Dimanakah Kemenangan? Pelajaran Covid-19 Dari Milan

Bagi Anda yang pernah mengunjungi Italy, Anda pasti masih terkenang dengan keindahan kota Milan atau Milano. Dari namanya saja diketahui bahwa Milan adalah kota yang memang indah dan membuat baper siapa pun yang mengunjunginya. Menjadi kota mode dunia dengan segala daya tariknya telah membawa Milan sebagai salah satu tujuan utama destinasi wisata. Romantisnya La Scala tempat berkumpulnya komponis dan penyanyi opera berkelas dunia, keindahan The Cimitero Monumentale, museum terbuka dari pematung-pematung kenamaan Italia, di mana beberapa karya terbaik dari semua pematung utama Italia abad ke-19 dan ke-20 dapat dilihat di sini, di samping Katedral Il Duomo yang konon dibangun berabad-abad setelah restorasi terakhir yang berpenampilan anggun dan memesona.

Berbagai keindahan yang dimiliki kota yang menjadi rumah bagi club sepak bola besar ternama A.C Milan ini membuat Milan percaya diri menjuluki kotanya sebagai kota yang cantik. Sampai akhirnya virus Covid-19 menginfeksi penduduk kota Codogno, Lombardy pada awal Medio Januari 2020. Sejak pandemi virus yang awalnya diduga mewabah di Lombardy ini, para ilmuwan Italy kemudian melakukan riset secara intensif. Siapa sebenarnya “patient zero” yang pertama kali terinfeksi di Italia. Apakah dia berasal dari Milan? Ataukah dari Contogno, Lombardy? Dan dari manakah transmisi pertama kali virus itu memasuki negara mereka apakah dari turis China yang memasuki Italy pada awal Januarian ataukah dari pengusaha Munich, Jerman yang mempunyai kolega bisnis di Milan? Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Sesudah dilakukan penelitian ekstensif terhadap transmisi virus di Italy yang merupakan negara terparah serangan virus Covid-19 di Eropa para ilmuwan Italy menyampaikan beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita; pertama, paska kasus virus pertama merebak di Italy, para ilmuwan Italy melakukan riset mendalam mengenai genetic squencing dari virus yang mereka temukan di Italy yang ternyata mempunyai kesamaan genetik dengan apa yang mereka temukan pada pasien Covid-19 di Munich, Jerman, pada tanggal 19-22 Januari lalu sebagaimana disampaikan oleh Massioma Galli, ketua periset dari Infectious disease departement Sacco Hospital, Milan.

Pasien Covid-19 di Munich yang mempunyai kesamaan genetic squencing yang sama dengan yang ditemukan di Italy ini menderita gejala batuk sesudah melakukan kontak dengan seseorang yang melakukan perjalanan bisnis ke Shanghai, China. Karenanya, salah satu hal yang membuat parahnya Covid-19 di Italy adalah keterlambatan pemerintah dalam merespon penyebaran virus ini.

Para ahli virus (virologi) di Italy menyakini sebenarnya virus sudah memasuki Italy jauh sebelum Italy menemukan “zero patient” mereka dan mempertimbangkan untuk menunda semua penerbangan dari dan menuju China di akhir bulan Januari lalu. Artinya, “zero patient” di Italy sebenarnya sudah lama melakukan interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat namun karena “zero patient” ini mempunyai low symptom dia tidak menyadari kalau dia adalah The Carrier atau pembawa virus yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Italy.

Pemerintah Italy dalam hal ini telah mengambil kesimpulan terlalu prematur dengan mengatakan bahwa Mattia, 38 tahun pasien dari Condogno yang pernah dirawat di Van Mattio Hospital, Pavia, adalah “zero patient” penderita Covid-19 di Italy. Padahal jauh sebelum Mattia terpapar virus Covid-19 penyebaran virus ini diduga sudah berlangsung lebih dari dua atau tiga minggu sebelumnya dan menginfeksi pasien-pasien lain yang mempunyai gejala rendah (low symptom).

Kedua, pelajaran berharga dari kegagalan Italy dalam menangani pandemi virus adalah, ketika pemerintah mulai merespon Covid-19, terjadi skeptisme (keraguan) baik dilingkaran elit politik pemerintah maupun di tengah masyarakat. Mereka tidak all out. Tidak sepenuh hati. Walaupun saat itu para ilmuwan sudah memperingatakan pemerintah mengenai bahayanya pandemi ini dan kecepatan transmisinya apabila tidak dilakukan intervensi keras, strategis dan komprehensif. Namun, masukan-masukan para ilmuwan itu tidak begitu diindahkan oleh elit-elit Italy yang memegang kebijakan di sana. Sehingga wabah virus Covid-19 menjadi pandemi nasional dan telah menghancurkan negara itu seperti kehancuran yang pernah mereka alami ketika perang dunia ke II. Padahal cara paling efektif dalam memerangi virus covid-19 adalah dengan melakukan pencegahan penyebaran virus jauh sebelum virus itu meluas ke berbagai wilayah bahkan lebih sempurna lagi apabila pemerintah sudah melakukan pencegahan jauh sebelum ditemukan zero patient di negara mereka.

Ketiga, pendekatan parsial dalam menyelesaikan Covid-19 yang dilakukan Italy terbukti gagal dalam menghentikan transmisi virus. Diperlukan pendekatan komprehensif atau menyeluruh. Dalam merespon pandemi virus, pemerintah Italy mengeluarkan sejumlah dekrit presiden secara gradual yang kemudian bermuara pada lock down secara nasional ketika Covid-19 sudah menjadi pandemi nasional. Namun banyak pihak yang menyayangkan banyaknya dekrit yang dikeluarkan oleh presiden seakan presiden mengabaikan berbagai masukan dan terkesan menunggu transmisi virus ini meluas sebelum akhirnya melakukan lock down. Bahkan sebagian politisi atas nama menjaga stabilitas ekonomi, mereka melakukan jabat tangan di Milan akhir Pebruari kemarin sambil mengatakan agar masyarakat Italy tidak panik dalam menghadapi pandemi ini. Beberapa minggu kemudian salah satu di antara politisi itu terinfeksi virus Covid-19.

Keempat, kesalahan besar dari masyarakat Milan adalah mereka tidak disiplin dan sangat longgar dalam interaksi sosial. Mereka sama sekali tidak menerapkan social distancing atau physical distancing. Ketika aparat kepolisian melakukan patroli untuk membubarkan kerumunan masyarakat guna memutus mata rantai transmisi Covid-19, masyarakat Italy menganggap pemerintah terlalu paranoid seperti di filem Contagion, besutan sutradara Hollywod yang mirip dengan pandemi Covid-19. Sehingga tidak heran dalam seminggu jumlah penderita baru Covid-19 masih ribuan. Rata-rata penambahan kasus Covid-19 perhari di Italy di atas 1000 begitu pun yang meninggalnya. Ini menjadikan Italy sebagai negara yang menjadi episentrum terbesar pandemi Covid-19 setelah di Eropa.

Penambahan kasus positif Virus Covid-19 setiap harinya kini telah membuat Milan lumpuh. Kelumpuhan Milan inilah yang kini telah membuat Italy ikut lumpuh. Memimpin sebuah negara yang lumpuh dihantam virus, Sergio Matarella, Presiden Italy mengatakan bahwa di masa perang dunia kedua, Italy pernah runtuh akibat Pemimpin Republik Sosial Italy, Benitto Musolini bersekutu dengan pemimpin Nazi Jermah Adolf Hitler untuk melawan sekutu dan membawa Italy pada peperangan panjang sehingga menghancurkan Italy. Paska peperangan usai Milan menjadi penggerak rekonstruksi kembali Italy pada masa itu dan bersama Milan kita akan sukses kembali membangun negeri ini.

Milan, Turin dan Genoa selama ini memang menjadi tiga kota utama yang menyumbangkan devisa negara yang besar dengan industri mobil Fiat 500, motor Fiagio Scooter, dan pabrik Ban Pirelli dan lain-lain. Dari tiga kota ini, khususnya Milan kebangkitan ekonomi Italy paska Covid-19 akan tumbuh. Sukses dan tidaknya Italy ke depan bergantung sukses dan tidaknya Italy mengatasi pandemi virus di kota Milan yang sudah sebulan lebih di lock down ini.

Di tengah tekanan, kepanikan dan frustrasi warganya akibat serangan Covid-19 yang menakutkan, pemerintah berusaha membangun solidaritas dan menghidupkan kembali semangat masyarakatnya dengan mengudarakan lagu-lagu kebangsaan Italy; Le Porga La Chiaoma (Biarkan ia Tunduk), Dove’ La Vittoria? (Dimanakah Kemenangan) dan I’itallia Se desta (Italia Telah Bangkit). Setiap hari di saat lagu-lagu kebangsaanya disenandungkan penduduk Italy keluar dari balkon, membuka jendela atau atap rumah mereka masing-masing dengan membawa vianika, gitar, dan beragam alat musik lainnya. Mereka bernyanyi, tersenyum haru dan tidak sedikit yang menitikkan air mata sambil mereka menyenandungkan lagu kebangsaan mereka secara bersama-sama.

Sudah lebih dari satu bulan 10 juta penduduk Milan dan daerah yang mengitari Lambordy dikarantina oleh pemerintah akibat pandemi Covid-19. Bagi Itally me-lock down kota Milan adalah pilihan yng sangat pahit. Milan merupakan pusat bisnis, jantung perpuataran keuangan nasional, pusat mode, markas pembuatan manufaktur Italy, destinasi jutaan wisatawan setiap tahunnya, disamping Milan mempunyai tanah yang subur yang menjadi pemasok kebutuhan buah dan sayur-mayur untuk negara itu. Bahasa sederhananya, nasib Italy sangat bergantung sekali bagaimana kesuksesan Italy menyelamatkan Milan yang merupakan mesin ekonomi negara itu dan Milan Won’t Give up, Milan tidak akan menyerah! ****

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *