Hakikat dan Buah Tafakur

Oleh : Ahmad K. Nizam

Berkali-kali dalam Al-Qur’an, Allah swt menyuruh kita bertafakur (merenung). Allah swt menghargai mereka yang selalu bertafakur, merenungkan kejadian-kejadian langit dan bumi, hingga mereka menyadari: Oh Tuhanku, tak ada satu pun yang sia-sia apa yang kau ciptakan (QS. Ali Imron 3:191).

Merenung (tafakur) sesaat, lebih baik dari pada ibadah setahun. Kebanyakan orang tidaklah mengerti dengan baik bagaimana bertafakur seharusnya dilakukan. Apa yang harus di tafakuri ?, mengapa ia harus bertafakur ?. Apakah tafakur merupakan buah atau justru hanyalah sebuah pohon yaang akan berbuah ?. Jika demikian, kapankah sang pohon tafakur itu akan berbuah ?. Penjelasan-penjelasan mengenai semua masalah ini amatlah penting.

Ketahuilah, tafakur itu berarti menghadirkan dua makrifat (pengetahuan) dalam hati agar timbul makrifat ketiga. Hal ini akan di jelaskan melalui contoh; orang yang hidup sebagai hamba dunia, lalu ia ingin menyakini bahwa akhirat itu lebih utama dari dunia. Maka baginya ada dua jalan:

Jalan pertama: mendengar orang lain berkata bahwa akhirat itu lebih utama dari dunia. Lalu, ia percaya dengan tidak memeriksa lebih jauh. Lantas, ia pun memilih akhirat berdasarkan perkataan orang lain. Ini namanya taklid, bukan makrifat.

Jalan kedua: mengetahui bahwa yang lebih kekal adalah lebih utama. Ini adalah makrifat pertama. Makrifat ini menghasilkan makrifat ketiga, yaitu bahwa akhirat itu lebih utama. Makrifat ketiga ini tak mungkin timbul sebelum menghadirkan dalam hati kedua makrifat yang lebih dulu itu.

Menghadirkan kedua makrifat dalam hati untuk mencapai makrifat ketiga, itulah yang dimaksud dengan tafakur. Jadi, dua buah makrifat jika kita kawinkan (dengan syarat-syarat tertentu) melahirkan makrifat ketiga sebagai “anak” atau buahnya. Hal ini tentu hanya akan di peroleh orang yang pandai berpikir. Kebanyakan orang tak dapat menambah ilmu pengetahuanya, karena ia kekurangan modal. Padahal, yang disebut modal ialah beberapa makrifat yang akan menyebabkan ilmu itu bisa berbuah.

Hasil dari bertafakur ialah ilmu pengetahuan, keadaan-hati dan amal. Ilmu merupakan buah yang utama. Bila ilmu sudah masuk ke hati, berubahlah keadaan hati. Bila hati sudah berubah, berubah pulalah amal anggota badan. Jadi, amal itu bergantung pada ilmu, dan ilmu bergantung pada tafakur. Kesimpulanya, tafakurlah yang menjadi kunci segala kebaikan.

Tafakur itu lebih utama dari sekedar mengingat. Jangkauan tafakur lebih jauh dari pada mengingat-ingat (zikir), sungguh pun begitu, zikir dalam hati itu lebih utama dari pada amal anggota badan. Itulah sebab baik dari pada ibadah setahun. Para ahli pikir berkata, “tafakur menimbulkan rasa cinta, menimbulkan rasa zuhud dan rasa puas (qona’ah)”. Oleh sebab itu, dalam Al-Qur’an disebutkan, supaya mereka bertakwa dan mau mengingat (QS. Thaha 20:113).

Jika kita ingin memahami bagaimana hati itu bisa berubah dengan jalan tafakur, contohnya seperti tafakur tentang akhirat, menyebabkan kita insaf. Semakin kukuh keyakinan, bahwa akhirat lebih utama. Jika makrifat ini telah meresap sebagai keyakinan dalam hati, hati kita akan berubah. Hati menjadi cenderung pada akhirat dan zuhud terhadap masalah dunia.

Namun dengan makrifat itu, berubahlah keadaan hati dan berganti dengan kemauan dan keinginan. Perubahan ini dapat memberi buah. Buahnya adalah amal anggota badan dan membuang dunia serta memperhatikan masalah akhirat.

Jelaslah sudah bahwa di sini ada lima derajat persoalan, yakni:

  1. Ingat dan menghadirkan dua macam makrifat dalam hati;
  2. Tafakur dan mencapai makrifat ketiga melalui kedua makrifat terlebih dahulu;
  3. Terjadinya makrifat yang dicari dan terbukanya hati karenanya;
  4. Berubahnya keadaan hati karena cahaya makrifat; dan
  5. Amal anggota badan sesuai dengan hal yang baru dalam hati

Kini, jelaslah sudah bahwa buah tafakur ialah ilmu pengetahuan (ulum) dan suasana hati (ahwal). Ilmu pengetahuan itu tak akan ada habisnya, sementara ahwal itu pula tidak terbatas. Oleh karena itu, pikirkan dan apa yang dipikirkan serta berapa buahnya dan bagaimana saluranya.

Tentu, pembahasan ini baru merupakan ringkasan yang pokok-pokok saja. Sebab, jika akan diperinci lebih luas, tentu memerlukan uraian dari segala segi pengetahuan. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam.

*Ahmad Khoirun Nizam, alumni santri pondok pesantren raudlatul muta’allimin kendal jawa tengah. Umur masih muda 18 th.

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *