bebas memilih dari yang terhidang dan tidak boleh memaksa undangan lain untuk memilih pilihannya, karena semua terhidang dan masing-masing dipersilahkan memilih. Terkutuk yang melecehkan undangan-Nya. Celakalah yang enggan menghadiri undangan-Nya, dan merugilah yang hadir tapi enggan mencicipinya.”

Kita telah dimuliakan dengan kitab mulia yang Allah Swt turunkan. Dengan Alquran, Allah menyuguhkan hidangan-Nya. Oleh karena itu, semoga kita diberi anugerah untuk dapat merasakan keagungan dari hidangan Ilahi itu. Sebagaimana para sahabat dan orang-orang sholeh setelahnya yang mampu menghatamkan Alquran dalam waktu yang tidak lama. Demikian, semoga bermanfaat.

*M. Saifuddin Abd Rouf (Penulis Buku Hidangan dari Tuhan, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *