Digitalisasi Literasi Sebagai Metode Dakwah di Era Globalisasi Untuk Mewujudkan Li Izzati Islam Wal Muslimin

Oleh: Muhammad Davan Fernanda*

Dakwah adalah kewajiban semua kaum muslimin, sebagaimana kita mengajak kearah kebaikan, menjauhi kemungkaran dan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Dalam kondisi apapun, aktivitas dakwah harus tetap dilaksanakan. Perubahan zaman yang semakin modern menjadi salah satu bentuk tantangan kita dalam menjalankan aktivitas dakwah.

Sehingga, adanya digitalisasi literasi menjadi salah satu bentuk langkah kongkret untuk mewujudkan li izzati islam wal muslimin (kejayan islam dan kaum muslimin).

 

Budaya Literasi dan Peranya dalam Kehidupan

Secara etimologi, istilah literasi berasal dari bahasa latin yaitu literatus, yang berarti orang belajar. Menurut (Nur Widayani dkk, 2016), literasi diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam baca tulis dan kecakapan mengolah tulisan dan bacaan, sehingga literasi menjadi kebutuhan individu masing-masing.

Kemampuan literasi wajib dimiliki oleh setiap orang, sebagaimana dalam Al-Qur’an ayat yang pertama turun ialah dalam surat Al-Alaq yaitu iqro’ atau bacalah. Dalam ayat tersebut, secara tersirat Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk belajar mengenai literasi, yang mana dalam belajar tidak mengenal waktu dan tempat.

Pengertian literasi berkembang sejalan dengan perubahan zaman yang modern, sehingga sekarang literasi memiliki arti luas. Dalam era Globalisasi, literasi bukanlah hanya menyangkut kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan atau ilmu yang melek teknologi, politik, berpikritis dan peduli lingkungan sekitar adalah contoh bentuk literasi.

Sehingga, literasi memiliki peran penting dalam perkembangan individu di segala bidang kehidupan. Seiring dengan adanya era globalisasi dan revolusi industry 4.0 yang menjadikan digitalisasi dalam segala aspek kehidupan, maka salah satu bentuk literasi yang harus dikembangkan dan dimiliki oleh setiap orang adalah digital literasi.

 

Digitalisasi Literasi

Seiring dengan perkembangan arus informasi dan komunikasi, yang dibersamaan dengan pesatnya teknologi menjadi tantangan baru dalam mengembangkan literasi.

Di tengah pusaran globalisasi dan era revolusi industry 4.0 , memberikan perubahan perilaku seluruh umat manusia. Perubah-perubahan perilaku ini juga berpengaruh terhadap konsep literasi. Salah satu bentuk konsep literasi di era kemudahan dalam mengakses internet dan informasi adalah kemampuan dalam digitalisasi literasi.

Internet sebagai salah satu hasil peradaban manusia dalam era revolusi industry 4.0 memberikan pengaruh baru terhadap perilaku kehidupan manusia. Tetapi pada kenyataanya, internet tidak selalu memberikan dampak positif, akan tetapi dampak negative yang dihasilkan juga sangatlah tinggi.

Di zaman digital ini, jumlah informasi semakin cepat untuk didapat, sehingga banyak informasi yang cenderung untuk tidak terkontrol. Sehingga nantinya untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalisir dampak negative, maka diperlukan inovasi baru terhadap konsep digitalisasi, termasuk dalam konsep literasi digital.

Hal ini menjadi salah satu hal yang berisfat sangat mendesak, karena semakin berkembangnya zaman serta tantangan teknologi informasi dan komunikasi yang baru harus dikontrol dengan inovasi-inovasi yang baru.

Generasi muda di era sekarang atau yang dikenal dengan generasi millennial ini telah begitu akrab dengan kehidupan dunia digital. Dimana mereka belajar, bermain dan bersosialisasi menggunakan media internet.

Sebagai seorang digital native tersebut, mereka memiliki kemampuan yang kurang terhadap literasi digital sehingga mereka tidak memiliki kepekaan dalam menyaring konten-konten yang ada di internet yang berimbas pada kesulitanya untuk menerimanya sebagai informasi.

Media massa dan media sosial adalah contoh terbesar media yang digunakan untuk menyebarkan berbagai informasi baik itu berita, pendidikan maupun hiburan kepada khalayak. Fungsi adanya media tersebut bertujuan untuk memberikan informasi, mendidik, membentuk opini atau pendapat dan untuk menghibur.

Namun, pada kenyataanya media massa dan media sosial dapat berkembang dengan dominan fungsinya hanya untuk menghibur, oleh karena itu perlunya peningkatkan kemampuan dalam hal literasi digital.

Literasi digital yang kian popular dan digemari oleh kaum milenial ini dapat digunakan sebagai wasilah untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu agama. Berdakwah melalui literasi digital sebagai jawaban atas adanya tantangan perkembangan zaman.

Sehingga dakwah dan menyebarkan ilmu agama dapat lebih mudah lewat literasi digital dan mudah diterima oleh sebagai umat manusia, khusunya kaum milenial.

 

Kewajiban dan Tantangan Berdakwah di Era Globalisasi

Dakwah adalah aktivas menyebarluaskan dan mengedukasi tentang agama islam yang menjadi kewajiban bagi setiap kaum muslimin. Sesuai dengan perintah Allah dalam surat Ali-Imran ayat ke 110, Kuntum khaira ummatin ukhrijat li-nnaasi ta’muruuna bil ma’ruufi watanhauna ‘anil munkari watu’minuuna billahi walau aamana ahlul kitaabi lakaana khairan lahum minhumul mu’minuuna wa-aktsaruhumul faasiquun(a);yang artinyaKamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

Di era globalisasi ini, dakwah harus tetap digecarkan karena ada banyak dampak negative yang terjadi era globaliasi dan sekaligus menjadi tantangan dakwah, antara lain:

  1. Zaman globalisasi memiliki kecenderungan maddiyah (materialism).
  2. Perubahan pola perilaku masyarakat yang mengedepankan sikap invidualis dan meninggalkan kehidupan kolektif, kebersamaan dan gotong royong.
  3. Maraknya sekulerisme yang memisahkan urusan agaman dengan urusan masyarakat, karena beranggapan bahwasanya agama hanya urusan invidu masing-masing.
  4. Dan munculnya kelonggaran atau relativitas terhadap norma-norma etika, moral dan akhlak, sehingga munculnya suatu konteks permasalahan yang dilandaskan dengan musyaroqah atau konstruksi sosial tanpa menelisik hokum-hukum agama terlebih dahulu.

Perkembangan zaman globalisasi ini menjadikan bahaya yang terjadi di zaman ini bukanlah bencana atau ledakan bom besar, namun adanya bahaya yang akan dihadapai yaitu maraknya fitnah yang terjadi di masyarakat.

Banyak kasus yang bathil yang terjadi di era sekarang ini, misalnya pergaulan bebas, miras, narkoba dan banyak kasus yang dilakukan atas dasar kebebasan pribadi yang tidak lagi mengindahkan nilai-nilai agama.

Sehingga, dakwah di era sekarang ini sangat wajib dilakukan dan nilai-nilai negative tersebut harus dinetralisir dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam yang sangat menekankan keseimbangan kehidupan.

Salah satu bentuk dakwah di era globalisasi dengan kemajuan teknologi yaitu dengan diogitalisasi literasi. Dimana hal tersebut menyesuaikan terhadap pola perilaku masyarakat saat ini, sehingga ilmu-ilmu agama yang diajarkan dapat diterima secara baik dan mudah oleh khalayak.

 

Digitalisasi Dakwah di Era Globalisasi

Era globalisasi seakan tidak bisa dibendung lajunya dalam memasuki setiap sudut kehiduapn dan mejadi sebuah keniscayaan pergaulan dunia saat ini. Maka dari itu, perlu adanya inovasi-inovasi yang memberikan suatu metode baru untuk menjalankan proses dakwah dan menyebarkan agama Islam.

Hal ini sesuai dengan metode dakwah yang dilakukan oleh Walisongo dengan melakukan pendekatan-pendekatan humanism di era sekarang ini, yaitu dengan digitalisasi literasi. Berbagai macam konsep digitalisasi literasi dalam hal dakwah yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan nilai-nilai keIslaman, antara lain:

 

  1. Dakwah bil Medsos

Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Tundan Jogjakarta, Gus Miftah Maulana Habiburrohman pernah berkata “Di zaman akhir seperti ini, dakwah yang paling penting dan relevan dengan situasi saat ini adalah bil medsos atau dengan media sosial”.

Beliau bahkan bercerita bahwa beliau sering kedatangan tamu untuk masuk islam karena melihat dakwah-dakwah beliau di media sosial, seperti di Instagram, Facebook dll.

Dakwah dengan media sosial ini bisa dimaksimalkan dengan memberikan infograsi tentang hokum-hukum islam, quotes ulama atau sufi dan memaksimalkan video-video dakwah para ulama.

Selain itu, masyarakat yang terbiasa menggunakan media sosial untuk hiburan juga harus diberikan pencerahan tentang siraman-siraman atau dawuh para ulama. Lewat video para ulama dan ustadz ketika ngaji tersebut bisa di bagikan dan semua umat islam bisa mendapat akses untuk melihat video-video atau foto yang berisikan dakwah Islam.

 

  1. Ustadz Millenial

Istilah ini adalah sebuah istilah baru yang menyesuaikan kondisi zaman saat ini, dimana para pendakwah baik ulama atau ustadz dituntuk untuk melek teknologi. Sehingga, mereka dapat memberikan ilmu-ilmu terhadap umat Islam lewat teknologi.

 

  1. Dakwah lewat media enterntaint (Dakwahtainment)

Keunggulan teknologi industry saat ini sudah sangat efisien, sehingga mampu menghasilkan alat-alat informasi atau media komunikasi dalam waktu yang singkat, maka tak heran dunia entertainment berkembang cukup pesat.

Hal tersebut belum dibarengi dengan tontonan yang mengedukasi dan mendidik untuk masyarakat. Banyak media entertainment yang dominan memiliki dampak negative disbanding dampak positif didalamnya. Maka diperlukan media dakwahtainment untuk memperbaiki moral masyarakat serta memberikan tontonan sebagai teladan terhadap khalayak.

Dakwahtainment sebagai inovasi dakwah menjadi kebutuhan kaum muslim di era globalisasi saat ini. Sebagian masyarakat sangat menikmati media entertainment, mulai dari televisi hingga film-film yang beredar. Sehingga dakwah yang berusaha untuk membimbing umatnya agar memiliki kesadaran dan melaksankan perintah Allah SWT dan menjauhi laranganya.

Hal ini bisa dilaksankan dengan dakwahtaintment yang merupakan dakwah menggunakan media televisi atau film. Nilai-nilai keislaman bisa dimasukkan dalam pembuatan acara televisi serta pembuatan film, atau bahkan mengadakan pengajian yang live atau langsung yang bernuansa agama dalam bingkai dakwah satu arah maupun dakwah interaktif.

 

  1. Dakwah lewat media massa Internet

Salah satu media massa internet yang dapat digunakan sebagai sarana dakwah adalah blog. Blog merupakan aplikasi yang sudah lama dalam internet. Disebut sebagai website pribadi. Dalam blog bisa dituliskan catatan atau artikel pengunjung yang dapat membaca artikel tersebut dan sekaligus memberi komentar.

Fenomena dakwah blog memang sedang digencarkan dengan dipenuhinya konten-konten Islami yang dapat dijadikan referensi masyarakat untuk mencari informasi mengenai keagamaan. Namun, untuk menulis di media massa diperlukan konsistensi untuk memberikan pencerahan kepada umat khususnya terhadap isu-isu yang sedang dihadapi.

Dengan demikian, dakwah harus tetap dilaksanakan. Meski zaman berubah dan kian berkembang, kegiatan dakwah tetap harus dilaksanakan.

Sebagaimana apa yang dilaksanakan oleh walisongo, dakwah yang menjunjung tinggi pendekatane humanism lebih mudah untuk diterima di masyarakat, perlunya adaptasi terhadap apa saja yang terjadi di era sekarang ini. Dakwah juga harus menyesuaikan pola perilaku masyarakat untuk memberikan pengetahuan tentang yang haq dan yang bathil.

 

*Muhammad Davan Fernanda atau yang biasa dikenal dengan sebutan Davan, itulah nama saya. Seorang pemuda yang lahir di Lamongan 19 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 17 Desember 2001. Seorang Alumni Pondok Pesantren Tebuireng yang kini menjadi mahasiswa dari Universitas Jember yang menempuh S1 Fisika ini berdomisili di Jl. Raung Mahameru No. A8 Sumbersari, Kabupaten Jember. Motto hidup dari Davan adalah “khoirunnas anfauhum linnas” yang menjadi semangat dalam  menjalani kehidupanya sebagai mahasiswa. untuk kenal lebih dekat dengan Davan bisa di cek di Instagram @davan.fernanda