Gus Nadhif Kisahkan Seorang Pemuda di Zaman Nabi yang Jenazahnya Ditolak Bumi

Oleh: Muhammad Ilham Fikron

Nadhif Abdul Mudjib merupakan seorang ulama dan dai milenial asal Tayu Pati Jawa Tengah. Selain mengasuh pesantren yang dibimbingnya, PP. Nahdlotut Tholibin, beliau juga menjadi salah satu guru favorit bagi kalangan santri di madrasah Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) Kajen Pati Jawa Tengah. Beliau juga menjabat sebagai salah satu anggota Dewan Instruktur Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) pusat.

Dalam sebuah kesempatan, Gus Nadhif sapaannya, menjelaskan tentang bahaya radikalisme. Beliau mengutip beberapa kisah dari para sahabat Nabi saw, ada juga kisah menarik yang didapat dari gurunya selama belajar di Mesir.

Berikut penjelasan dari Gus Nadhif:

Sahabat-sahabatku yang saya cintai, betapa dunia ini semakin hari semakin banyak masalah, itu yang jelas. Tetapi barangkali di antara sekian masalah yang membutuhkan konsen kita adalah tentang radikalisme.  Radikalisme ini tidak hanya sekadar isapan jempol belaka, saya punya guru di Mesir, Prof. Dr. Najih Ibrahim, beliau dahulu mantan pendiri Jama’ah Islamiyah yang terkenal radikal di sana (Mesir), tetapi kemudian beliau sadar dan berkelilling dunia untuk memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang bahaya radikalisme.

Ada sebuah cerita menarik dari Profesor Najih Ibrahim, beliau suatu saat ketemu dengan salah seorang pemuda yang sudah terpapar radikalisme. Prof. Najih memberikan secarik kertas kosong dan satu pena kepada pemuda tersebut, (ia) diberikan satu pertanyaan, “Tolong tuliskan menurutmu di dunia ini siapa orang yang layak disebut sebagai muslim?”.

Lebih dari satu jam, tidak satupun nama ditulis oleh pemuda ini. Itu artinya bagi pemuda ini jelas semua orang dianggap tidak layak sebagai seorang muslim. Sehingga karenanya, mereka kemudian menjadi takfiri, suka mengkafirkan (orang lain).  Padahal kita tahu, dari berpikir radikal ini kemudian lahir takfiri, suka mengkafirkan, dan kemudian dibumbui dengan narasi bahwa bumi Allah ini harus disucikan dari orang-orang yang ‘katanya’ menurut mereka itu kafir. Na’udzubillah min dzalik.

Ini satu kisah yang sederhana, tetapi maknanya menurut saya sangat mendalam. Betapa mereka itu tidak pernah mengkaji agama dari akar-akarnya, kita lihat misalnya, kita baca dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, ada sebuah cerita ringan sekali.

Suatu ketika para sahabat bercanda, ada salah seorang sahabat tertidur lelap kemudian pedangnya disembunyikan oleh teman-temannya. Ketika terbangun, ia panik bukan main, karena menganggap pedangnya hilang. Orang-orang di sekelilingnya tentu saja tertawa, karena itu sebetulnya hanya sekadar canda (dengan) menyimpan atau menyembunyikan pedang tersebut.

Tiba-tiba Rasulullah saw bertanya, “Mengapa kalian tertawakan teman kalian yang sedang kepanikan?”, para sahabat menjawab (dengan) menjelaskan duduk persoalannya bahwa si sahabat yang baru saja tertidur ini pedangnya disembunyikan oleh teman-temannya. Di luar dugaan, Rasulullah saw bersabda, la yahillu li muslimin an yurawwi’a musliman, tidak halal bagi seorang muslim membuat panik orang lain.

Sekadar membuat panik saja, Rasulullah mengatakannya dengan la yahillu, ini ada penekanan-penekanan tertentu, la yahillu (artinya) tidak halal, berarti haram, berarti dosa besar membuat orang panik. Apalagi sampai dari sikap radikalisme itu muncul sifat terorisme, menakut-nakuti. Membuat panik saja tidak boleh, apalagi menakut-nakuti.

Dan (ada lagi) Muhallim bin Jassamah juga diceritakan, ketika dia secara membabibuta membunuh seseorang yang dikiranya kafir, padahal belum jelas (apakah dia benar kafir atau tidak). Padahal orang tersebut sudah mengucapkan salam. Singkat kata, setelah pembunuhan oleh Ibnu Jassamah ini dilaporkan kepada baginda Rasul. Baginda Rasul di luar dugaan mengatakan, la ghafarallahu laka, semoga Allah tidak mengampuni dosamu, ini di luar kebiasaan Rasulullah sampai mendoakan seperti itu. Sampai akhirnya Ibnu Jassamah ini meninggal dunia, dan ketika hendak dikuburkan, Rasulullah berkata, “Kuburlah oleh kalian, aku tidak mau ikut”. Tetap diperintahkan untuk menyalati dan menguburkan. Tetapi kemudian setelah berusaha dikuburkan oleh beberapa sahabat, ternyata jenazahnya tidak bisa masuk ke dalam bumi.

Akhirnya para sahabat lapor kepada Rasulullah, “Ini (kejadian) apa wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya bumi telah diperintahkan Allah untuk menolak jenazah Muhallim bin Jatstsamah. Sesungguhnya orang yang lebih buruk dari Muhallim bin Jassamah lebih banyak, tapi Allah tetap memerintahkan bumi untuk menerima jasadnya. Tetapi untuk Muhallim bin Jassamah ini, Allah telah memerintahkan bumi untuk menolaknya”. Sebagai pelajaran, jangan mudah mengkafirkan orang lain apalagi membunuhnya.

Saya kira itu ibrah atau teladan yang harus kita pelajari, jangan mudah mengkafirkan orang. Ayo generasi muda (khususnya) Nahdlatul Ulama berjihad melawan radikalisme. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Mereka (kaum takfiri) sudah berusaha menyusun kekuatan di mana-mana, apalagi kemudian (sempat) ada wacana mengembalikan sekitar enam ratus eks-ISIS ke bumi nusantara ini. Katanya mereka atas nama hak asasi manusia. Kita yang sekian ratus juta ini juga punya hak asasi manusia untuk hidup tenteram. Jadi, di dunia nyata kita harus menggelar diskusi-diskusi serius untuk melawan radikalisme. Demikian, selamat berjuang.

Simak video selengkapnya di “Gus Nadhif – Mari Melawan Radikalisme

*Muhammad Ilham Fikron. Sahalian (Santri Mbah Sahal), Alumnus Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) dan Alumnus Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh Kajen Pati.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *