Corona dan Jihad melawan Takdir

Oleh : MS Ulil Absor

Bukan suatu yang mainstream jika satu sampai dua tahun kebelakang corona virus masih menjadi tranding topik dalam kancah lokal hingga internasional. Begitu cepatnya penyebaran visrus ini, menyerang siapa saja tak pandang bulu dari usia anak-anak hingga orang tua. Pun berita kematian yang selalu mengiringi bagai sepasang sandal selau berjalan bersandingan saling menyusul satu sama lain.

Sebagai insan yang bertaqwa kita hendaknya selalu mendekatkan diri kepada sang Pencipta, bersyukur dan bertafakkur tiada henti atas berkat rahmatnya, yang hingga kini masih diberi kenikmatan sehat pun kenikmatan setelah sembuh bagi yang usai terkena penyakit pandemi ini. Bermuhasabah terkait pola kehidupan yang dijalani, semoga pandemi lekas berakhir.

Sesuatu kejadian musibah pandemi seperti ini marilah kita ambil sudut pandang keilmuan yang berkaitan dengan takdir. Yang setiap hari kita mendapat berita kematian akibat virus corona ini baik dari media cetak, elektronik maupun kabar lingkungan sekitar.

Virus Corona adalah salah satu anugrah yang diberikan Tuhan kepada hambanya yang bertaqwa, sebagaimana satu mahkluq ini yang banyak menghadirkan ilmuan-ilmuan baru, menciptakan suatu tatanan masyarakat yang baru, suatu konsep gagasan kebersihan yang kian santer dipromosikan.

Tapi bagaimana jika virus corona ini sendiri adalah jalan Tuhan untuk menyadarkan ummatnya akan kebesaran kuasanya. Virus corona adalah musuh semua manusia saat ini, disaat ini pula Tuhan mengajarkan pada ummatnya bahwa antara kehidupan dan kematian adalah sesuatu yang sangat berdekatan.

Ujian berat (bala’) selalu ada di tiap zamannya, sejak zaman Nabi hingga saat ini, kita tak boleh luput dari keniscayaan tersebut. Kita sebagai manuia hendaknya menyadari bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman didunia ini untuk menghidari virus corona itu sendiri karena sesungguhnya dimanapun tempat didunia ini adalah aman selagi kita sebagai manusia menyadari bahwa kita bernaung dibawah lindungan Sang Penyelamat. Betapa salahnya kita memandang jika kematian berkeliaran akibat hanya dari bala’ Virus Corona. Sebab tak ada dalil yang mengatakan Sang Maut bersemayam didalam partikel kecil ini, untuk memangsa setiap orang yang terpapar. Karena kita sudah terlena dalam kebiasaan masyarakat saat ini bahwa Virus Corona sama dengan Sang Kematian dan menafikkan pada Sang Kehidupan.

Sejenak kita bergeming atas kejadian ini, karena tak dapat dipungkiri sudah banyak dari keluarga, teman, tetangga dan banyak orang yang yang terpapar, dari kasus gejala ringan hingga kematian. Semakin kita takut untuk menghadapi pandemi ini bukan kita semakin dekat dengan Tuhan kita, justru dalam kondisi seperti inilah Ketika ketakutan datang maka kesempatan kita untuk semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta semakin terbuka lebar, merasakan gejolak dimasyarakat, kita semakin sering untuk bertaubat atas kesalahan-kesalahan kita terdahulu, bermuhasabah, menyelami hakikat kita sebagai manusia dalam kesenderiannya, serta memperbanyak rasa syukur karena masih diberikan kesempatan-kesempatan lainnya. Tidak menjadi pengecut yang terbuai dalam ketakutan, pun tidak menyepelekan kejadian yang nyata ini disiekitar kita, karena sesungguhnya tiada ketakutan menghadapi apapun jika kita menyadari diri kita ini adalah kefanaan dari Tuhan itu sendiri. Kita akan terus belajar bahwa dimanapun dan kapanpun kita berada selama kita masih dalam alam dunia kita selalu diliputi oleh kematian dan kehidupan. Tidak ada yang menjamin kita Ketika kita terpapar virus akan lebih cepat mati. Juga sebaliknya, tidak ada yang menjamin bahwa Ketika kita tidak terpapar oleh virus usia kita masih Panjang.

Manusia hidup memang punya riwayat yang Panjang dan berlika-liku, namun adakalanya Riwayat manusia yang pendek dan tidak bersambung sebagaimana kisah beberapa orang disekitar kita yang meninggal dengan wasilah Virus Corona ini. Ya, itulah kebersambungan Riwayat orang-orang yang meninggal mendahului kita bahkan mungkin sejatinya sudah menemukan kehidupan sesungguhnya yang terlepas dari kefanaan duniawi. Kita hanya bisa membayangkan betapa berat perjalanan kita yang masih hidup di dunia ini, terikat dengan berbagai aturan dan masalah pelik, terkungkung pada hal-hal indrawi.

Sekalipun kita tak bisa lepas dari perasaan sedih terhadap gejolak yang berkembang, kita harus tetap optimis dan berfikir positiv untuk bisa melewati masa-masa sulit seperti ini, karena masih banyaknya tugas kita sebagai khalifah fil ardh. Bayangan akan turunnya keajaiban yang akan menumpas segala kepelikan yang terjadi. Melihat matahari dari timur dengan damai, dan menutup catatan harian kala senja menyapa. Menarik nafas dengan panjang dengan kedudukan jiwa yang tenang kemabali pada kehidupan normal sebelum pandemi terjadi.

Pada akhirnya, hanya jiwa pasrahlah yang mampu menolong diri kita, setelah kita berjihad melalui jalan protokol Kesehatan, sudah kepalang tanggung kita hidup sejauh ini jika hanya dibayang-bayangi rasa takut, penyesalan dan menyalahkan banyak pihak.

Sekian.

*MS Ulil Absor ( Santri PP Kreatif Baitul Kilmah Pajangan Bantul Yogyakarta )

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *