Forbidden face; Memoar Kelam Seorang Gadis di Bawah Taliban

“Kami bertiga menggunakan nama lain selama pergi, ke mana pun. Sejak sekarang, namaku menjadi Latifa. Nama yang tertera saat aku menandatangi kesaksian”

Memoar seorang gadis bernama Latifa adalah sebuah kisah pribadi yang mengilustrasikan konteks yang begitu luas mengenai situasi politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Afganistan di bawah kedudukan Taliban. Semua penindasan dan kekerasan yang dilakukan Taliban terhadap warga Afganistan sesaat setelah berakhirnya perang saudara, merupakan manifestasi penerapan hukum syariah pada saat itu.

Kisah dalam buku My Forbidden Face ini begitu kuat karena dituturkan dari sudut pandang perempuan sebagai pihak paling rentan menjadi korban dalam perang atau konflik. Latifa, seorang gadis yang bersedia memberikan kesaksian yang oleh karena itu pula ia harus menggunakan nama lain selama sisa hidup dan pada akhirnya harus bergabung dengan kelompok pengungsi di Perancis.

Gadis berusia enam belas tahun tersebut terdidik di bawah kekuasaan Uni Soviet, kemudian tumbuh selama pemerintahan komunis yang menggantikannya melalui empat tahun perang sipil, sebelum menemukan dirinya terpenjara oleh kekuasaan Taliban. Kekuasaan raksasa yang mencuri wajah perempuan karena dianggap terlarang.

Sebelum Taliban, sudah menjadi hal yang biasa bagi rumah-rumah di Afganistan dikepung roket yang sewaktu-waktu siap menjadikannya target. Setidaknya kehidupan masih normal ketika orang-orang masih bisa datang ke pertunjukan musik dan berdansa di bawah langit merah Afganistan. Kehidupan masih sangat normal ketika Latifa bisa melanjutkan studi, Soraya bekerja di Maskapai, dan Chakila menjadi jurnalis. Namun semua harus berubah ketika Taliban berhasil mengambil alih Jalalabad dan Kabul setelah menggantung Najibullah di lapangan Ariana.

Tahun 1996 Radio Syariah mengudara, mengumumkan bahwa Perdana Menteri dari petinggi negara yang beranggotakan enam orang Mullah telah memutuskan bahwa wilayah yang diduduki Taliban akan diatur berdasarkan hukum Islam. Hukum-hukum tersebut mengatur sampai hal-hal yang paling asasi seperti apa yang harus dikonsumsi, dikenakan, dan dilakukan. Pada saat itu pula tidak ada lagi kehendak yang bebas. Bagi kaum laki-laki, mereka harus memanjangkan jenggot dan perempuan-perempuan harus memakai burkak yang amat tertutup bahkan mengaburkan pandangan.

Senjata-senjata dilucuti, Anak-anak perempuan dan perempuan dewasa tidak diperbolehkan bekerja di luar rumah, seluruh perempuan yang meninggalkan rumah harus ditemani mahramnya, dilarang memakai setelan jas dan dasi, dilarang mendengarkan musik, dokter laki-laki tidak boleh merawat perempuan sakit, hukum tersebut sampai mengatur hal mendasar seperti tidak lagi diperbolehkan toko-toko menjual pakaian dalam wanita.

Terlihat jelas rezim baru Taliban mencoba menghilangkan perempuan saat itu. Pelayanan di bidang kesehatan dan administrasi menjadi tidak utuh sejak perempuan dilarang bekerja. Dokter-dokter perempuan tidak lagi dipekerjakan sedangkan dokter laki-laki tidak diperbolehkan merawat satu pun perempuan yang sakit. Demikian, perempuan dewasa tidak lagi mendapat akses kesahatan pun sekolah tidak lagi menjadi milik anak-anak perempuan. Janda-janda tidak lagi bisa keluar rumah dan tidak bekerja, beruntung bagi mereka yang punya anak laki-laki kecil bisa mengemis untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Siapa saja yang melanggar aturan akan mendapat hukuman dan dipertontonkan di lapangan umum untuk menakut-nakuti warga yang lain. Cambuk, potong tangan, hingga hukuman gantung. Taliban menyebarkan ketakutan dan berbagai tindakan kekerasan dengan cukup mengumumkan bahwa mereka tengah menegakkan hukum Islam seperti yang tertera di dalam Quran. Nyatanya, merka hanya menggunakan Quran sebagai alat untuk memenuhi kekuasaannya.

Pernah suatu ketika seorang perempuan datang ke rumah Latifa. Setelah ia membuka burkak, terlihat bengkak disekujur tubuh. Rupanya perempuan tersebut telah dicambuk oleh Taliban karena berpergian seorang diri tanpa mahram. Taliban tidak peduli bagaimana ayah perempuan itu terbunuh di sebuah peretmpuran Tahun 1994, ia tidak bersuami, tak punya saudara laki-laki, dan tak punya anak laki-laki untuk menemaninya berpergian.

Ibu Latifa memang seorang dokter, membuka praktik secara diam-diam di apartemen keluarganya. Latifa menyaksikan bagaimana perempuan-perempuan malang dengan luka sekujur tubuh mendatangi apartemennya. Tiga orang gadis selama lima belas tahun menjadi sandera dan diserang oleh Taliban kemudian diperkosa secara bergilir. Tidak hanya itu saja, mereka dengan kejam memotong kelamin ketiga gadis tersebut.

Dengan mengusahakan peralatan medis secara diam-diam, ibu Latifa terus membuka praktik rahasianya. Pernah pada akhirnya ia harus menolak pasien karena tidak lagi memiliki obat dan alat medis. Ia tahu betul kapan pasien yang datang kerumahnya itu akan mengalami komplikasi lantas mati karena tidak segera diobati. Seharusnya perempuan pesakitan itu membutuhkan sebuah obat seharga 1.200.000 Afghani, obat murah dan gampang didapatkan bagi dokter perempuan sebelum Taliban datang.

Lalu bagaimana dengan pendidikan? Tentu saja hanya bocah-bocah lelaki yang boleh datang dan tidak ada guru perempuan. Jika ibu si bocah adalah seorang janda, maka lupakan pendidikan selamanya. Anak-anak lelakinya harus membantu mencari uang dengan cara menjual apa saja yang mereka mampu di jalanan, tak sedikit yang mengemis. Bagi para janda yang disingkirkan oleh sistem itu, seorang anak laki-laki adalah alat untuk bertahan hidup.

Pemiskinan pendidikan tak cukup sampai pada masalah gender. Seorang Mullah akan memberi pengajaran Quran sesuai versi Taliban di dalam masjid-masjid. Tentu saja pendidikan agama sangat penting namun bocah-bocah itu hanya dipaksa menirukan hal-hal yang dianggap benar oleh Taliban. Tidak ada pengetahuan-pengetahuan lain yang diajarkan selain agama.

Latifa dan Soraya berpikir untuk membuat sekolah rahasia seperti yang pernah dibuat oleh Bu Guru Fauzia. Mantan guru dua gadis itu telah tertangkap basah Taliban saat tengah mengajar di kelas rahasia. Bu Fauziah dilemparkan ke bawah tangga bangunan tempat tinggalnya sedemikian kuat sehingga kakinya patah. Setelah itu Taliban memaksanya menandatangani sebuah pernyataan untuk tidak mengadakan pengajaran lagi.

Bu Fauziah tahu apa yang dilakukannya teramat berisiko. Anak-anak yang datang ke rumahnya untuk belajar, tidak datang secara bersamaan, juga tidak pulang secara bersamaan. Mereka tidak membawa apapun, buku-buku ditinggal dan disembunyikan di rumah Bu Fauzia. Tidak ada hukum yang dilanggar yang dapat terlihat dari luar, hanya saja Bu Fauzia dikhianati tetangganya yang sedang menjilat Taliban.

Kekaguman Latifa dan Soraya kepada Bu Fauzia membuat mereka memutuskan untuk meneruskan apa yang telah dirancang oleh mantan gurunya tersebut. Melalui sebuah surat, Latifa mencoba memperoleh kurikulum dari Bu Fauzia. Bersama Soraya, Farida, dan teman-teman sekolahnya dulu, Latifa memulai sekolah rahasia. Masing-masing mereka mengajarkan pengetahuan yang berbeda-beda dengan tempat yang berpencar-pencar. Seperti yang telah dilakukan Bu Fauziah, anak-anak datang bergiliran dan pulang bergiliran. Buku-buku disembunyikan di rumah masing-masing pengajar.

Tahun 2001, menteri kesehatan Mullah Abbas mengadakan kunjungan ke Paris untuk membahas isu-isu kemanusiaan. “Taliban yang membuat perempuan kehilangan akses kesehatan berani membahas kemanusiaan di rumah Hak Asasi Manusia!” Latifa teramat geram. Pada saat itu juga, dr.Sima yang juga menjalankan praktik secara diam-diam, memberikann tawaran untuk kepada Latifa untuk memberikan kesaksiannya tentang Afganistan kepada seorang jurnalis majalah Elle di Paris.

Latifa, ibunya, dan Diba berangkat mewakili wanita untuk bersuara tentang ketertindasan perempuan dan sekolah-sekolah rahasia yang mereka dirikan, sementara laki-laki bicara soal Politik. Tiga perempuan yang berangkat ke Paris secara diam-diam itu ditemani oleh Ayah Latifa. Keluarga Latifa meninggalkan Soraya dan Daud di rumahnya. Di situlah awal perpisahan keluarga mereka.

Pada saat melakukan kesaksian, ketiga perempuan tersebut menggunakan nama samaran mereka yang sampai saat ini kita kenal dengan nama tersebut. Taliban memang tidak tahu siapa ketiga perempuan yang bersaksi tersebut namun setelah mengetahui adanya kesaksian di Paris, Taliban berjanji akan membunuh mereka ketika kembali ke Afghanistan.

Rumah Latifa dibakar. Daud dan Soraya pergi ke Pakistan. Latifah adalah anak terakhir yang bersama ayah ibunya menjadi pengungsi di Perancis. Satu kakaknya berada di Rusia dan satu lainnya berada di Amerika. Mereka adalah keluarga menengah ke atas, penderitaan mungkin tidak sebanding dengan masyarakat menengah ke bawah, namun transfer kuasa yang dilakukan telah menggadaikan hidup normal yang mereka miliki.

Daud, Kakak Latifa, yang kemudian membuat saya tergelitik untuk menjadi tangan panjang mengulas ulang buku ini ketika ia berkata “semua orang di dunia luar telah lupa akan keberadaan Kabul. Mereka bahkan tidak tahu di mana letak Afghanistan. Aku yakin mereka tidak percaya apa yang sedang terjadi di sini. Mereka tak ada urusan dengan ini.”

Kesaksian Latifa memang diterima dengan baik di Perancis namun ia merasa kesaksiannya tidak membawa kebaikan bagi Afghanistan. Justru ia tidak lagi bisa kembali ke sana. Namun puncaknya ayah Latifa menutupnya dengan sempurna, ia berujar “kata-kata tak pernah hilang di gurun. Suatu hari mereka akan mengakar dan berbunga. Kau tidak akan sia-sia. Percayalah, perempuan mendengarkan perempuan lain. Kesaksianmu akan membuat orang di sini paham apa yang dilakukan Taliban terhadap kita.” Semoga memang benar, perempuan akan mendengarkan perempuan lain.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *