Gus Dur: Kaum Sarungan dengan Pemikiran Internasional

Gus Dur: Kaum Sarungan dengan Pemikiran Internasional

Kondisi politik Indonesia yang belum atau bahkan hampir memasuki kondisi darurat menjadi keresahan baru di masyarakat. Dinamika politik Indonesia yang saat ini sedang diguncang dengan berbagai permasalahan yang ada, mulai dari diperlemahnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kebijakan-kebijakan yang kurang tepat, dibungkamnya kebebasan berekspresi mahasiswa hingga banyaknya kasus korupsi yang terjadi. Terlebih lagi, situasi pandemi COVID-19 ini, besar harapan masyarakat terhadap Pemerintah dalam menentukan arah kebijakan yang akan digunakan. Maka dari, kondisi politik yang semakin memburuk ini menjadi evaluasi terhadap para hegemoni untuk melakukan perubahan yang positf demi kesejahteraan mayarakat Indonesia. Tentu hal ini, mengingatkan kita terhadap salah satu mantan Presiden RI yang ke-4 dengan ciri khas kepemimpinan dan politik yang unik dalam menghadapi permasalahan yang menerpa bangsa dan Negara, yakni KH. Abdurrahman Wahid, atau yang kerap disapa Gus Dur.

Gus Dur, Sang Guru Bangsa

KH. Abdurrahman Wahid atau yang kerap disapa dengan panggilan Gus Dur lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada 4 Agustus 1940. Namun sebenarnya tanggal tersebut lahir dari kesalahpahaman memahami kalau ia dilahirkan di bulan 8. Namun yang dimaksud bukanlah masehi, tapi hijriyah sehingga yang tepat ia dilahirkan pada 4 Sya’ban tahun 1940/7 Septermber 1940.

Nama lengkap kecil beliau adalah Abdurrahman Ad-Dakhil, atau yang bermakna “sang penakluk” adalah sebuah nama yang diberikan oleh ayahnya, yakni KH. Wahid Hasyim, denganan terinspirasi dari seorang pembesar Dinasti Bani Umayyah yang mencapi puncak kejayaan di Andalusia, yang sekarang dikenal sebagai Spanyol.

Ayahnya yang seorang Ulama Besar dan mantan Menteri Agama pertama RI serta merupakan cucu dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, yang merupakan pendiri Jam’iyyah terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH. Bisri Syansuri.

Gus Dur yang tumbuh besar di lingkungan pesantren ini memiliki kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Bukan hanya pemahaman mengenai keislaman yang dipelajari oleh beliau, Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya.

Dalam perkembangnya, Gus Dur, adalah seorang pemikir dan pejuang demokrasi. Plurasime, Hak Asasi Manusia (HAM), hingga masalah suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) tak luput dari pandanganya. Sehingga, sebutan bapak Plularisme sangat pantas untuk disematkan pada beliau.

Selain itu, kecerdasan dan kemampuan beliau dalam menulis memiliki berbagai macam karya. Salah satu karya populernya yaitu “Tuhan Tidak Perlu Dibela”. Banyak penghargaan yang diterima oleh beliau, baik penghargaan nasional hingga Internasional. Sehingga, perjuangan, peran dan kontribusi Gus Dur menjadikan beliau disebut sebagai Sang Guru Bangsa.

Kaum Sarungan dengan Pemikiran Internasional

Gus Dur yang tumbuh besar di Pesantren atau yang biasa disebut dengan Kaum Sarungan adalah seorang aktivis yang sangat rajin dan kreatif dalam mengkritik sebagai rakyat dan menjawab kritik sebagai Presiden. Beliau cukup piawai dalam membuat humor yang bersifit kritik dan menyindir para penguasa. Sebagian besar humor dan lelucon beliau merupakan adaptasi dari pemahaman internasional yang beliau miliki.

Di saat santri-santri, atau warga Nahdliyyin lainya masih tenggelam dan terfokus terhadap ilmu-ilmu tafsir, hadist dan kitab-kitab kuning lainya. Gus Dur sudah membaca dan belajar Das Kapital-nya Karl Marx, What is to be Done-nya Lenin, dan Prison Notebook-nya Gramsci. Atau, ketikasantri-santri lain kebanyakan hanya mengenal rebana dan kasidahan, Gus Dur sudah mengagumi kemegahan karya Karya Bethoven dan Banch serta berbagai lagu eropa lainya.

Selain itu, Gus Dur adalah salah satu murid berbakat, dimana beliau menyelesaikan pendidikan di Pesantrenya hanya dalam waktu 2 tahun yang seharusnya adalah 4 tahun. Baliau juga mendapatkan kesempatan menimba ilmu di berbagai Universitas luar negeri. Mulai di Al-Azhar (Kairo, Mesir), Universitas Baghdad (Irak), Hingga di beberapa negara di Eropa, seperti Belanda, Jerman dan Perancis.

Dengan berbagai macam pengetahuan, pengalaman dan kemampuan yang dimiliki, Gus Dur merupakan salah satu kaum sarungan dan warga Nahdliyyin yang memiliki pemikiran Internasional. Sehingga, pada puncak karirnya nanti beliau terpilih menjadi Presiden Ke-4 Republik Indonesia.

Politik Humor Gus Dur

Gus Dur adalah salah satu tokoh fenomenal dan cukup kontrovesial pada zamanya. Hal itu dipengaruhi oleh pemikiran, tindakan, maupun ucapanya yang sering dilontarkan oleh beliau dalam menjalankan kehidupan agama, sosial, politik dan budaya, baik budaya lokal maupun internasional.

Gus Dur dengan gaya kepemimpinanya yang unik sering disebut Ice Breaker karena kemampuanya dalam memecah ruang beku, atau ruang yang sacral, dimana hal ini dipengaruhi oleh kemampuanya dalam menciptakan lelucon-lelucon politiknya.

Dalam keadaan suasana negara yang demokratis seperti Indonesia, humor merupakan salah satu hal terpenting yang ada pada tekanan politik yang terjadi. Humor biasa digunakan untuk membebaskan diri dari beban tekanan serta tertawa menjadi sarana demokrasi yang paling ampuh untuk digunakan.

Dalam sebuah kata pengantar buku Humor Politik karya Milo Dor dan Reinhard Federman, Jaya Suprana menyatakan bahwa Humor biasanya tumbuh subur di suasana yang kontradiktif dan munafik, di mana realita tidak sesuai, bahkan bertolak belakang dengan apa yang diidamkan. Tak heran bila salah satu masalah yang kerap menjadi korban humor adalah politik. Karena suasana politik yang di luar tampak begitu anggun tetapi di dalam perutnya ternyata penuh akal-akalan busuk.

Sehingga, memahami Gus Dur tidak cukup hanya melihat sepak terjang dan maneuver politiknya yang kontrovesial. Perlu melihat track record serta jejak intelektual yang pernah digoreskanya. Menurut Barton Greg dalam bukunya Biografi Gus Dur, The Authorized Biography Of Abdurrahman Wahid, tidak bijak untuk meremehkan Gus Dur karena pada dirinya selalu terdapat sesuatu yang lebih dari apa yang kasat mata. Sehingga, dalam langkah mudah untuk memahami Gus Dur yaitu selalu mencoba mencari apa yang tersirat dari sesuatu yang tersurat.

Karir Politik Gus Dur

Gus Dur mengawali karir politiknya pada tahun 1984, dimana beliau ditunjuk secara aklamasi untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU. Pemilihan aklamasi tersebut dilakukan oleh tim ahlul halli wal ‘aqdi yang saat itu diketuai oleh KH. As’ad Syamsul Arifin pada Muktamar ke 27 NU di Pondok Pesantren Salafiyah, Sukorejo, Kabupaten Situbondo. Saat menjabat menjadi ketua umum PBNU, beliau memimpin selama lima belas tahun.

Puncak karir Gus Dur dalam dunia politik terjadi pada tahun 1999 dengan terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden Republik Indonesia yang k3-4 dalam voting tertutup pada siding paripurna MPR dengan diikuti oleh 691 anggota MPR. Gus Dur mengalahkan Megawati Soekarno Poetri dengan perbandingan 373 melawan 313, dengan 5 abstain.

Pejalanan politk dan kehidupan Gus Dur yang nyeleneh dan penuh kontroversial menjadi wasilah bagi Gus Dur untuk menyampaikan ide-idenya. Banyak persoalan yang bisa kita cermati dari kehidupan Gus Dur yang unik yang bisa menjadi harapan pada bangsa dan negara. Namun keunikan gaya kepemimpinaya menjadi petaka bagi beliau, Secara resmi pada tanggal 24 Juli 2001 beliau diturunkan dari kursi kepresidenan

Gus Dur, Teladan Rakyat dan Bangsa Indonesia

Gus Dur adalah sebuah bukti nyata bahwa kaum sarungan atau masyarakat Nahdliyyin bisa untuk melebarkan sayapnya di dunia lokal maupun internasional. Kaum sarungan yang biasanya hanya terperangkap dalam dunia pesantren atau dunia keislaman untuk bisa memahami ilmu yang lain, khusunya di bidang IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi). Sehingga, keteladanan kepada Gus Dur bisa dijadikan salah satu bentuk motivasi terhadap rakyat dan bangsa Indonesia.

Kepemimpinan Gus Dur yang sangat unik ini tak jarang memberikan angin segar terhadap pembaharuan dan harapan baru kepada masyarakat. Bapak Pluralisme yang selalu mengedepankan nilai-nilai humanisme ini menjadi salah satu ciri khas dan karakteristik kepemimpinan beliau. Sehingga, dari berbagai jenis dinamika kehidupan dan dunia perpolitikan Indonesia saat ini menjadikan beliau, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai sosok Sang Guru Bangsa.

Biodata Penulis

Muhammad Davan Fernanda atau yang biasa dikenal dengan sebutan Davan, itulah nama saya. Seorang pemuda yang lahir di Lamongan 19 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 17 Desember 2001. Seorang Alumni Pondok Pesantren Tebuireng yang kini menjadi mahasiswa dari Universitas Jember yang menempuh S1 Fisika ini berdomisili di Jl. Raung Mahameru No. A8 Sumbersari, Kabupaten Jember. Motto hidup dari Davan adalah “khoirunnas anfauhum linnas” yang menjadi semangat dalam  menjalani kehidupanya sebagai mahasiswa. untuk kenal lebih dekat dengan Davan bisa di cek di Instagram @davan.fernanda

 

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *